Farmasi merupakan salah satu industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap garam impor sebagai bahan baku. Pada tahun ini, kebutuhan garam untuk industri tersebut mencapai 6.846 ton.
Plant Manager PT Intan Jaya Medeka Solusi, Rudi Santoso mengatakan, pada tahun lalu pihaknya mengalami kesulitan untuk mendapatkan garam. Padahal, seiring dengan peningkatan keanggotaan BPJS Kesehatan, kebutuhan akan obat-obatan dan alat kesehatan terus meningkat.
"(Garam) Ini penting. Sekarang BPJS pelanggan saya. Memang tahun 2017 agak sulit untuk impor garam," ujar dia di Kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Jakarta, Selasa (20/3).
Dia mengungkapkan, setiap tahunnya industri farmasi membutuhkan garam sekitar 6.000 ton. Namun ke depannya kebutuhan garam diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan peningkatan kebutuhan akan obat-obatan.
"Kami impor sebetulnya tidak terlalu banyak. Hanya 1.200 ton-1.300 ton. Kalau dari semua farmasi, 5.000 ton-6.000 ton. Sekarang mungkin bisa 8.000 ton-10 ribu ton. Karena trennya cukup tinggi, karena sekarang BPJS cover semua," jelas dia.
Menurut Rudi, pihaknya juga pernah menggunakan garam lokal untuk kebutuhan produksinya. Namun ternyata garam tersebut tidak cocok bahkan hingga menyebabkan kejang-kejang pada pasien yang menggunakan produk farmasinya.
"Kami juga pernah melakukan modifikasi produk, menggunakan garam lokal yang (kualitas) agak tinggi, enggak bisa masuk. Di Bali, pasiennya kejang-kejang karena garamnya kurang kemurniannya. Karena purity harus 99 persen, bahkan 100 persen," tandas dia.
Reporter: Septian Deny
Sumber: Liputan6.com