Setelah berbulan-bulan udara terasa panas dan tanah mengering, tetes air pertama yang jatuh menandai pergantian musim yang dinanti banyak orang. Namun, ada sejumlah hal yang harus dilakukan saat hujan pertama setelah kemarau agar peralihan musim ini tidak menimbulkan masalah kesehatan maupun kerusakan di rumah.
Melansir dari jurnal Nature yang memuat penelitian Isabel Joy Bear dan Richard G. Thomas berjudul "Nature of Argillaceous Odour" (1964), aroma khas tanah basah yang tercium saat hujan pertama disebut petrichor dan berasal dari senyawa geosmin yang dilepaskan mikroorganisme tanah.
Momen hujan pertama memang terasa menyegarkan, tetapi air dan udara di sekitar rumah belum tentu sebersih yang terlihat. Debu, sisa oli kendaraan, dan kotoran yang menumpuk selama musim kemarau ikut terbawa aliran air begitu hujan turun untuk pertama kalinya. Karena itu, penting memahami langkah antisipasi sejak dini, mulai dari kebersihan rumah, keselamatan berkendara, hingga kewaspadaan terhadap penyakit musiman. Berikut adalah hal yang harus dilakukan saat hujan pertama setelah kemarau dirangkum dari berbagai sumber, Rabu (23/9/2026).
Advertisement
1. Bersihkan Saluran Air dan Talang Rumah Lebih Dulu
Selama musim kemarau, talang air, saluran got, dan selokan di sekitar rumah rawan tersumbat oleh daun kering, debu, dan sampah yang menumpuk tanpa tersapu air. Ketika hujan pertama turun dengan intensitas cukup deras, saluran yang tersumbat berisiko membuat air meluap ke halaman atau bahkan masuk ke dalam rumah. Membersihkan talang dan saluran air sebelum musim hujan tiba merupakan langkah pencegahan paling sederhana namun sering terlewat oleh banyak pemilik rumah.
Periksa juga area sekitar saluran pembuangan air hujan (drainase) di depan rumah, pastikan tidak ada sampah plastik atau puing bangunan yang menyumbat aliran. Bila memungkinkan, siapkan waktu khusus menjelang musim hujan untuk menyapu halaman dan mengecek kondisi pipa pembuangan air agar berfungsi optimal. Langkah pencegahan ini jauh lebih murah dan mudah dibandingkan harus menangani genangan atau banjir kecil di dalam rumah akibat saluran yang tersumbat.
Advertisement
2. Periksa Kondisi Atap agar Tidak Bocor
Musim kemarau yang panjang dapat membuat genteng retak akibat pemuaian material karena paparan panas matahari secara terus-menerus. Retakan kecil yang tidak terlihat pada kondisi kering ini baru akan menampakkan dampaknya ketika hujan pertama membasahi atap dan air mulai merembes ke bagian dalam rumah. Memeriksa kondisi genteng, seng, atau atap beton sebelum musim hujan tiba membantu menemukan celah kebocoran sejak dini sebelum kerusakan meluas.
Perhatikan pula sambungan antara atap dan talang, karena bagian ini paling sering menjadi titik rembesan air saat hujan turun cukup deras. Jika ditemukan retakan atau pergeseran genteng, segera perbaiki menggunakan sealant tahan air atau ganti genteng yang rusak sebelum curah hujan meningkat. Pengecekan rutin ini mencegah kerusakan plafon dan dinding yang biayanya jauh lebih besar dibanding perawatan pencegahan di awal musim.
Advertisement
3. Waspada Jalan Licin Saat Berkendara
Selama musim kemarau, permukaan jalan aspal secara bertahap menyerap sisa oli, debu karet ban, dan partikel minyak dari kendaraan yang melintas setiap hari. Ketika hujan pertama turun, lapisan minyak dan debu tersebut belum sepenuhnya tersapu air sehingga permukaan jalan menjadi jauh lebih licin dibanding kondisi hujan pada umumnya. Data Korlantas Polri pernah mencatat bahwa hujan menjadi salah satu pemicu dominan kecelakaan lalu lintas akibat faktor cuaca di jalan raya Indonesia.
Bagi pengendara motor maupun mobil, disarankan mengurangi kecepatan secara signifikan ketika melintasi jalan yang baru saja basah oleh hujan pertama, terutama di tikungan dan turunan. Pastikan kondisi ban, terutama kembangan yang tidak gundul, serta fungsi rem dalam keadaan optimal sebelum memasuki musim hujan. Menyalakan lampu utama dan menjaga jarak aman dengan kendaraan di depan juga membantu mengurangi risiko tergelincir maupun aquaplaning di jalan yang licin.
Advertisement
4. Bersihkan Kendaraan Usai Terguyur Hujan Pertama
Air hujan pertama yang membawa konsentrasi debu dan polutan lebih tinggi berpotensi meninggalkan bercak pada permukaan cat kendaraan bila dibiarkan mengering begitu saja. Kandungan asam ringan dan partikel debu pada air hujan pertama dapat menempel di bodi mobil atau motor dan lama-kelamaan mengurangi kilap cat kendaraan. Mencuci kendaraan segera setelah terkena hujan pertama membantu mengangkat sisa kotoran sebelum menempel lebih dalam pada permukaan cat maupun bagian logam.
