Pembelaan & serangan balik untuk Indonesia berani tendang JP Morgan

Kepala Strategi mata uang dari bank Brown Brothers Harriman, Win Thin mengatakan, keputusan Indonesia menggambarkan bahwa negara tak terima dikritik. Bahkan dari perusahaan yang memiliki kewajiban menyediakan data penelitian untuk klien mereka.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Pembelaan & serangan balik untuk Indonesia berani tendang JP Morgan
Sri Mulyani. ©2012 Merdeka.com/dok

Kementerian Keuangan memutuskan hubungan kerja sama dengan JP Morgan Chase Bank. Keputusan ini tertulis dalam Surat Menteri Keuangan Nomor S-1006/MK.08/2016 yang diterbitkan pada 17 November 2016.

JP Morgan diputus kontraknya usai mengeluarkan rilis menurunkan peringkat surat utang Indonesia sebanyak dua tingkat. Peringkat surat utang Indonesia turun dari overweight menjadi underweight.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengatakan, rilis uang dikeluarkan JP Morgan Chase Bank dapat mengganggu psikologis investor di Indonesia.

"Kami melakukan evaluasi. Pemerintah, Kementerian Keuangan terutama kami terus menerus akan melakukan hubungan kerja sama dengan seluruh stakeholder berdasarkan prinsip profesionalisme, akuntabilitas, bertanggung jawab, termasuk kualitas dari keseluruhan hasil kerjanya dan terutama kalau kerja sama harus saling menguntungkan," ujar Sri Mulyani di kantornya, Jakarta, Selasa (3/1).

Ani menegaskan, semakin besar nama sebuah lembaga riset maka semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menjaga kualitas dari hasil risetnya tersebut. Sementara, JP Morgan dianggap tidak menjaga kredibilitas dan akurasi dari risetnya untuk Indonesia.

"Semakin besar namanya, dia semakin memiliki tanggung jawab lebih besar dari sisi kualitas dan kemampuan untuk ciptakan konfiden," imbuh dia.

Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi), Bahlil Lahadalia mendukung langkah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memutuskan hubungan kerja sama dengan JP Morgan Chase Bank.

"JP Morgan Chase Bank berbahaya sebab berusaha menciptakan opini destruktif untuk menggoyang perekonomian beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia," ujar dia seperti ditulis Antara, Selasa (3/1).

Menurut dia, JP Morgan hendak menciptakan opini negatif di luar negeri tentang Indonesia agar stabilitas keuangan Indoensia terganggu, sehingga diduga lembaga keuangan itu dan partner-nya mau mengambil keuntungan dan menggoyang perekonomian nasional.

"Artinya, saat ini JP Morgan pun tak lagi menjadi salah satu bank persepsi yang dapat menampung aliran dana Tax Amnesty," kata dia.

Namun demikian, JP Morgan membela diri. Silakan klik selanjutnya.

Seorang juru bicara JP Morgan mengatakan bahwa mereka akan tetap beroperasi di Indonesia seperti biasa. "Dampak pada klien kami sangat kecil dan kami terus bekerja dengan Kementerian Keuangan menyelesaikan masalah ini," kata juru bicara yang tidak disebutkan namanya seperti dikutip dari CNBC, Rabu (4/1).

Dia juga menjelaskan alasan menurunkan peringkat surat utang Indonesia. Salah satu satunya adalah karena meningkatnya risiko kegagalan utang setelah Donald Trump memenangkan pemilihan presiden AS.

"Pasar obligasi bergerak cepat dan defisit keuangan semakin lebar. Lonjakan volatilitas mungkin akan berhenti dan berbalik."

Penurunan peringkat utang untuk Indonesia dan Brasil bersifat taktis menanggapi kemenangan Trump. Ekonomi kedua negara memang baik tapi tingkat kebijakan pemerintah yang rendah cenderung akan berakibat membalik di 2017.

"Trump mengisyaratkan kebijakan perdagangan lebih protektif dan meningkatkan kekhawatiran tentang dampak pada pasar berkembang."

Para analis mengatakan, ekonomi Indonesia hanya didukung oleh konsumsi domestik atau lebih dari setengah PDB. Namun, kepemilikan asing atas surat utang pemerintah atau obligasi sangat tinggi dan kurangnya kedalaman pasar keuangan membuat Indonesia rentan terhadap pembalikan modal.

Seorang pengamat dari bank Brown Brothers Harriman malah menyerang balik Indonesia. Silakan klik selanjutnya.

Kepala Strategi mata uang dari bank Brown Brothers Harriman, Win Thin mengatakan, keputusan Indonesia menggambarkan bahwa negara tak terima dikritik. Bahkan dari perusahaan yang memiliki kewajiban menyediakan data penelitian untuk klien mereka.

"Ini membuat saya tidak nyaman karena saya melihat pemerintah (Indonesia) berusaha mempengaruhi analis independen. Indonesia menurut saya sedikit konyol dan ini membuktikan betapa sensitifnya pemerintah," katanya seperti ditulis CNN, Rabu (4/1).

Ironisnya, penilaian JP Morgan terhadap ekonomi Indonesia cukup positif. Penelitian itu mengungkapkan bahwa investor akan mendapatkan kesempatan lebih baik untuk membeli surat utang Indonesia.

Para analis mengatakan, penurunan surat utang Indonesia disebabkan faktor eksternal seperti terpilihnya Trump menjadi presiden AS dan naiknya suku bunga The Fed. Kebijakan ini akan memberi pengaruh buruk pada ekonomi negara berkembang.

Rekomendasi