Hubungan bilateral Rusia dan Turki kini sedang panas usai ditembak jatuhnya jet tempur Rusia oleh militer Turki. Perang kata-kata telah meletus dan bahkan Rusia mengancam Turki dari sisi perekonomian.
Presiden Rusia, Vladimir Putin menyebut insiden ditembaknya jet tempur Rusia merupakan tusukan dari belakang oleh kaki tangan teroris. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menuduh Moskow melakukan penipuan dengan menggambarkan komentar Putin sebagai kesalahan besar dalam wawancara dengan CNN.
Para pejabat Rusia kini sedang menyusun sanksi ekonomi sebagai balasan untuk Turki. Namun demikian, perang dagang antara kedua negara ini dinilai sangat mahal. Kedua negara saling ketergantungan dan 'mustahil' untuk perang ekonomi.
Berikut 4 alasan Rusia dan Turki tak akan sanggup perang ekonomi seperti dikutip dari CNN, Sabtu (28/11):
Advertisement
Rusia tidak mempunyai banyak teman bisnis di kancah internasional. Turki adalah salah satu dari beberapa mitra yang jadi andalan Rusia.
Turki tidak ikut campur pada Eropa, Amerika Serikat maupun negara barat lainnya dalam menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Rusia atas perannya dalam krisis Ukraina beberapa waktu lalu. Turki sebenarnya berencana untuk meningkatkan volume perdagangan dengan Rusia hingga tiga kali lipat menjadi USD 100 miliar pada 2023 mendatang.
Meningkatnya ketegangan antara kedua negara bisa sangat merusak hubungan kedua negara. Rusia mengatakan bahwa pihaknya akan memperketat kontrol pada impor pangan dan pertanian dari Turki. Tak hanya itu, lembaga perlindungan konsumen Rusia mengaku khawatir dengan kualitas pakaian, furniture dan produk pembersih dari Turki.
Advertisement
Turki dan Rusia telah menandatangani kesepakatan membangun energi strategis setahun yang lalu. Proyek tersebut adalah Turki Stream yaitu membangun pipa gas dari Rusia ke Turki dan kemudian akan dilanjutkan ke pasar Eropa. Hal ini ditetapkan untuk menggantikan proyek South Stream yang seharusnya dibuat melalui Ukraina tapi dibatalkan tahun lalu.
Selain itu, Turki adalah pembeli terbesar kedua gas alam Rusia setelah Jerman. Rusia juga berencana membangun stasiun pembangkit tenaga nuklir pertama di Turki yang terletak di Mersin, pantai selatan Turki.
Konstruksi telah dimulai sejak April lalu dan diharapkan bisa selesai 2020 mendatang. Berdasarkan perjanjian tersebut, Â Rusia akan membiaya proyek ini senilai USD 22 miliar dan kemudian akan mengoperasikan pabrik.
Advertisement
Wisatawan atau turis asal Rusia sangat penting bagi industri pariwisata Turki. Sekitar 4,5 juta warga Rusia berkunjung ke Turki pada 2014 silam. Data resmi Turki menunjukkan bahwa lebih dari 12 persen semua turis di negaranya berasa dari Rusia.
Rusia merupakan kelompok terbesar berkunjung ke Turki setelah Jerman.
Presiden Rusia, Vladimir Putin telah menyarankan pada warga Rusia agar tidak berkunjung ke Turki paska jatuhnya pesawat militer mereka.
Advertisement
Rusia maupun Turki saat ini menghadapi gejolak ekonomi global dan mereka saling membutuhkan satu sama lain. Ekonomi Rusia telah melorot karena rendahnya harga minyak dunia dan sanksi barat. IMF memperkirakan, PDB Rusia akan menyusut sebesar 3,8 persen pada tahun ini dan 0,6 persen pada 2016 mendatang.
Ekonomi Turki juga tidak lebih baik. Kebuntuan politik setelah pemilihan Juni lalu membebani ekonomi negara. Pertumbuhan ekonomi melorot dalam beberapa tahun terakhir.
IMF memperkirakan ekonomi Turki hanya akan tumbuh 3,1 persen tahun ini dan 3,6 persen tahun depan. Angka ini jauh dibanding 2010 dan 2011 lalu, di mana ekonomi Turki tumbuh di bawah 9 persen.
Tak hanya itu, nilai tukar Lira juga telah anjlok 20 persen terhadap dolar Amerika (USD) sepanjang tahun ini. Melemahnya nilai tukar memberatkan Turki dalam membayar utang asing jangka pendek yang mencapai USD 125 miliar.