Kisah JP Morgan, ditendang Sri Mulyani kini naikkan lagi rating RI

Dalam risetnya, JP Morgan beralasan bahwa kondisi pasar modal di negara berkembang, termasuk Indonesia, terbukti dapat bertahan setelah adanya guncangan volatilitas pasar obligasi pasca terpilihnya Donald Trump menjadi presiden AS.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Kisah JP Morgan, ditendang Sri Mulyani kini naikkan lagi rating RI
sri mulyani. ©2015 merdeka.com/imam buhori

Awal tahun ini, Kementerian Keuangan memutuskan hubungan kerja sama dengan JP Morgan Chase Bank. Keputusan ini tertulis dalam Surat Menteri Keuangan Nomor S-1006/MK.08/2016 yang diterbitkan pada 17 November 2016.

JP Morgan diputus kontraknya usai mengeluarkan rilis menurunkan peringkat surat utang Indonesia sebanyak dua tingkat. Peringkat surat utang Indonesia turun dari overweight menjadi underweight.

"Kami melakukan evaluasi. Pemerintah, Kementerian Keuangan terutama kami terus menerus akan melakukan hubungan kerja sama dengan seluruh stakeholder berdasarkan prinsip profesionalisme, akuntabilitas, bertanggung jawab, termasuk kualitas dari keseluruhan hasil kerjanya dan terutama kalau kerja sama harus saling menguntungkan," ujar Menteri Keuangan, Sri Mulyani di kantornya, Jakarta, Selasa (3/1).

Sri Mulyani menegaskan, semakin besar nama sebuah lembaga riset maka semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menjaga kualitas dari hasil risetnya tersebut. Sementara, JP Morgan dianggap tidak menjaga kredibilitas dan akurasi dari risetnya untuk Indonesia.

"Semakin besar namanya, dia semakin memiliki tanggung jawab lebih besar dari sisi kualitas dan kemampuan untuk ciptakan konfiden," imbuh dia.

JP Morgan sempat membela diri atas kasus ini. Seorang juru bicara JP Morgan mengatakan bahwa mereka akan tetap beroperasi di Indonesia seperti biasa. "Dampak pada klien kami sangat kecil dan kami terus bekerja dengan Kementerian Keuangan menyelesaikan masalah ini," kata juru bicara yang tidak disebutkan namanya seperti dikutip dari CNBC, Rabu (4/1).

Dia juga menjelaskan alasan menurunkan peringkat surat utang Indonesia. Salah satu satunya adalah karena meningkatnya risiko kegagalan utang setelah Donald Trump memenangkan pemilihan presiden AS.

"Pasar obligasi bergerak cepat dan defisit keuangan semakin lebar. Lonjakan volatilitas mungkin akan berhenti dan berbalik."

Penurunan peringkat utang untuk Indonesia dan Brasil bersifat taktis menanggapi kemenangan Trump. Ekonomi kedua negara memang baik tapi tingkat kebijakan pemerintah yang rendah cenderung akan berakibat membalik di 2017. "Trump mengisyaratkan kebijakan perdagangan lebih protektif dan meningkatkan kekhawatiran tentang dampak pada pasar berkembang."

Para analis mengatakan, ekonomi Indonesia hanya didukung oleh konsumsi domestik atau lebih dari setengah PDB. Namun, kepemilikan asing atas surat utang pemerintah atau obligasi sangat tinggi dan kurangnya kedalaman pasar keuangan membuat Indonesia rentan terhadap pembalikan modal.

Kini JP Morgan kembali menaikkan peringkat utang atau rating Indonesia. Silakan klik selanjutnya.

Usai 'ditendang' Sri Mulyani dari Indonesia, JP Morgan kini mulai melunak. JP Morgan Securities menerbitkan risetnya pada 16 Januari dan menaikkan peringkat aset ekuitas Indonesia dari underweight menjadi netral.

Dalam risetnya, mereka beralasan bahwa kondisi pasar modal di negara berkembang, termasuk Indonesia, terbukti dapat bertahan setelah adanya guncangan volatilitas pasar obligasi pasca terpilihnya Donald Trump menjadi presiden AS.

Selain itu, Riset JP Morgan juga menyebutkan sejumlah faktor pendukung peningkatan rating Indonesia ini, termasuk membaiknya data konsumen yang terlihat dari naiknya penjualan otomotif, khususnya kendaraan roda dua.

Sri Mulyani tak bicara banyak menanggapi kenaikan rating ini. Berbeda pada saat JP Morgan menurunkan peringkat aset ekuitas dari overweight menjadi underweight, di mana Sri Mulyani langsung memutus kontrak mereka di Indonesia.

"Bagus (kalau dinaikkan)," singkat Sri Mulyani di kantornya, Jakarta, Senin (16/1).

Sama halnya dengan Sri Mulyani, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution juga menganggap bahwa penurunan peringkat yang dilakukan JP Morgan sebelumnya terlalu berlebihan, karena tidak sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia.

"Kalau Donald Trump jadi presiden ada pengaruhnya sedikit, ya itu masuk akal. tapi karena ada pengaruhnya banyak, turun itu berlebihan. Ya bagus kalau dia mengoreksi (peringkat)," jelas Darmin saat diwawancara terpisah.

Dengan meningkatnya peringkat aset ekuitas menjadi netral, hingga 12 bulan ke depan pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan bergerak sesuai ekspektasi. Sedangkan underweight artinya di bawah ekspektasi atau diperkirakan lebih buruk.

Rekomendasi