Pemerintah menyatakan telah melakukan penghitungan penghematan anggaran negara yang berasal dari peralihan atau konversi bahan baku untuk produksi pembangkit listrik.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, saat ini ada tiga pembangkit listrik yang semula menggunakan bahan baku berupa bahan bakar minyak (BBM) untuk bahan baku produksinya, mulai beralih menggunakan gas. Nilai penghematan dari tiga pembangkit tersebut diperkirakan mencapai Rp 18 triliun.
"Sekarang sudah ada 3 sumber atau 3 pembangkit tenaga listrik yang sudah mendapatkan gas. Nah, kalau sudah mendapatkan gas di 3 lokasi, itu satu pembangkit saja itu bisa memberikan efisiensi sampai Rp 6 triliun setahun," jelas Agus Marto saat ditemui di kantornya, Kamis (5/4).
Terhitung mulai Juli tahun ini, pemerintah berencana menggunakan pasokan gas untuk bahan baku produksi pembangkit-pembangkit listrik wilayah Jakarta. Dia meyakini, langkah dan strategi ini akan menurunkan biaya produksi listrik di Indonesia.
Menurutnya, jika upaya ini bisa terealisasi, maka cadangan risiko energi dalam postur anggaran APBN-P 2012 sebesar Rp 23 triliun yang sebelumnya diperuntukan risiko listrik bisa dialihkan ke BBM. "Kalau efisiensi itu terbentuk tentu cadangan energi menjadi tidak perlu terpakai," paparnya.
Mantan Dirut Bank Mandiri ini mengakui, membengkaknya biaya produksi listrik oleh PT PLN disebabkan terlambatnya pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW. Alasan lainnya adalah masih prioritasnya BBM sebagai bahan produksi.
"Energi mix-nya selama ini masih pakai BBM padahal seharusnya kalau dia gunakan gas atau batubara bisa jauh lebih efisien," tuturnya.