PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah melakukan transaksi lindung nilai (hedging) dengan tiga Bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni Bank Rakyat Indonesia, Bank Nasional Indonesia dan Bank Mandiri. Dari tiga bank tersebut tercatat masing-masing bank menyediakan fasilitas lindung nilai sebesar USD 500 juta dari Bank Mandiri, USD 200 juta dari BNI, serta USD 250 juta dari BRI.
Hedging tersebut diperuntukkan dalam menggenjot mega proyek listrik 35.000 megawatt (MW). Direktur Corporate Banking Bank Mandiri Royke Tumilaar menjelaskan kondisi PLN memang membuat perusahaan tersebut harus membayar utang luar negeri dan operasional dalam valuta asing.
"Nah, sementara itu pendapatan yang diterima dalam mata uang Rupiah sehingga berdampak pada munculnya potensi miss match arus kas keuangan," ujar Royke di Gedung BI, Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (10/4).
Tak hanya itu, lanjut Royke, dampak lainnya yakni fluktuasi nilai tukar Rupiah masih akan terus terjadi akibat membaiknya perekonomian Amerika Serikat serta adanya rencana the Fed melakukan normalisasi kebijakan moneter, dengan menaikkan suku bunga acuan di tahun ini.
"Kami komitmen untuk mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat perekonomian Indonesia. Di tengah kondisi perekonomian global yang saat ini belum stabil. Salah satunya dengan memberikan fasilitas hedging untuk PLN," tuturnya.
Royke menambahkan, kerja sama hedging tersebut merupakan kelanjutan dari Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-09/MBU/2013 tentang Kebijakan Umum Transaksi Lindung Nilai Badan Usaha Milik Negara.
"Kami mengharapkan tentunya kerja sama ini dapat memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah. Selain itu juga bisa mengurangi tekanan volatilitas rupiah, terutama terhadap kinerja perusahaan BUMN," tandasnya.
Sebelumnya, Dirut PLN Sofyan Basir PLN menilai, untuk mewujudkan mimpi 35.000 MW Jokowi itu, dibutuhkan banyak pinjaman dalam bentuk valuta asing guna mengembangkan infrastruktur listrik.
Sofyan mengakui pinjaman luar negeri mempunyai risiko fluktuasi. Namun, utang asing memang sangat dibutuhkan karena minimnya sumber pembiayaan.