Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melempar candaan bernuansa politis di peluncuran program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GWp, di Kabupaten Jembrana, Bali, pada Selasa (25/8).
Bahlil menyampaikan itu di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur Bali Wayan Koster. Koster diketahui sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan Bali.
Awalnya, Bahlil menyampaikan masyarakat Bali menyambut baik langkah pemerintah pusat mereformasi sektor energi.
"Sejak kemarin datang rapat dengan bapak gubernur dan mereka sangat berterima kasih atas kehadiran bapak (presiden). Karena Bali ini memang sudah sekian lama merencanakan untuk menarik pariwisata yang baik, maka harus memakai energi yang bersih," kata Bahlil.
"Kehadiran bapak presiden hari ini menunjukkan kecintaan bapak presiden kepada masyarakat Bali dan Indonesia pada umumnya," imbuh Bahlil.
Selain itu, Bahlil mengapresiasi Gubernur Bali Wayan Koster yang disebut telah menyiapkan lahan untuk mendukung proyek tersebut.
"Yang saya hormati Gubernur Provinsi Bali, Bapak Wayan Koster sudah menyiapkan tanah 1.000 hektar, di lokasi ini 320 hektar, ditambah lagi suratnya sudah dikeluarkan, memang paten betul Gubernur Bali ini," kata Bahlil.
Advertisement
Singgung Kandang Banteng
Namun di dalam sambutannya, Bahlil melontarkan candaan bernuansa politik. Dia menyinggung tiga partai politik di balik pemerintahan pusat dan pemerintah Provinsi Bali.
"Khusus untuk Bali dengan kita memakai 100 dengan memakai 1.000 megawatt itu mampu melakukan efisiensi 0,6 juta kilo liter solar yang dilakukan oleh PLN. Selama ini ternyata Bali ini masih pakai PLTD," ujar dia.
"Jadi tidak heran kemudian, kalau ini kita lakukan di Bali karena kampanyenya adalah green energy. Jadi saya tadi sempat guyon dengan bapak gubernur, saya bilang bapak gubernur mengelola negara ini jangan dilihat warna. Presiden kita adalah Ketua Umum Gerindra, menterinya adalah Ketua Umum Golkar, tapi eksekusi program PLTS di kandang merah," kata Bahlil.
Menurut Bahlil, hal tersebut tentu sebagai kolaborasi yang paten dan dapat menjadi contoh bagi partai politik dan seluruh elemen bangsa untuk mengutamakan kepentingan pembangunan.
"Ah ini sebagai bentuk kolaborasi yang paten. Mudah-mudahan pikiran bapak gubernur ini terilhami oleh semua kader partai politik yang ada di bangsa kita. Gubernur habis ini setoran, ini naik harga saham ini," tandas Bahlil.