Bank Indonesia menyiapkan langkah-langkah antisipasi untuk mengendalikan likuiditas terkait dengan inflasi jangka pendek menyusul rencana kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Bank Indonesia akan mengambil langkah antisipasi melalui Operasi Moneter (OM).
"BI rate 5,75 persen masih konsisten dengan perkiraan makro ekonomi tahun 2012-2013. Policy respon, kita lihat tekanan inflasi jangka pendek. Jadi langkahnya adalah penguatan Operasi Moneter dalam pengendalian likuiditas," ujar Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Perry Warjiyo di Gedung Bank Indonesia, Selasa (17/4).
Dengan operasi moneter ini, Bank Indonesia siap menyerap kelebihan likuiditas perbankan agar tidak terjadi over rating (kelebihan likuiditas). Untuk fasilitas simpanan Bank Indonesia (FASBI) dengan tenor satu malam, Bank Indonesia menetapkan bunga 3,75 persen, sedangkan untuk tenor 9 bulan Bank Indonesia menyatakan ada kenaikan bunga simpanan dari 3,8 persen menjadi 4 persen.
Dengan bunga deposito dari LPS maksimum 5,5 persen, menutup ruang bagi perbankan menaikkan suku bunga deposito maupun suku bunga kredit. "Kita yakin, dengan level sekarang sekitar 4 persen untuk tenor 9 bulan itu masih rendah, Maksimum LPS 5,5 persen, jadi tidak ada alasan bagi bank untuk menaikkan suku bunga deposito. Apalagi bunga kredit. Trennya masih harus penurunan," katanya.
Penerapan operasi moneter juga pernah dilakukan pada tahun 2010. Saat itu, otoritas moneter pernah melakukan operasi moneter melalui Giro Wajib Minimum (GWM). Perbankan dikenakan penalti berupa nilai GWM yang lebih tinggi jika LDR (Loan to Deposit Ratio) nya di bawah 72 persen.