Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengungkapkan empat bidang kehidupan yang masih mengalami kesenjangan gender alias gender gap. Gender gap yang pertama, kata dia, yakni economy empowerment.
Saat ini, masih banyak perempuan yang kesulitan mendapatkan pinjaman modal, terutama dari perbankan. Ketika perempuan mau memijam dari perbankan, dia harus memberikan jaminan, yang biasanya berupa sertifikat aset keuangan.
Sayangnya kebanyakan perempuan tidak memiliki aset atas nama dirinya sendiri. Aset keuangan yang dimiliki sebuah keluarga, biasanya menggunakan nama suami maupun nama anak laki-laki mereka.
"Aset modal juga perlu kapasitas, edukasi skill, management, leadership. Itu penting. Begitu tahu ada perusahaan pemilik perempuan, bank mempertanyakan kapasitasnya. Dia tidak lihat neracanya. Itu sesuatu yang tidak menguntungkan," kata dia, dalam Rakornas Pembangunan PP PA, dengan tema 'Kesetaraan Gender dalam Memperkuat Perekonomian Sebuah Bangsa', di ICE BSD, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (24/4).
Hal inilah yang mendorong pemerintah untuk menjalankan program KUR (Kredit Usaha Rakyat), Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar), dan sebagainya. Menurut dia, kelompok masyarakat yang memanfaatkan program tersebut kebanyakan adalah perempuan.
"Ini semua basisnya perempuan dengan skala kecil menengah. Ada subsidi bunga. Ini diharap mampu memberi ruang bagi perempuan," lanjut dia.
Gender gap yang kedua ialah pendidikan. Perempuan, kata dia, terkadang tidak mendapatkan kesempatan yang sama dengan untuk mengenyam pendidikan. "Makanya pemerintah atasi dengan PKH. Keluarga miskin diberi tambahan income cash sehingga tidak ada alasan anak perempuanya tidak bisa sekolah. Ada, beasiswa."
"PKH menyangkut 10 juta keluarga. Bantuan nontunai beras capai 15 juta keluarga. Mereka-mereka ini harus dipantau jangan sampai anak perempuannya dapat kesempatan beda dari anak laki-laki karena ekonomi," imbuhnya.
Gender gap ketiga, ialah kesehatan. Dia mengungkapkan, di Indonesia angka kematian perempuan dalam persalinan dan kematian balita masih relatif tinggi. Dan untuk mengatasi hal ini, pemerintah telah bekerja sama melalui program-program yang ada, seperti program kesehatan, pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan sebagainya.
"Maka belanja bidang kesehatan harusnya bisa menciptakan lingkungan bagi ibu-ibu agar mampu melahirkan dengan selamat. Kita juga ada program khusus hadapi anak-anak di bawah lima tahun yang stunting atau kurang gizi," paparnya.
Terakhir, ialah gender gap dalam bidang politik. Mantan Direktur Bank Dunia ini berkeinginan agar perempuan Indonesia bisa terlibat dalam urusan politik, dan tidak sekadar sharing berita dari sosial media yang belum bisa dipastikan kebenarannya.
"Jangan pernah jadi catatan kaki. Jadi political empowerment," ujarnya.
Dia pun mengajak semua pihak untuk bersama-sama mendorong Kesetaraan gender melalui tugas dan perannya masing-masing di tengah masyarakat. "Anda punya kesempatan dorong agenda persamaan gender. Jangan hanya tunggu Sri Mulyani saja," tandasnya.