Seorang mufti atau ulama asal Mesir bernama Nazir Ayad mengecam keras pertemuan sejumlah orang yang mengaku tokoh agama Islam Eropa dengan Presiden Israel, Isaac Herzog di tengah genosida yang dilakukan militer zionis ke wilayah Jalur Gaza, Palestina.
Dalam pernyataanya, Ayad dengan tegas mengutuk kunjungan sejumlah orang yang mengaku ulama dari Eropa tersebut. Pernyataan itu muncul hanya beberapa hari setelah al-Azhar, badan keagamaan tertinggi Mesir juga menyuarakan kecaman.
Ayad menyebut hal itu sebagai investasi politik murahan yang menggunakan jubah ulama palsu untuk memperindah citra entitas pendudukan berdarah. Dia juga mengaku sangat menyesalkan hal itu terjadi.
"Saya sangat menyesalkan kunjungan tercela yang dilakukan oleh kelompok yang mempromosikan diri mereka sebagai tokoh agama," ungkapnya dikutip dari Middle East Monitor, Minggu (13/7).
"Orang yang menjual hati nurani mereka dengan harga murah, secara keliru membungkus diri mereka dengan jubah agama hanya untuk berdiri di hadapan para pemimpin entitas Zionis dalam sebuah adegan yang memalukan," tambahnya.
Ayad kemudian menuduh kelompok tersebut mempromosikan perdamaian palsu tanpa melihat banyaknya orang-orang tak berdosa menjadi korban genosida Israel yang parah.
"Mereka mengulang-ulang slogan kosong ini di tengah reruntuhan rumah, jasad anak-anak, dan tangisan para ibu di Gaza yang telah menghadapi pembantaian selama hampir dua tahun—tanpa berkedip sedikit pun," ungkapnya.
Sebelumnya, kantor Presiden Israel Isaac Herzog mengumumkan pihaknya menerima kunjungan para imam dan pemimpin dari komunitas Muslim di Prancis, Belgia, Belanda, Italia, serta Inggris di kantornya di Yerusalem Barat pada Senin, (7/7).
Presiden Israel dengan cepat membanggakan kunjungan tersebut dengan menyatakan dalam sebuah postingan di platform X bahwa ia telah menjamu para pemimpin Muslim penting dari seluruh Eropa.
Kantor Kepresidenan Israel menyebut, delegasi tersebut dipimpin oleh Hassen Chalghoumi dan mencakup tokoh-tokoh Muslim terkemuka. Mereka juga mengklaim jika para tokoh agama tersebut datang ke Israel untuk menyebarkan pesan perdamaian, koeksistensi, dan kemitraan antara Muslim dan Yahudi, serta antara Israel dan dunia Islam.
Advertisement
Kunjungan sekelompok orang yang mengatasnamakan diri sebagai ulama Islam dari Eropa itu juga dikecam oleh banyak pihak. Universitas Al-Azhar Kairo Mesir juga mengeluarkan penyataan resminya mengomentari peristiwa itu.
"Al-Azhar mengutuk keras kunjungan ini dari mereka yang pandangannya telah dibutakan, dan perasaan mereka diungkapkan oleh apa yang diukur oleh orang-orang yang tertindas ini seolah-olah mereka tidak peduli dengan aspek kemanusiaan, agama atau moral apa pun kepada orang-orang ini." tulis akun Facebook resmi Al Azhar dikutip dari NU Online.
Pihak Al-Azhar juga menekankan kelompok tersebut tidak mewakili Islam, umat muslim, atau pesan yang dibawa oleh para ulama, pendakwah, dan imam dalam solidaritas dengan kaum lemah dan tertindas.