Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura, Suryopratomo, baru-baru ini menyatakan dukungan penuh terhadap rencana pembangunan Bandara Internasional Bali Utara. Pernyataan ini disampaikan dalam pertemuan penting di Singapura pada Sabtu lalu. Pertemuan tersebut melibatkan CEO PT BIBU Panji Sakti, Erwanto Sad Adiatmoko Hariwibowo, serta perwakilan Puri-Puri Se-Jebag Bali.
Kunjungan ini bertujuan membahas percepatan realisasi proyek infrastruktur strategis tersebut yang dinilai krusial. Dubes Suryopratomo melihat pembangunan ini sebagai langkah relevan untuk mencapai pemerataan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, proyek ini diharapkan dapat meningkatkan stabilitas sosial ekonomi di seluruh wilayah Bali.
Dukungan dari Kedutaan RI di Singapura menunjukkan komitmen kuat untuk menjembatani komunikasi dengan investor internasional. Ini juga membuka peluang bagi diaspora Indonesia yang berminat berkontribusi pada proyek vital ini. Inisiatif ini diharapkan mampu mengimbangi konsentrasi pembangunan yang selama ini terpusat di Bali bagian selatan.
Advertisement
Advertisement
Dubes Suryopratomo menyoroti kondisi Bali saat ini, di mana sebagian besar aktivitas ekonomi dan pariwisata terpusat di wilayah selatan. Konsentrasi ini mengakibatkan beban infrastruktur yang berlebihan dan tekanan lingkungan yang signifikan di kawasan tersebut. "Saya melihat peluang besar agar Bali Utara dapat menjadi gerbang baru yang tidak hanya membuka ruang bagi pertumbuhan lokal, tetapi juga menjadi pusat ekonomi untuk pengembangan Indonesia timur," ujarnya.
Menurut Suryopratomo, Bali Selatan telah mencapai titik jenuh dalam menampung kapasitas kunjungan wisatawan. Oleh karena itu, pengembangan wilayah utara menjadi sangat mendesak. "Saatnya Bali Utara berkembang untuk mengimbangi Bali Selatan untuk kebaikan Bali sendiri dan untuk perkembangan industri pariwisata," tegasnya.
Kedutaan RI di Singapura siap berperan aktif dalam diplomasi dan membangun relasi internasional guna mendukung percepatan proyek Bandara Bali Utara. Mengingat Singapura merupakan salah satu pusat keuangan dunia, upaya meyakinkan para pemangku kepentingan internasional menjadi prioritas. Komitmen ini diharapkan dapat menarik investasi yang diperlukan untuk mewujudkan bandara tersebut.
Advertisement
Advertisement
Pembangunan Bandara Internasional Bali Utara bukanlah gagasan baru, melainkan telah lama digulirkan sebagai langkah strategis. Tujuannya adalah menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan meratakan pembangunan di seluruh Bali. Selama ini, tekanan sosial-ekonomi, kepadatan, dan degradasi lingkungan terutama tertuju pada kawasan selatan Bali, dari Denpasar hingga Badung.
Keberadaan Bandara Bali Utara telah secara resmi tercantum dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Perpres ini disusun oleh Kementerian PPN/Bappenas dan ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto pada 10 Februari 2025 lalu. Penentuan lokasi di Bali Utara sudah tegas dan final.
CEO PT BIBU Panji Sakti, Erwanto Sad Adiatmoko Hariwibowo, menyampaikan optimisme terkait peta kerja serta rencana waktu dan skema kemitraan. "Insya Allah dalam waktu dekat kita segera memulai pembangunan bandara internasional di Bali Utara," kata Erwanto. Pernyataan ini mengindikasikan kesiapan untuk segera merealisasikan proyek tersebut.
Advertisement
Sementara itu, para penglingsir Bali, AA Ngurah Ugrasena dan AA Ngurah Alit Kakarsana, menegaskan bahwa proyek ini lebih dari sekadar infrastruktur. Mereka melihatnya sebagai amanat adat dan tanggung jawab untuk menjaga kelestarian budaya serta kesejahteraan masyarakat Bali, khususnya di wilayah utara. "Terlebih kami mendengar langsung janji yang diucapkan Presiden saat kami para penglingsir se-Jebag Bali diterima tahun lalu," tambah A.A. Ngurah Alit Kakarsana, menunjukkan dukungan kuat dari tokoh adat.
Sumber: AntaraNews