BCA prediksi penurunan KPR dan kredit kendaraan bermotor

Faktornya, rencana Bank Indonesia (BI) yang bakal memperketat suku bunga KPR dan batas DP kendaraan bermotor.

Novita Intan Sari
Oleh Novita Intan Sari - Reporter
BCA prediksi penurunan KPR dan kredit kendaraan bermotor
Bank BCA. Merdeka.com/Dwi Narwoko

Bank Centra Asia Tbk (BBCA) memperkirakan kinerja Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bakal menurun tahun ini. Salah satu penyebabnya adalah rencana Bank Indonesia (BI) yang bakal memperketat suku bunga kredit perumahan yang akhirnya membuat perusahaan menjadi khawatir.

"KPR tahun ini mungkin hanya 25 persen dibanding tahun lalu sebesar 50 persen," ujar Presiden Direktur BBCA, Jahja Setiaatmadja usai konferensi pers "Laporan Keuangan Kuartal II Tahun 2013" di Hotel Kempenski, Jakarta, Senin (29/7).

Menurutnya, bukan hanya KPR saja yang diperkirakan bakal mengalami penurunan. Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) diperkirakan juga bakal mengalami pelemahan. "Mungkin KKB juga turun sekitar 18-20 persen," jelas dia.

Pada Juni 2013, BCA mencatat total outstanding kredit sebesar Rp 280,4 triliun. Kinerja ini meningkat 24 persen bila dibandingkan kinerja periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar Rp 226 triliun.

Kredit konsumer naik 30,7 persen (YoY) menjadi Rp 78,4 triliun ditopang oleh kinerja KPR dan KKB yang masing-masing tumbuh sebesar 32,8 persen (YoY) menjadi Rp 48,5 triliun dan 29,6 persen (YoY) menjadi Rp 23,4 triliun.

"Memang harus kami akui kredit konsumer agak menurun sedikit, KPR dan KKB menurun namun memang tidak besar sekali," ungkapnya.

Dia menambahkan, untuk kredit komersial dan UKM meningkat 24,6 persen (YoY) menjadi Rp 110,5 triliun. Sedangkan kredit korporasi tercatat sebesar Rp 91,5 triliun atau naik 18,4 persen (YoY).

Jahja mengaku optimis dengan soliditas fundamental perekonomian Indonesia jangka panjang. BCA mengambil langkah hati-hati dengan menjaga posisi likuiditas yang solid dan mengelola pertumbuhan permintaan kredit.

"Suku bunga acuan Bank Indonesia yang lebih tinggi merupakan langkah yang prudent untuk mengelola tekanan inflasi dan volatilitas nilai tukar Rupiah," tutup dia.

Rekomendasi