Asosiasi desak pemerintah batasi impor gula

Kamis, 20 Juli 2017 21:27 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
Asosiasi desak pemerintah batasi impor gula Ilustrasi gula. ©Shutterstock/Lightspring

Merdeka.com - Ketua Umum Andalan Petani Rakyat Indonesia (APTRI), Sumitro mengatakan para petani tebu meminta agar pemerintah membatasi impor gula ke Indonesia. Menurutnya, selama ini stok gula impor terlalu berlebihan sehingga banyak terjadi rembesan gula rafinasi di beberapa daerah.

Hal ini menunjukan bahwa ada kelebihan jumlah gula yang diimpor. Selain itu juga ada mekanisme dalam perdagangan gula rafinasi yang perlu dibenahi. Adanya aturan baru penjualan gula rafinasi melalui lelang secara online sesuai dengan Permendag Nomor 16 Tahun 2017 menjadi solusi untuk mencegah rembesan gula rafinasi dan membatasi impor.

Dengan aturan baru tersebut, kemasan gula rafinasi memakai e-barcode sehingga apabila ada kebocoran, dengan mudah bisa diketahui siapa pemilik gula tersebut. Untuk itu, APTRI mengusulkan adanya pembatasan impor sesuai kebutuhan dan mendukung lelang gula rafinasi secara online bisa segera dilaksanakan.

"Impor gula harus dibatasi sesuai kebutuhan. Kebutuhan manusia Indonesia katakanlah rata-rata 11 Kg setahun per orang. Jadi jangan dilebih-lebihkan," ujar Soemitro dalam Rapat Kerja Nasional APTRI di Jakarta, Kamis (20/7).

Soemitro menjelaskan, pembatasan atau penghentian impor gula menjadi hal penting kalau memang komitmen terhadap swasembada gula ingin dicapai. Hal ini juga sangat ditentukan oleh kesejahteraan petani gula agar tetap mau konsisten menanam tebu.

"Kalau kesejahteraan petani gula hancur, maka saya yakin mereka makin lama enggak mau menanam tebu. Nah, kalau enggak menanam tebu berarti harus impor. Kalau impor jelas berarti bertolak belakang dengan keinginan swasembada gula," jelasnya.

Menurut Soemitro, banyak salah perhitungan yang akhirnya dijadikan alasan untuk menaikkan angka impor gula dari waktu ke waktu. Padahal, kebutuhan pada konsumsi gula tak bisa disamakan dengan kebutuhan akan daging sapi. Konsumsi gula belum tentu meningkat jika kesejahteraan ekonomi meningkat. Berbeda dengan daging yang konsumsinya makin meningkat ketika kesejahteraan ekonomi masyarakat naik.

"Makin mapan ekonomi makin kencang juga makan daging. Sebaliknya kadang konsumsi gula bagi kalangan ekonomi atas justru menurun dibanding kalangan menengah. Sering terjadi makin kaya makin mengurangi gula," pungkasnya. [sau]

Topik berita Terkait:
  1. Gula
  2. Swasembada Gula
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini