Dedi Mulyadi Syok dengar Cerita Anak Remaja Piatu Ini Tidak Diberi Biaya Sama Sang Ayah 'Tidak Tangungjawab Pada Anak

Wanti, seorang remaja perempuan yang harus berjibaku dengan kerasnya hidup tanpa ayah dan ibu.

Muhammad Farih Fanani
Oleh Muhammad Farih Fanani - Reporter
Dedi Mulyadi Syok dengar Cerita Anak Remaja Piatu Ini Tidak Diberi Biaya Sama Sang Ayah 'Tidak Tangungjawab Pada Anak
purwandi dan kdm (KANG DEDI MULYADI CHANNEL)

Seorang anak remaja perempuan yang berasal dari Kuningan mengalami nasib yang kurang menyenangkan. Ia harus hidup banting tulang karena ditinggal sang ibu meninggal dan ayahnya pergi ke Jakarta untuk berdagang.

Namun, selama sang ayah berdagang, anak bernama Purwanti itu justru hidup pontang-panting sendirian. Ayahnya tidak memberi nafkah, sehingga ia tidak bisa melanjutkan sekolah karena keterbatasan biaya.

Cerita itu disampaikan langsung oleh Purwanti di depan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dan direkam dalam sebuah video yang diunggah oleh channel KANG DEDI MULYADI CHANNEL. Simak ulasan lengkapnya sebagai berikut.

Perempuan Remaja Piatu Ditinggal Ayah ke Jakarta

purwandi dan kdm
purwandi dan kdm KANG DEDI MULYADI CHANNEL

Purwanti adalah seorang perempuan yang hanya sempat mengenyam pendidikan sampai SMP, tepatnya di SMPN 1 Cidahu. Kini ia tidak bisa melanjutkan sekolah karena ditelantarkan oleh ayahnya.

Ibu Purwanti telah meninggal dunia. Sang ayah sebagai kepala rumah tangga, harus pergi ke Jakarta untuk berdagang nasi goreng. Namun, selama merantau, Purwanti sama sekali tidak mendapatkan haknya untuk dinafkahi.

Purwanti tinggal bersama dengan sang adik di rumah neneknya. Adiknya masih berkesempatan mengenyam bangku sekolah dengan biaya dari bibinya yang hanya bekerja sebagai penjaga ruko.

“Sama bapaknya dibiayain nggak?” tanya Dedi Mulyadi.

“Enggak, enggak ada,” jawab anak yang akrab disapa Wanti.

Mendengar jawaban itu, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi kaget. Ia kembali menanyakan tujuan ayah Wanti pergi ke Jakarta dengan alasan berdagang tapi tidak memberi uang sama sekali untuk anaknya.

“Kenapa? Kan punya bapak, bapaknya bekerja. Berarti kan kalau bapak bekerja buat anaknya,” ucap Dedi.

Namun, Wanti menjelaskan jika ayahnya selalu mengelak memberikan uang dengan alasan jika dagangannya sedang sepi. Akibatnya, Wanti harus putus sekolah karena tidak punya biaya untuk membayar.

“Kata ayahnya kalau misalnya Wanti bilang nggak ada uangnya buat sekolah gitu. Bilangnya gini aja dagangannya lagi sepi terus habis itu nggak ngirim uang,” jelas Wanti.

Kabarnya, sang ayah di Jakarta masih hidup sendiri dan tidak memilih untuk menikah lagi. Namun, Purwanti, yang seharusnya mendapatkan nafkah dari ayahnya tidak merasakan hasil dari kerja keras sang ayah.

“Terus ngapain di Jakarta, enggak kawin lagi, terus dagang tapi dagangnya nggak bisa bantu pendidikan anaknya?” kata Dedi penasaran.

“Nggak tahu,” jawab Purwanti.

Tidak Lagi Percaya dengan Ayahnya

purwandi dan kdm
purwandi dan kdm KANG DEDI MULYADI CHANNEL

Ayah yang bertanggung jawab tidak akan membiarkan putri kecilnya hidup sendirian dan putus sekolah. Kabar buruknya, hal itu dilakukan oleh ayah Purwanti. Membiarkan Wanti berjuang melawan kerasnya hidup tanpa kasih sayang orang tua.

Lebih lanjut Wanti mengatakan jika sebelumnya, sang ayah pernah mengirimkan uang sebesar Rp150 ribu setiap bulan untuk biaya sekolah. Namun, beberapa bulan terakhir, ayahnya telah melepas tanggung jawabnya.

“Kemarin-kemarin masih ngasih satu bulan Rp150 ribu, sampai sekarang sudah mau dua bulan nggak ngasih,” tutur Wanti.

Hal itu membuat Wanti sudah tidak lagi percaya dengan ayahnya. Bagaimana tidak, seorang ayah yang seharusnya menjaga dan melindungi putri kecilnya, justru malah menjerumuskan kedua anaknya pada kerasnya kehidupan.

“Kamu percaya nggak sama bapakmu?” tanya Dedi.

“Sekarang enggak,” tegas Wanti.

Dedi Mulyadi pun kehabisan kata-kata saat mendengar cerita dari Wanti. Ia sangat kebingungan dengan apa yang dilakukan sang ayah di Jakarta. Mengaku bekerja tapi sama sekali tidak bisa menyisihkan uang untuk anaknya.

“Ayah dagang nasi goreng, di Jakarta lagi, tidak bisa nyisihin Rp10 ribu sehari buat anaknya,” ucap Dedi.

Terakhir, Wanti juga sudah berkali-kali mencoba untuk menghubungi sang ayah. Tapi pesan dan telepon dari Wanti sama sekali tidak pernah dibalas dan diangkat oleh ayahnya sampai sekarang.

“Makanya itu pak, kemarin-kemarin kan aku telepon terus bapak ya, sampai beberapa kali nggak diangkat. Ngechat gak dibales, gak dibaca,” pungkas Wanti.

Wanti bukan anak yang lemah, meski beberapa kali ia menahan tangis, tapi di depan gubernur ia tetap mencoba untuk tersenyum. Menjelaskan kejadian yang sebenarnya tentang kehidupan yang kini ia jalani sendirian.

Rekomendasi