Kaisar KKSP Soroti Dampak Geopolitik Impor Energi, Dorong Konsistensi Politik Bebas Aktif

Pemerintah kata dia perlu melihat hubungan dengan negara-negara lain yang memiliki kepentingan di sektor energi.

Haris Kurniawan
Oleh Haris Kurniawan - Reporter
Kaisar KKSP Soroti Dampak Geopolitik Impor Energi, Dorong Konsistensi Politik Bebas Aktif
Anggota DPR Kaisar Said Putra Inisiasi Pembagian Pupuk dan Pelatihan Gratis untuk Petani (@ 2024 merdeka.com)

Anggota DPR RI, Anggota DPR RI, Kaisar Kiasa Kasih Said Putra meminta pemerintah Indonesia lebih jauh berhitung dengan matang dampak dari hasil negosiasi hubungan bilateral bersama pemerintah Amerika Serikat terkait komitmen Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan pembelian gas alam cair (LNG) dan minyak mentah (sweet crude oil) dari AS sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan perdagangan.

Pemerintah kata dia perlu melihat hubungan dengan negara-negara lain yang memiliki kepentingan di sektor energi.

“Jangan sampai intensifikasi hubungan bilateral dengan AS justru mengganggu keseimbangan relasi Indonesia dengan mitra strategis lainnya. Sejak awal berdiri, Indonesia menganut prinsip politik luar negeri bebas aktif dan prinsip ini harus tetap dijaga serta tidak dikorbankan dalam proses negosiasi perdagangan yang pragmatis."

Menurutnya, perlu menjadi perhatian bersama bahwa relasi Indonesia dengan Tiongkok juga tidak dapat diabaikan. Ketergantungan ekonomi Indonesia terhadap Tiongkok cukup signifikan, terutama dalam hal investasi, perdagangan ekspor-impor, serta keterlibatan dalam berbagai proyek infrastruktur strategis.

“Terlebih lagi, sinyal tekanan yang disampaikan oleh Menteri Perdagangan Tiongkok kepada negara-negara yang tengah bernegosiasi tarif dengan AS patut menjadi perhatian serius. Pemerintah Indonesia harus mampu menjaga keseimbangan diplomatik agar tidak terseret dalam konflik kepentingan global yang justru dapat merugikan kepentingan nasional,” jelasnya.

Lanjut Kaisar, di sinilah pentingnya konsistensi dalam menjalankan politik luar negeri bebas aktif bukan sekadar prinsip normatif, melainkan sebagai strategi taktis dalam menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional di tengah dinamika geopolitik yang kian kompleks.

“Seiring dengan berlangsungnya proses negosiasi ini, pemerintah juga harus tetap konsisten terhadap tujuan utama pengembangan dan pemanfaatan energi terbarukan. Indonesia memiliki potensi besar dalam sektor ini, antara lain cadangan nikel yang merupakan bahan utama dalam produksi baterai, dan potensi energi panas bumi (geothermal), mengingat posisi geografis Indonesia yang berada di kawasan cincin api,” terangnya.

Oleh karena itu, Kaisar menyarankan pemerintah untuk mengambil langkah konkret dalam mendorong inovasi energi terbarukan dan perlu menjadi prioritas utama pemerintahan ke depan.

“Sebab, hanya dengan inovasi, sebuah negara dapat tumbuh menjadi bangsa besar yang berdaulat terkhusus berdaulat dalam energi baru terbarukan,” tuntasnya.

Rekomendasi