Pemerintah Kabupaten Lebak secara aktif mendorong para petani di wilayahnya untuk mengoptimalkan produksi pangan. Langkah ini bertujuan meningkatkan indeks pertanaman (IP) menjadi tiga kali dalam setahun, dari sebelumnya 2,5 kali tanam.
Permintaan ini disampaikan guna mendukung penuh program swasembada pangan nasional yang dicanangkan pemerintah. Peningkatan IP menjadi 300 diharapkan dapat mengukuhkan posisi Lebak sebagai lumbung pangan di Provinsi Banten.
Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Lebak, Deni Iskandar, menyatakan bahwa upaya ini didukung oleh kebijakan strategis pemerintah. Salah satunya adalah penurunan harga pupuk bersubsidi yang meringankan beban biaya produksi petani.
Advertisement
Advertisement
Deni Iskandar menjelaskan bahwa kebijakan pemerintah untuk mencapai IP tiga kali tanam setahun melibatkan beberapa aspek penting. Ini termasuk perbaikan sarana irigasi yang vital untuk pengairan lahan pertanian, serta penyaluran sarana produksi (saprodi).
Penyaluran saprodi yang memadai bagi petani mencakup benih berkualitas, pestisida, hingga penurunan harga pupuk bersubsidi yang signifikan. "Kami berharap petani meningkatkan IP tiga kali tanam setahun, terlebih harga pupuk bersubsidi sudah turun," kata Deni.
Dengan luas lahan sawah baku mencapai 52.000 hektare, peningkatan Indeks Tanam Petani Lebak menjadi tiga kali tanam akan berdampak besar. Luas tambah tanam (LTT) diperkirakan mencapai 150 ribu hektare setiap tahunnya.
Advertisement
Jika produktivitas rata-rata mencapai 5 ton per hektare, maka Kabupaten Lebak berpotensi menghasilkan 750 ribu ton gabah kering panen. "Kami meyakini jika terealisasi IP tiga kali tanam setahun dipastikan Lebak menjadi lumbung pangan nasional," tambah Deni.
Advertisement
Penurunan harga pupuk bersubsidi menjadi angin segar bagi para petani di Kabupaten Lebak. Kebijakan ini secara langsung mengurangi biaya produksi yang harus ditanggung petani, sehingga mendorong peningkatan Indeks Tanam Petani Lebak.
Ruhiana, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sukabungah Desa Tambakbaya, mengungkapkan bahwa biaya pupuk bersubsidi yang semula diperlukan Rp1,5 juta kini turun menjadi Rp1 juta per hektare. "Kami meyakini berkurang biaya produksi itu, maka petani akan meningkat LTT hingga tiga kali musim tanam dalam setahun," katanya.
Hal senada disampaikan Udin, Ketua Kelompok Tani Blok Sentral Rangkasbitung, yang merasa sangat terbantu dengan kebijakan ini. Biaya produksi keseluruhan turun dari Rp10 juta menjadi Rp8 juta per hektare, meningkatkan semangat tanam.
Advertisement
Para petani kini lebih termotivasi untuk melakukan tanam padi hingga tiga kali musim tanam dalam setahun. Semangat ini diharapkan dapat terealisasi secara luas di seluruh wilayah pertanian Lebak, termasuk yang sebelumnya hanya dua kali tanam.
Sumber: AntaraNews