Ekspor Udang Terhambat Akibat Radioaktif: Harga Berpotensi Turun, Pasar Amerika Menutup Akses
Udang menjadi penyumbang devisa utama dalam ekspor perikanan Indonesia, dengan total nilai ekspor diperkirakan mencapai USD 1,68 miliar pada tahun 2024.
Kontaminasi radioaktif Cesium-137 (Cs-137) pada produk udang dari Indonesia kembali menjadi perhatian serius bagi industri perikanan nasional. Masalah ini muncul setelah U.S. Food and Drug Administration (FDA) mengeluarkan peringatan impor pada 14 Agustus 2025 terhadap salah satu perusahaan pengolah dan eksportir udang terbesar di tanah air. Selain itu, keputusan untuk mengedarkan kembali kontainer produk udang yang diduga terkontaminasi radioaktif Cesium-137 ke pasar domestik menimbulkan keresahan baru di kalangan pelaku industri.
Rizky Darmawan, Ketua Petambak Muda Indonesia (PMI), menegaskan bahwa langkah tersebut harus diiringi dengan tingkat transparansi yang tinggi. "Tes pengujian harus terbuka dan kuantitatif," kata Rizky, Senin (22/9).
Dia menambahkan bahwa jika pemerintah percaya produk tersebut aman, hasil pengujian seharusnya dipublikasikan secara resmi untuk meyakinkan pasar, termasuk FDA. Tanpa adanya transparansi, pelepasan kontainer bisa menimbulkan kekhawatiran di pasar ekspor maupun domestik.
Ketidakjelasan dalam penyelesaian masalah ini mulai memberikan dampak yang meluas. Penghentian operasi pabrik yang terlibat dalam kasus ini telah mengurangi daya serap industri terhadap hasil panen tambak. Meskipun produksi di tingkat petambak masih berjalan, penjualan terhambat karena sebagian besar udang yang dihasilkan di Indonesia ditujukan untuk pasar ekspor.
Udang menjadi penyumbang devisa terbesar dalam ekspor perikanan Indonesia, dengan nilai ekspor diperkirakan mencapai USD 1,68 miliar pada tahun 2024. Sebagian besar produk udang ini diekspor ke Amerika Serikat, sehingga gangguan dalam akses pasar dapat berdampak signifikan terhadap perekonomian nasional dan kesejahteraan jutaan petambak.
Menurut data dari PMI, harga udang di beberapa wilayah, terutama di Aceh dan Medan, mengalami penurunan yang tajam, tetapi penjualan tetap menghadapi kesulitan.
"Jika kondisi ini terus berlarut, harga bisa semakin jatuh dan mengancam keberlangsungan usaha petambak," ujar Rizky.
Lebih lanjut, Rizky juga menyebutkan bahwa terdapat kabar mengenai beberapa pengecer besar di Amerika Serikat yang mulai menunda bahkan membatalkan pesanan dari Indonesia. Hal ini membuat banyak petambak memilih untuk menunda siklus produksi berikutnya agar bisa menghindari kerugian yang lebih besar. Keputusan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi terhadap situasi pasar yang tidak menentu, yang dapat berakibat fatal bagi usaha mereka. Dengan demikian, ketidakpastian dalam pasar ekspor udang sangat mempengaruhi kondisi finansial para petambak di tanah air.
Uji di Laboratorium
PMI mengharapkan agar pemerintah segera melaksanakan uji laboratorium secara menyeluruh. Selain itu, hasil dari uji tersebut perlu dipublikasikan secara resmi dan langkah-langkah yang diambil harus dikomunikasikan dengan jelas. Hal ini termasuk penjelasan mengenai penyebab kontaminasi serta upaya pencegahan yang dilakukan agar kasus serupa tidak terjadi lagi.
Ia menekankan, "transparansi dan kejelasan langkah ini sangat penting untuk memulihkan kepercayaan pasar dan menjaga keberlanjutan industri udang nasional." Dengan demikian, langkah-langkah yang diambil akan memberikan keyakinan kepada masyarakat dan pelaku industri bahwa pemerintah serius dalam menangani masalah ini.