Deretan Tokoh Nasional ini Pernah Diasingkan ke Papua, Tempatnya Tak Berpagar Tapi jadi Penjara Berbahaya

Sejumlah tokoh nasional Indonesia pernah diasingkan ke Papua pada masa penjajahan. Siapa saja mereka?

Mutia Anggraini
Oleh Mutia Anggraini - Reporter
Deretan Tokoh Nasional ini Pernah Diasingkan ke Papua, Tempatnya Tak Berpagar Tapi jadi Penjara Berbahaya
Deretan Tokoh Nasional ini Pernah Diasingkan ke Papua, Tempatnya Tak Berpagar Tapi jadi Penjara Berbahaya (Merdeka.com)

Sejarah mencatat bahwa beberapa tokoh nasional Indonesia pernah merasakan pahitnya pengasingan di tanah Papua. Pengasingan ini terjadi pada masa penjajahan Belanda, sebagai upaya untuk memutus pengaruh para tokoh tersebut terhadap pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Pembuangan ke daerah terpencil seperti Papua diharapkan dapat mengisolasi mereka dari masyarakat dan memadamkan semangat perjuangan. Salah satu tempat pengasingan yang terkenal adalah Boven Digoel, sebuah wilayah yang terletak di pedalaman Papua.

Kondisi alam yang keras dan terpencil menjadikan Boven Digoel sebagai lokasi ideal untuk mengasingkan para tahanan politik. Para tokoh yang diasingkan ke sana menghadapi berbagai kesulitan, mulai dari iklim yang tidak bersahabat hingga keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar.

Meskipun diasingkan, semangat perjuangan para tokoh nasional ini tidak pernah padam. Mereka tetap menjalin komunikasi dengan sesama tahanan dan terus memantau perkembangan situasi politik di tanah air.

Pengalaman pengasingan justru semakin memperkuat tekad mereka untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Lantas, siapa saja tokoh-tokoh nasional yang pernah merasakan getirnya hidup di pengasingan Boven Digoel ini? Berikut ulasan selengkapnya.

Mohammad Hatta

23 Agustus Hari Peringatan Konferensi Meja Bundar, Ketahui Latar Belakang hingga Dampaknya
moh hatta ©2024 Merdeka.com

Wapres pertama RI, Mohammad Hatta yang juga proklamator kemerdekaan Indonesia, termasuk dalam daftar tokoh yang diasingkan ke Boven Digoel. Pada tahun 1935, Hatta diasingkan karena prinsip perjuangannya dianggap terlalu berbahaya oleh pemerintah kolonial.

Sejak muda, Hatta memang dikenal aktif dalam berbagai organisasi nasionalis. Keterlibatannya dalam gerakan-gerakan tersebut membuat pemerintah kolonial merasa was-was.

Hatta dikenal sebagai sosok yang cerdas dan memiliki kemampuan organisasi yang mumpuni. Ia mampu membangkitkan semangat nasionalisme di kalangan pemuda Indonesia.

Pemerintah kolonial melihat Hatta sebagai ancaman potensial yang dapat menggoyahkan kekuasaan mereka. Oleh karena itu, pengasingan dianggap sebagai solusi untuk meredam pengaruh Hatta.

Meskipun diasingkan, Hatta tidak pernah menyerah dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia terus menjalin komunikasi dengan tokoh-tokoh pergerakan lainnya. Semangatnya yang tak pernah padam menjadi inspirasi bagi banyak orang. Pengasingan justru semakin mematangkan pemikiran dan strategi perjuangan Hatta.

Sutan Sjahrir

Sutan Sjahrir, yang kelak menjadi Perdana Menteri pertama Indonesia, juga mengalami nasib yang sama dengan Mohammad Hatta. Ia diasingkan bersama Hatta pada tahun 1935 dengan alasan yang serupa.

