Ini Teknologi PHE Kelola Lapangan Migas Mature, Bisa Tahan Laju Impor dan Jaga Pasokan Energi Nasional

Terkait ketahanan energi, dia berharap PHE tidak hanya mengandalkan sumur eksisting, namun harus terus menemukan cadangan baru dan menjaga investasi teknologi.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Ini Teknologi PHE Kelola Lapangan Migas Mature, Bisa Tahan Laju Impor dan Jaga Pasokan Energi Nasional
Ini Teknologi PHE Kelola Lapangan Migas Mature, Bisa Tahan Laju Impor dan Jaga Pasokan Energi Nasional (Merdeka.com)

Anggota Komisi XII DPR RI, Sartono Hutomo menilai upaya PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menerapkan teknologi terkini dalam mengelola lapangan migas mature membuktikan bahwa kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) PHE dalam menerapkan teknologi semakin andal.

"Upaya tersebut menunjukkan SDM PHE mampu mengelola sumur-sumur migas mature dengan teknologi modern, mulai dari work over, perawatan sumur, hingga EOR. Ini bukti bahwa SDM PHE makin andal, matang secara teknis," kata Sartono seperti dikutip dari Antara, Selasa (16/12).

Namun demikian, menurut dia, PHE tetap harus berhitung dengan cermat sebab teknologi bukan sesuatu yang mudah. Tidak semua sumur migas bisa dipaksa menghasilkan minyak besar karena ada batas alamiahnya.

Berbagai upaya PHE, tambahnya, memiliki peran besar dalam menahan laju impor dan meningkatkan ketahanan energi, apalagi produksi lebih dari setengah juta barel per hari. "Ini jelas membantu menahan laju impor dan menjaga pasokan energi nasional," katanya.

Terkait ketahanan energi, dia berharap PHE tidak hanya mengandalkan sumur eksisting, namun harus terus menemukan cadangan baru dan menjaga investasi teknologi.

Sementara itu pakar eksplorasi geofisika Institut Teknologi Bandung (ITB) Profesor Wawan Gunawan A. Kadir secara terpisah, mengapresiasi pendekatan komprehensif PHE terhadap sumur mature, yaitu secara konvensional dan teknologi modern.

Sebab, menurutnya, dari lapangan-lapangan migas mature sebenarnya yang bisa diambil secara alamiah hanya sekitar 35 - 45 persen, setelah itu rata-rata 60 persen membutuhkan teknologi untuk memperbarui supaya produksi sumur-sumur mature terus naik.

Melalui kedua pendekatan tersebut, tambahnya, PHE akan bisa terus meningkatkan produksi, guna mendukung ketahanan energi, termasuk dalam mencapai target produksi minyak mentah 1 juta barel per hari pada 2030.

"Kalau semua lapangan bisa terpelihara, bisa ditingkatkan produksinya, mestinya bisa tercapai. Karena dulu kita pernah di atas 1 juta," ujar Wawan.

Dia menjelaskan, sumur mature berbeda dengan sumur tua yang sudah idle dan tidak dipakai lagi. Sumur mature merupakan sumur yang tingkat kenaikan produksinya pada level "hampir tidak bisa naik lagi".

Karena itulah, agar produksi tidak mentok, selain secara konvensional, implementasi teknologi modern juga perlu dilakukan, sehingga produksi sumur mature tidak berhenti pada angka produksi migas tertentu, namun bisa lebih ditingkatkan.

Menurut Wawan, penerapan inovasi teknologi sekaligus membuktikan bahwa penguasaan teknologi dan pengelolaan lapangan PHE memang andal.

"Betul sekali (sangat baik), karena kompleksitasnya (teknologi tersebut) memang sangat tinggi. Jadi PHE sudah bisa me-manage supaya (tingkat produksi) lapangannya itu tidak langsung berhenti, tapi masih terus meningkat," katanya.

Sebelumnya, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai Subholding Upstream Pertamina menegaskan komitmen dalam menjaga ketahanan energi nasional melalui pengelolaan lapangan migas mature dengan menjalankan strategi inovatif dan penerapan teknologi terkini.

Rekomendasi