Di DPR, Warga Pati Sampaikan Dua Tuntutan dan Keluhan WC

Perwakilan AMPB ditemui pimpinan DPR. Ari Sriningsih menyuarakan dua tuntutan soal korupsi dan mengeluhkan akses toilet serta kebutuhan salat.

Delvira Hutabarat
Oleh Delvira Hutabarat - Reporter
Di DPR, Warga Pati Sampaikan Dua Tuntutan dan Keluhan WC
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menerima audiensi Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB).

Warga Pati yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) menyampaikan aspirasi kepada pimpinan DPR RI, Kamis (27/8/2026). Selain mendorong penindakan korupsi, mereka juga menyoroti keterbatasan fasilitas dasar bagi massa aksi yang menginap di depan Gedung DPR.

Perwakilan AMPB diterima Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad bersama Saan Mustopa dan Cucun Syamsurizal. Dalam pertemuan itu, sejumlah peserta audiensi menyampaikan langsung pengalaman dan tuntutan mereka.

Salah satunya Ari Sriningsih, warga Pati. "Saya, ibu rumah tangga dari Pati, jauh-jauh dari Pati ke sini dengan dua tuntutan, ya, Pak. Satu, perampasan aset koruptor. Dua, hukum mati koruptor," kata Ari saat audiensi di DPR.

Dua Tuntutan Soal Korupsi dari Warga Pati

Ari mempertanyakan fokus pembahasan yang menurutnya baru menyentuh perampasan aset. Ia membandingkan dampak korupsi dengan narkoba serta menyinggung penerapan hukuman mati pada pelaku narkoba.

"Kenapa sekarang yang dibahas cuma aset koruptor saja, Pak, yang dirampas? Dampak dari korupsi sama dampak dari narkoba itu lebih jahat mana pada bangsa ini, Pak? Kenapa pengedar narkoba langsung dihukum mati, Pak? Kalau koruptor enggak dihukum mati, Pak?" kata Ari.

Ia menegaskan dua tuntutan tersebut menjadi alasan kedatangannya ke DPR bersama rombongan.

Akses Toilet Aksi dan Fasilitas Ibadah

Dalam kesempatan yang sama, Ari mengeluhkan sulitnya akses toilet bagi massa aksi yang bermalam di sekitar kompleks parlemen.

"Jenengan di sini enak adem. Mereka! Apa nguyoh (kencing) lho kangelan (kesulitan). Saya itu selama di sini jalan itu di Masjid Manggala 20 menit, Pak, satu kali jalan," tuturnya.

Ia menyebut sudah meminta penyediaan toilet portabel di lokasi aksi, namun fasilitas itu tidak tersedia memadai.

"Saya minta WC portable, gak diapa, gak dikeki (tidak dikasih), Pak! Baru kemarin dikeki mek sedhela (hanya sebentar saja) tok. Dan gak ada airnya. Memanusiakan manusia, Pak!" tegasnya.

Ari juga menekankan kebutuhan beribadah selama mengikuti aksi.

"Saya orang Islam, saya juga butuh sholat. Masa aku salat ning pinggir dalan, Pak? Ya, Pak? Kan ada toiletnya. Memanusiakan manusia, Pak!" katanya.

Ia mengaku sempat emosional karena kondisi sarana yang dinilai tidak memadai.

"Saya itu sampai marah lho, Pak! Kalian enak-enakan WC apike ra karuan," ujarnya.

Di akhir penyampaiannya, Ari menegaskan posisinya sebagai warga yang menyampaikan keluhan.

"Saya cuma curhat ini, Pak, saya gak politik," pungkasnya.

Rekomendasi