Pemerintah kolonial menganggap Sjahrir menganut prinsip perjuangan yang berbahaya. Sjahrir dikenal sebagai intelektual yang memiliki pandangan progresif.

Pemikiran-pemikiran Sjahrir tentang sosialisme dan demokrasi dianggap mengancam tatanan kolonial. Ia aktif dalam berbagai diskusi dan forum yang membahas tentang kemerdekaan Indonesia.

Pemerintah kolonial khawatir bahwa pemikiran Sjahrir dapat menyebar luas dan membangkitkan semangat perlawanan di kalangan masyarakat.

Seperti Hatta, Sjahrir tidak patah semangat meski diasingkan. Ia terus menulis dan mengembangkan pemikiran-pemikirannya. Pengasingan memberikan Sjahrir kesempatan untuk merenungkan berbagai persoalan bangsa dan merumuskan strategi perjuangan yang lebih efektif. Ia juga terus menjalin komunikasi dengan tokoh-tokoh pergerakan lainnya.

Surat Cinta Sutan Sjahrir kepada Maria Duchâteau: Kisah Lintas Budaya
Kees Snoek, profesor di Sorbonne Université Prancis, dalam risetnya berjudul Letters of Indonesian nationalist Sjahrir to his beloved Maria ... © 2024 planet.merdeka.com

Sayuti Melik & Tokoh Lain

Selain Hatta dan Sjahrir, Sayuti Melik juga tercatat pernah diasingkan ke Boven Digoel antara tahun 1927 dan 1938. Sayuti Melik dikenal sebagai tokoh yang berperan penting dalam pengetikan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Selain Sayuti Melik, sejumlah tokoh lainnya juga mengalami pengasingan di Boven Digoel.

Beberapa nama yang tercatat antara lain Mohamad Bondan, Maskun, Burhanuddin, Suka Sumitro, Moerwoto, Ali Archam, Muchtar Lutfi, Ilyas Yacub, dan Mas Marco Kartodikromo. Banyak dari mereka terlibat dalam "Pemberontakan November 1926" yang dilakukan oleh PKI. Ada juga yang terlibat dalam gerakan perlawanan lainnya yang dianggap mengancam pemerintah kolonial.

Para tokoh ini memiliki latar belakang dan ideologi yang berbeda-beda. Namun, mereka memiliki satu kesamaan, yaitu semangat untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Pemerintah kolonial berusaha untuk memadamkan semangat tersebut dengan cara mengasingkan mereka ke tempat yang terpencil dan sulit dijangkau.

Sekilas tentang Boven Digoel

Boven Digoel sendiri dipilih sebagai lokasi pengasingan karena letaknya yang sangat terpencil di pedalaman Papua. Tempat ini berada di tepi Sungai Digul Hilir, yang membuat pengawasan dan pelarian menjadi sangat sulit.

Lokasinya yang terpencil dan kondisi alam yang keras pun menjadikannya sebagai "penjara tanpa tembok".

Kondisi alamnya yang keras dan ganas juga menjadi faktor pertimbangan pemerintah kolonial Belanda. Boven Digoel dianggap sebagai tempat yang ideal untuk mengisolasi para tahanan politik.

Awalnya, Boven Digoel didirikan untuk menampung tahanan yang terlibat dalam pemberontakan PKI tahun 1926. Namun, kemudian tempat ini juga digunakan untuk mengasingkan tokoh-tokoh nasionalis yang dianggap mengancam pemerintah kolonial Belanda.

Boven Digoel menjadi simbol penindasan dan kekejaman pemerintah kolonial terhadap para pejuang kemerdekaan Indonesia.

Setelah pendudukan Jepang, para tahanan di Boven Digoel dipindahkan ke Australia oleh Belanda. Pemindahan ini dilakukan karena kekhawatiran akan terjadinya pemberontakan di tengah situasi perang. Boven Digoel kemudian ditinggalkan dan menjadi saksi bisu sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Rekomendasi