Selain bodi kendaraan, bagian kolong dan rem juga perlu dibersihkan karena cipratan lumpur bercampur oli jalan mudah menumpuk di area tersebut. Pengendara motor sebaiknya mengecek rantai dan bagian kelistrikan setelah menerjang hujan deras, karena kelembapan berlebih berisiko menyebabkan karat atau korsleting ringan. Kebiasaan sederhana ini membantu memperpanjang usia pakai kendaraan sekaligus menjaga penampilannya tetap terawat memasuki musim hujan.
Advertisement
5. Kenali Risiko Penyakit yang Meningkat Saat Peralihan Musim
Peralihan dari musim kemarau ke musim hujan dikenal sebagai masa pancaroba yang rentan memicu peningkatan sejumlah penyakit menular di masyarakat. Melansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, genangan air yang muncul setelah hujan turun menjadi tempat ideal bagi nyamuk Aedes aegypti berkembang biak sehingga risiko demam berdarah dengue (DBD) meningkat pada awal musim hujan. Selain DBD, penyakit leptospirosis yang disebabkan bakteri Leptospira dari urine hewan seperti tikus juga cenderung naik kasusnya begitu genangan air mulai muncul di sekitar permukiman.
Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat menerapkan gerakan 3M Plus, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah penyimpanan air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi genangan. Selain itu, hindari kontak langsung antara luka terbuka dengan air genangan atau lumpur yang mungkin sudah tercemar urine hewan pembawa bakteri leptospirosis. Menjaga kebersihan lingkungan sejak hujan pertama turun jauh lebih efektif dibanding menangani wabah penyakit setelah kasus mulai bermunculan di suatu wilayah.
Advertisement
6. Siapkan Perlengkapan dan Sesuaikan Kebiasaan Harian
Menyiapkan payung, jas hujan, dan alas kaki anti air sebelum musim hujan benar-benar tiba membantu aktivitas harian tetap berjalan lancar tanpa terganggu cuaca mendadak. Simpan pula plastik atau tas kedap air untuk melindungi barang elektronik seperti laptop dan ponsel saat bepergian di tengah potensi hujan turun tiba-tiba. Bagi yang menjemur pakaian di luar ruangan, perhatikan prakiraan cuaca harian agar cucian tidak basah kembali akibat hujan yang datang tanpa peringatan panjang.
Perubahan suhu udara yang cukup drastis antara siang yang masih panas dan malam yang mulai dingin akibat hujan juga perlu diwaspadai, terutama bagi anak-anak dan lansia. Menjaga daya tahan tubuh dengan istirahat cukup, asupan cairan yang memadai, serta pakaian yang sesuai membantu tubuh beradaptasi lebih baik terhadap perubahan cuaca. Kebiasaan kecil ini sering diabaikan, padahal berperan besar mencegah tubuh mudah terserang flu atau infeksi saluran pernapasan saat peralihan musim.
Advertisement
7. Manfaatkan Air Hujan Berikutnya Secara Bijak
Setelah hujan pertama mengalami "first flush" atau kucuran awal yang membawa banyak polutan, air hujan pada guyuran-guyuran berikutnya relatif lebih bersih dan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan non-konsumsi. Menampung air hujan menggunakan tandon atau ember bersih untuk menyiram tanaman maupun mencuci halaman membantu menghemat penggunaan air bersih dari sumber utama rumah tangga. Pastikan wadah penampungan tertutup rapat agar tidak berubah menjadi tempat berkembang biak nyamuk penyebab DBD.
Bagi rumah yang memiliki sistem penampungan air hujan (rainwater harvesting) sederhana, sebaiknya alirkan air dari lima hingga sepuluh menit pertama setiap kali hujan turun agar tidak masuk ke dalam tandon utama. Cara ini membantu memastikan air yang ditampung sudah melewati fase pembersihan awal dan lebih layak digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga. Pemanfaatan air hujan secara bijak tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga membantu mengurangi beban saluran drainase di lingkungan sekitar rumah.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Tips Setelah Kemarau
Apakah air hujan pertama aman digunakan untuk keperluan rumah tangga?
Air hujan pertama sebaiknya tidak langsung digunakan untuk minum atau mencuci bahan makanan karena membawa konsentrasi debu dan polutan yang lebih tinggi akibat fenomena first flush. Air ini lebih aman dimanfaatkan setelah dialirkan beberapa menit pertama, atau digunakan untuk keperluan seperti menyiram tanaman dan membersihkan halaman.
Kenapa jalan terasa lebih licin saat hujan pertama dibanding hujan berikutnya?
Selama musim kemarau, permukaan jalan menyerap sisa oli, debu, dan partikel karet ban yang belum tersapu air, sehingga saat hujan pertama turun, campuran minyak dan air tersebut membuat aspal menjadi sangat licin. Kondisi ini membuat pengendara perlu mengurangi kecepatan dan lebih berhati-hati dibanding saat hujan yang sudah berlangsung beberapa kali.
Penyakit apa saja yang perlu diwaspadai saat musim hujan pertama tiba?
Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai demam berdarah dengue (DBD) akibat genangan air yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk, serta leptospirosis yang menular melalui urine hewan seperti tikus. Menerapkan gerakan 3M Plus dan menjaga kebersihan lingkungan sejak awal musim hujan menjadi langkah pencegahan paling efektif untuk kedua penyakit tersebut.