INDEF Prediksi LinkAja Mampu Kalahkan GO-PAY dan OVO

Jumat, 1 Maret 2019 19:59 Reporter : Wilfridus Setu Embu
INDEF Prediksi LinkAja Mampu Kalahkan GO-PAY dan OVO Ekonom INDEF, Nailul Huda, soal LinkAja. ©2019 Merdeka.com/Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah memperkenalkan LinkAja, yang merupakan layanan uang digital. Ini merupakan gabungan dari berbagai layanan uang digital BUMN yang berganti wajah menjadi satu dalam LinkAja.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Nailul Huda, menilai LinkAja mampu mengalahkan layanan serupa yang terlebih dulu hadir seperti GO-PAY hingga OVO. Sebab, dengan dukungan pasar dan modal besar, hal ini mungkin untuk terjadi.

"Dengan kekuatan dia yang lebih besar, dengan gabungan dari bank-bank negara, Telkomsel, Pertamina, dia pasarnya sangat luas. Dia bahkan bisa mengalahkan Gojek (GO-PAY) sama OVO," jelas dia saat ditemui, di Jakarta, Jumat (3/1).

Namun, kehadiran LinkAja bukan tanpa kelemahan. Dia menilai LinkAja bisa kontradiktif terhadap pengembangan bisnis fintech di Indonesia. LinkAja bisa saja mengganggu pasar bisnis fintech pembayaran saat ini sedang berkembang pesat dan menarik minat swasta.

"Swasta ini kan lagi tumbuh. Swasta berminat. Ketika swasta berminat, yang terjadi justru swasta diberikan insentif. Kalau BUMN masuk dia jadi disinsentif dong. Kalau disinsentif otomatis tidak ada swasta yang mau masuk. Lesu lah," kata dia.

Dia mengatakan, dengan jumlah pengguna dan modal yang besar, LinkAja bisa mendominasi pasar. Hal ini tentu menurunkan minat sektor swasta untuk masuk ke bisnis fintech.

Selain itu, yang dia khawatirkan dari masuknya LinkAja, yakni terciptanya persaingan yang tidak sehat. "Kalau untuk top up itu kan biasanya memakai jasa perbankan. Ketika mau top up, ketika bank BUMN punya kepentingan juga, dia bisa saja LinkAja digratiskan tapi di satu sisi, Ovo sama GO-PAY bertarif. Biar pindah ke LinkAja," ujarnya.

"Bisa banget. Itu sangat mungkin terjadi ketika seseorang menguasai pasar dan dia menguasai integrasi dari pasarnya sendiri. Kan bisnis top up terintegrasi sama fintech. Lebih baik aku kembangkan punyaku sendiri," imbuhnya.

Dia mengakui, bagi fintech pembayaran yang sudah ada seperti GO-PAY dan OVO, masuknya LinkAja tidak memberikan dampak yang signifikan. Namun, akan sangat mengganggu fintech yang baru akan masuk. "Fintech seperti Gojek, OVO, dan Dana dampaknya tidak akan signifikan. Kan dananya masih tinggi, tapi fintech yang baru masuk, ketika dimasuki BUMN, pasarnya siapa lagi nih," tandas dia. [bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini