Asosiasi: Kabar Puluhan Hotel di Bali akan Dijual Tidak Benar

Minggu, 5 April 2020 16:52 Reporter : Siti Nur Azzura
Asosiasi: Kabar Puluhan Hotel di Bali akan Dijual Tidak Benar Ilustrasi hotel. ©2012 Shutterstock/Brian A Jackson

Merdeka.com - Ketua Bali Hotel Association (BHA) I Made Ricky Darmika Putra mengatakan tidak benar informasi yang beredar melalui sejumlah media sosial yang menyebutkan puluhan hotel berbintang di Pulau Dewata akan dijual karena terdampak pandemi COVID-19.

"Mengenai informasi hotel-hotel di Bali yang akan dijual tersebut, sudah banyak dibantah dari pihak hotel, sehingga informasi itu tidak benar," kata Ricky di Denpasar, Minggu (5/4).

BHA merupakan asosiasi general manager hotel berbintang 4 dan 5 seluruh Bali dan memiliki 168 anggota hotel dengan 32.000 kamar dan 46.000 karyawan. Dia tidak memungkiri saat ini hampir rata-rata hotel di Pulau Dewata ditutup sementara karena mengutamakan imbauan pemerintah tentang keselamatan yang utama dan tetap aman.

"Dalam situasi global seperti sekarang, kami benar-benar mengutamakan imbauan pemerintah, ditambah dengan larangan pemerintah yang memeriksa WNA masuk ke Indonesia serta imbauan supaya masyarakat untuk tetap tinggal dulu di rumah," ujar general manager Santrian Group itu.

Hal tersebut, sangat mempengaruhi kedatangan wisatawan mancanegara dan domestik ke Bali. Saat ini, hampir semua hotel dan restoran di Bali ditutup sementara untuk satu hingga dua bulan ke depan, sekalian melihat situasi terkini.

Jika ada beberapa hotel yang masih terbuka, dengan minimum okupansi di bawah 10 persen dan restoran tutup lebih awal dari biasanya. Dia berharap, semua general manager dan pemilik hotel sebisanya menghindari PHK sembari tetap berdoa situasi ini segera pulih.

1 dari 1 halaman

Sementara itu, Wakil Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Bali, I Made Ramia Adnyana mengatakan, informasi soal puluhan hotel di Bali yang akan dijual itu merupakan hoaks. "Contohnya saja hotel H Sovereign Bali, yang masuk dalam daftar informasi hoaks itu. H Sovereign Bali tidak sedang dalam kondisi dijual. Kami masih buka, walaupun ada wisatawan hanya 5-10 kamar," ujar Ramia yang juga GM hotel H Sovereign Bali itu.

Untuk menyikapi situasi yang sulit ini, pihaknya telah melakukan efisiensi di semua lini, termasuk menjadwalkan karyawan untuk mengambil libur, cuti dan "extra off" mereka mulai dari pertengahan Februari 2020.

"Selain itu, juga menunda semua rencana perbaikan produk, menunda semua Purchase Request (PR) dan Purchase Order (PO), melakukan negosiasi pembayaran ke vendor dengan termin yang lebih panjang, serta menagih semua piutang untuk mendapatkan uang tunai," ucapnya.

Di samping itu, melakukan pemasaran yang lebih kreatif dengan menambahkan keuntungan lebih banyak dan menjual voucher yang bisa berlaku setahun ke depan untuk diambil dikemudian hari dengan "open voucher". "Kami tidak ada rencana melakukan PHK, tetapi kami melakukan giliran kerja yang adil untuk semua karyawan," ujar Ramia.

Sebelumnya, beredar pesan elektronik yang merinci sebanyak 47 hotel di Bali akan dijual. Salah satunya Hotel Bintang 5, Pullman Kuta sebesar 60 persen Saham dengan harga Rp
1.500 triliun. [azz]

Baca juga:
Akibat Corona, 1.139 Hotel di Indonesia Tutup Hingga PHK Karyawan
Turis Sepi Karena Covid-19, 60 Persen Karyawan Hotel di DIY Dirumahkan
Antisipasi Corona, 8 Hotel di Jakarta Tutup dan Beralih Fungsi
Jumlah Pengunjung Turun 95 Persen, Hotel di Puncak Rumahkan Karyawan
Wishnutama Beberkan Syarat Agar Hotel Bisa Sewakan Kamar Bagi Tenaga Medis
Kemenparekraf Gandeng Accor Group Sediakan 1.100 Kamar bagi Tenaga Medis Virus Corona

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Hotel
  3. Bali
  4. Hoaks
  5. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini