Tempat sampah organik menjadi salah satu sumber bau tidak sedap yang sering muncul di dapur. Ketika dibiarkan menumpuk, sisa sayuran, kulit buah, potongan makanan, hingga sisa nasi bisa menimbulkan aroma menyengat. Apalagi jika tempat sampah berada di dalam ruangan dan digunakan setiap hari, bau tersebut bisa menyebar ke area dapur maupun ruang makan.
Masalahnya, mencuci tempat sampah terlalu sering terkadang terasa merepotkan. Belum lagi jika wadah harus dikeringkan terlebih dahulu sebelum digunakan kembali. Padahal, ada beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan untuk mengurangi bau dari tempat sampah organik tanpa harus terus-menerus mencucinya.
Kuncinya adalah mengendalikan kelembapan, mengurangi sisa cairan, dan mencegah sampah organik membusuk dalam kondisi yang memicu aroma tidak sedap. Lantas bagaimana saja cara mengurangi bau dari tempat sampah organik di dapur tanpa harus sering mencucinya? Melansir dari berbagai sumber, Jumat (6/11/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
Advertisement
1. Tiriskan Sisa Makanan Sebelum Dibuang
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4813154/original/025902700_1714054513-top-view-trash-cooking-concept__2_.jpg)
Salah satu penyebab tempat sampah organik cepat berbau adalah banyaknya cairan yang ikut dibuang bersama sisa makanan. Air dari sayuran, buah, kuah makanan, dan bahan pangan lainnya bisa mengendap di bagian bawah wadah. Kondisi lembap tersebut membuat sampah lebih mudah mengalami pembusukan dan menghasilkan aroma yang kurang sedap.
Karena itu, City of Sacramento – Free Kitchen Pail and Tips for Recycling Food Waste menekankan untuk biasakan meniriskan sisa makanan sebelum memasukkannya ke tempat sampah. Potongan sayuran atau kulit buah yang masih basah bisa diletakkan terlebih dahulu di saringan agar cairannya berkurang. Sementara itu, sisa kuah dan minuman sebaiknya dipisahkan dan tidak langsung dituangkan ke dalam wadah sampah organik.
Kebiasaan sederhana ini membantu mengurangi penumpukan cairan di dasar tempat sampah. Selain mengurangi bau, kondisi wadah juga tidak terlalu becek sehingga lebih mudah digunakan kembali tanpa harus langsung dicuci setiap selesai membuang sampah.
Advertisement
2. Lapisi Dasar Tempat Sampah dengan Koran Bekas
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9338637/original/010960200_1788336035-pexels-brotin-biswas-158640-518543.jpg)
Koran bekas ternyata bisa dimanfaatkan untuk membantu mengurangi bau dari tempat sampah organik. Caranya cukup mudah, yaitu dengan meletakkan beberapa lembar koran di bagian dasar wadah sebelum digunakan. Kertas tersebut dapat membantu menyerap cairan yang keluar dari sisa makanan sehingga tidak langsung mengendap di permukaan tempat sampah.
Penelitian Qamaruz-Zaman dan Milke dalam Communications in Waste and Resource Management (2008), berjudul Laboratory Comparison of Odour Control Techniques for Separated Residential Food Waste, menemukan bahwa koran cukup efektif membantu mengendalikan bau karena memiliki kemampuan menyerap kelembapan. Misalnya, kulit buah, potongan sayuran, atau ampas makanan yang masih mengandung banyak air. Dengan begitu, kelembapan bisa lebih terkendali dan bagian dalam wadah tidak cepat kotor.
Penggunaan koran juga membantu mengurangi sisa makanan yang menempel langsung pada permukaan tempat sampah. Namun, sebaiknya gunakan kertas secukupnya dan segera ganti jika sudah terlalu basah. Jika sampah akan diolah menjadi kompos, pastikan kertas yang digunakan tidak mengandung lapisan plastik atau bahan yang sulit terurai.
Advertisement
3. Taburkan Baking Soda untuk Membantu Menyerap Bau
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3531946/original/007660600_1628148065-flour-powder-wheat-jar.jpg)
Baking soda atau soda kue juga bisa menjadi pilihan sederhana untuk membantu mengurangi bau dari tempat sampah organik. Bahan yang biasanya digunakan untuk membuat kue ini memiliki sifat kimia yang dapat membantu menetralkan sebagian senyawa penyebab bau.
Cara menggunakannya cukup praktis. Taburkan sedikit baking soda pada bagian dasar tempat sampah yang sudah dilapisi kertas atau pada bagian atas sampah yang mulai mengeluarkan aroma kurang sedap. Jika menggunakan wadah kecil, tidak perlu menambahkan terlalu banyak. Ganti atau tambahkan kembali ketika bahan sudah tercampur dengan cairan dan kotoran.
Manfaat baking soda untuk mengendalikan bau juga pernah diteliti dalam jurnal Waste Management pada 2015. Penelitian tersebut menemukan bahwa penggunaan natrium bikarbonat dapat mengurangi konsentrasi bau pada sampah organik yang disimpan selama tujuh hari. Meski demikian, hasil penelitian menggunakan takaran dan kondisi tertentu sehingga tidak perlu langsung diterapkan sebagai dosis rumah tangga.
Advertisement
4. Tutup Sampah dengan Daun Kering atau Kertas Bekas
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309861/original/013103500_1785291941-2.jpeg)
Cara berikutnya adalah menutup lapisan sampah organik menggunakan bahan kering. U.S. Environmental Protection Agency – Composting at Home. EPA menjelaskan bahwa penambahan bahan kering kaya karbon dapat membantu mengatasi bau pada kompos yang terlalu basah dan meningkatkan kondisi penguraian.
Daun kering, potongan kardus polos, atau kertas bekas yang sudah disobek kecil-kecil bisa dimanfaatkan untuk membantu menyerap kelembapan berlebih. Cara ini juga membuat sisa makanan tidak terlalu terbuka sehingga aromanya tidak langsung menyebar ke seluruh dapur.
Dalam pengelolaan sampah organik, bahan kering sering disebut sebagai bahan kaya karbon atau browns. Bahan ini membantu menyeimbangkan sampah basah yang kaya nitrogen atau greens. Jika sampah terlalu basah dan menumpuk tanpa cukup bahan kering, proses penguraian bisa berlangsung dalam kondisi kekurangan oksigen dan menimbulkan bau tidak sedap.
Setiap kali menambahkan sisa makanan, taburkan sedikit bahan kering di atasnya. Tidak perlu memenuhi wadah dengan daun atau kertas, cukup gunakan lapisan tipis untuk menutup permukaan sampah. Jika wadah digunakan untuk mengumpulkan bahan kompos, pilih daun kering atau kertas yang tidak dilapisi bahan sintetis agar tetap sesuai untuk pengomposan.
Advertisement
5. Gunakan Tempat Sampah Bertutup dan Simpan di Area Sejuk
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309859/original/004994500_1785291941-hl.jpeg)
Pemilihan tempat sampah juga berpengaruh terhadap munculnya bau di dapur. Sebaiknya gunakan wadah yang memiliki penutup rapat agar aroma dari sisa makanan tidak mudah menyebar. Penutup juga membantu mengurangi akses lalat dan serangga yang tertarik pada sampah organik.
Selain itu, hindari meletakkan tempat sampah tepat di dekat kompor, oven, atau area yang terkena sinar matahari langsung. Suhu yang lebih hangat dapat mempercepat proses pembusukan sisa makanan sehingga aroma tidak sedap lebih cepat muncul. Pilih sudut dapur yang sejuk, kering, dan tidak mengganggu sirkulasi aktivitas memasak.
Jika memiliki sisa makanan yang mudah membusuk, seperti potongan ikan atau buah yang sudah terlalu matang, simpan sementara dalam wadah tertutup di lemari pendingin atau freezer sebelum dibuang. Cara ini dapat membantu memperlambat pembusukan dan mengurangi bau selama menunggu jadwal pembuangan sampah.
Advertisement
6. Buang Sampah Organik Secara Teratur Sebelum Menumpuk
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8385983/original/056884800_1782265466-cropped-6b0c6488-e402-4c22-9c4e-9803c397fef1.jpg)
Meskipun sudah menggunakan baking soda, koran, dan bahan penyerap kelembapan, sampah organik tetap tidak sebaiknya dibiarkan terlalu lama di dalam dapur. Semakin banyak sisa makanan yang menumpuk, semakin besar pula kemungkinan munculnya aroma menyengat akibat proses pembusukan.
Biasakan mengosongkan tempat sampah secara teratur, terutama setelah membuang sisa makanan yang mudah membusuk. Kulit buah yang terlalu matang, potongan sayuran basah, dan sisa makanan berkuah sebaiknya tidak dibiarkan menumpuk berhari-hari. Jika memungkinkan, buang sampah organik setiap hari atau sesuaikan dengan volume sampah yang dihasilkan di rumah.
Setelah wadah dikosongkan, periksa bagian dasar dan sudut tempat sampah. Jika masih ada sisa cairan atau kotoran yang menempel, bersihkan bagian tersebut menggunakan kain atau tisu, kemudian keringkan. Pencucian menyeluruh tetap perlu dilakukan secara berkala atau ketika wadah sudah kotor dan berbau, tetapi tidak harus selalu dilakukan setiap kali sampah dibuang.
Kebiasaan ini membuat tempat sampah lebih terawat sekaligus membantu menjaga dapur tetap nyaman. Dengan mengatur jumlah sampah dan tidak membiarkannya menumpuk, masalah bau bisa dikendalikan tanpa harus menghabiskan banyak waktu untuk mencuci wadah setiap hari.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Bau Tempat Sampah Organik
1. Apa penyebab tempat sampah organik cepat bau?
Penyebab utamanya adalah pembusukan sisa makanan, terutama bahan yang mengandung banyak air. Kondisi lembap, penumpukan sampah, dan kurangnya sirkulasi udara juga dapat mempercepat munculnya bau.
2. Apakah baking soda bisa menghilangkan bau tempat sampah?
Baking soda dapat membantu mengendalikan sebagian senyawa penyebab bau. Taburkan secukupnya pada dasar wadah atau permukaan sampah, kemudian ganti secara berkala.
3. Apakah koran bekas bisa digunakan untuk mengurangi bau sampah?
Bisa. Koran membantu menyerap cairan dari sisa makanan sehingga kondisi tempat sampah tidak terlalu lembap.
4. Seberapa sering tempat sampah organik harus dikosongkan?
Idealnya setiap hari atau sebelum sampah menumpuk dan mulai mengeluarkan bau menyengat. Frekuensinya dapat disesuaikan dengan jumlah sampah yang dihasilkan.
5. Apakah tempat sampah organik harus dicuci setiap hari?
Tidak harus, selama wadah tetap bersih dan tidak ada cairan atau kotoran yang menempel. Namun, pencucian menyeluruh tetap perlu dilakukan secara berkala dan setiap kali wadah sudah kotor atau berbau.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309864/original/024127800_1785291941-5.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5492356/original/075353900_1770171234-e52b65bd-db70-4db7-baea-b3aecb3a2445.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9391500/original/056279200_1793937291-Ceropegia_Sandersonii.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9391549/original/007757000_1793939676-Gemini_Generated_Image_rv57cprv57cprv57.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9391490/original/068361900_1793936327-2cb0d18a-7eb5-498c-ab86-24ecea7882bf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9293624/original/022604400_1783739868-4c009fd0-94eb-48c9-8025-aca0abef48c5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9391064/original/047837100_1793871170-Dusty_Space_Beneath_the_Bed.jpg)