Harga beras naik namun tak untungkan petani daerah

Jumat, 12 Januari 2018 20:29 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
padi. ©Istimewa

Merdeka.com - Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih mengatakan kenaikan harga beras yang terjadi saat ini sama sekali tidak menguntungkan petani. Selain merugikan konsumen, petani juga ikut menderita kerugian.

Menurutnya, impor beras yang dilakukan pemerintah sebagai solusi justru akan membuat petani semakin merugi. Petani tak punya patokan untuk berproduksi maupun dalam harga.

"Harusnya pemerintah Indonesia punya kebijakan yang ajeg, yang permanen. Impor beras ini langgar UU Pangan No.18/2012. Ini juga menunjukkan data Kementan, yang katanya surplus beras, tidak benar karena data produksi beras bukan dari BPS melainkan Kementan sendiri," kata Henry dalam keterangan resminya, Jumat (12/1).

Hal senada disampaikan Muhlasin, petani asal Pringsewu, Lampung. Saat ini harga beras terus naik, per hari ini harga beras asalan mencapai Rp 10.500 per kg dan Rp 12.000 untuk jenis beras medium di tingkat pabrik. Menurutnya kondisi ini dipicu oleh banyaknya pedagang beras dan spekulan dari Jawa yg membeli beras dalam skala besar di pabrik-pabrik di Lampung, terutama Lampung Tengah, Pringsewu, dan Tanggamus.

"Mengenai panen, baru satu bulan lagi petani di beberapa daerah melakukan panen, sementara panen raya baru akan 2-3 bulan lagi karena rata-rata umur padi bervariasi antara 20 hst sampai 40 hst di seputar Pringsewu, Lampung Tengah, Metro dan sebagian besar Lampung," kata Muhlasin.

Muhlasin menegaskan bahwa kenaikan harga beras kali ini sama sekali tidak dinikmati oleh petani. Sebagian besar petani padi hanya memiliki lahan yang sempit, rata-rata di Lampung hanya memiliki lahan 3.000 m2, bahkan kurang.

"Jadi pada saat panen memang terpaksa harus langsung dijual untuk menutupi kebutuhan hidup, membayar pupuk, dan sebagainya, jadi hanya sedikit yang bisa disimpan untuk makan," tutur Ketua SPI Lampung ini.

Dari Sukabumi, Ketua SPI Jawa Barat Tantan Sutandi mengemukakan, saat ini harga beras di konsumen berkisar Rp 9.600 hingga Rp 12.000, harga ini di atas HET Beras untuk pulau Jawa. Di sebagian besar wilayah Jawa Barat (Jabar), sudah panen padi sejak Oktober-November kemarin. Sehingga Januari ini belum ada panen padi di sebagian besar daerah di Jabar.

"Harga panen kemarin sangat rendah, GKG sekitar Rp 4.500 (dibawah HPP). Sehingga kenaikan harga beras saat ini tidak dirasakan oleh petani Jabar. Penurunan harga disebabkan kualitas gabah yang buruk, karena banyak sawah yang terkena hama wereng. Banyak petani juga mengalami gagal panen dan puso," kata Tantan.

Tantan juga mengutarakan, Desember 2017 kemarin, di Jabar sudah memasuki masa tanam. Sehingga panen berikutnya diperkirakan sekitar Maret-April 2018.

Hal senada disampaikan petani SPI dari Pati, Jawa Tengah (Jateng). Edi Sutrisno, Ketua SPI Jateng menjelaskan, pada November-Desember 2017 beberapa wilayah di Jateng panen. Sayangnya banyak sawah petani terkena hama tikus. Sehingga produksinya menurun bahkan sampai gagal panen.

Edi menjelaskan, harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani cukup tinggi, karena keterbatasan gabah. Untuk GKP kualitas premium sebesar Rp 7.500 per kg dan kualitas medium Rp 5.000 per kg. Sementara harga beras di tingkat konsumen berkisar Rp 10.200 - Rp 11.000 per kg.

"Saat ini petani di Jateng sedang memasuki musim tanam, dan diperkirakan panen pada Maret-April 2018," tutupnya. [azz]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.