Okupansi Kereta Cipatat-Sukabumi Meledak 201 Persen di Lebaran 2026, Jadi Primadona Pemudik

Lonjakan **Okupansi Kereta Cipatat-Sukabumi Lebaran 2026** mencapai 201 persen, menandai rekor tertinggi. Temukan alasan di balik fenomena ini dan bagaimana KAI Daop 2 Bandung menjamin keamanan penumpang.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Okupansi Kereta Cipatat-Sukabumi Meledak 201 Persen di Lebaran 2026, Jadi Primadona Pemudik
Lonjakan **Okupansi Kereta Cipatat-Sukabumi Lebaran 2026** mencapai 201 persen, menandai rekor tertinggi. Temukan alasan di balik fenomena ini dan bagaimana KAI Daop 2 Bandung menjamin keamanan penumpang. (AntaraNews)

PT KAI Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung mencatat rekor fantastis dengan lonjakan okupansi KA Lokal Siliwangi relasi Cipatat–Sukabumi (PP) selama masa Angkutan Lebaran 2026. Tingkat keterisian mencapai 201 persen, menjadi yang tertinggi sepanjang periode mudik tahun ini. Fenomena ini menunjukkan antusiasme masyarakat yang luar biasa terhadap layanan kereta api.

Angka okupansi yang melampaui kapasitas tempat duduk ini terjadi karena tingginya mobilitas masyarakat lokal. Mereka memanfaatkan tarif ekonomis sebesar Rp5.000 untuk keperluan mudik maupun berwisata di wilayah tersebut. Puncak kepadatan terjadi pada Senin (23/3), dengan ribuan penumpang berangkat dari Stasiun Cianjur dan Cipatat.

Manajer Humas KAI Daop 2 Bandung, Kuswardojo, menjelaskan bahwa KA Siliwangi menjadi alternatif transportasi yang efisien. Kereta ini menawarkan perjalanan aman, nyaman, bebas macet, serta tepat waktu bagi para pelanggan. KAI Daop 2 Bandung memastikan aspek keselamatan tetap menjadi prioritas utama selama periode padat ini.

PT KAI Daop 2 Bandung melaporkan bahwa okupansi KA Lokal Siliwangi relasi Cipatat–Sukabumi (PP) mencapai 201 persen selama periode Angkutan Lebaran 2026. Angka ini merupakan rekor tertinggi yang pernah tercatat, melebihi dua kali lipat kapasitas tempat duduk yang tersedia dalam satu rangkaian kereta. Manajer Humas KAI Daop 2 Bandung, Kuswardojo, menyebut fenomena ini sebagai hal yang luar biasa.

Tingginya angka okupansi ini dipicu oleh mobilitas masyarakat lokal yang signifikan. Mereka memanfaatkan tarif yang sangat terjangkau, yakni Rp5.000, untuk keperluan mudik atau berwisata. KA Siliwangi dianggap sebagai pilihan transportasi yang ekonomis dan efisien oleh banyak warga.

Pada puncak kepadatan, Senin (23/3), tercatat 2.563 pelanggan berangkat dari Stasiun Cianjur dan 1.949 orang dari Stasiun Cipatat. Secara rata-rata, tingkat keterisian kereta ini konsisten di angka 93 persen sepanjang periode 11–24 Maret 2026. Hal ini menunjukkan popularitas KA Siliwangi yang berkelanjutan.

Selain faktor harga yang sangat terjangkau, daya tarik pemandangan alam di sepanjang lintas Cipatat–Sukabumi turut menjadikan KA Siliwangi primadona. Rute ini menawarkan pengalaman perjalanan yang unik bagi masyarakat. Mereka dapat bersilaturahmi sekaligus menikmati keindahan alam Jawa Barat.

Kuswardojo menegaskan bahwa KA Siliwangi hadir sebagai solusi transportasi yang aman, nyaman, bebas macet, dan tepat waktu. Ini menjadi nilai tambah signifikan, terutama saat mobilitas tinggi seperti Lebaran. Ketersediaan enam perjalanan sehari juga mendukung fleksibilitas penumpang.

Terkait aspek keamanan akibat membeludaknya penumpang, pihak Daop 2 memastikan operasional tetap terkendali. Mereka berpegang pada prosedur keselamatan transportasi kereta api yang ketat. KAI juga menjamin kesiapan infrastruktur, jalur, dan personel untuk menjaga keamanan pelanggan.

"Kami memastikan seluruh perjalanan kereta api berjalan dengan mengutamakan keselamatan, keamanan, dan kenyamanan pelanggan," tutur Kuswardojo. Pernyataan ini menegaskan komitmen KAI Daop 2 dalam memberikan pelayanan terbaik. Terutama pada masa Angkutan Lebaran yang selalu diwarnai mobilitas tinggi.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi