Pada tanggal 15 Januari 2025, Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol ditangkap secara resmi oleh Tim Investigasi Korupsi untuk Pejabat Tinggi (CIO). Penangkapan ini berkaitan dengan pengumuman darurat militer yang menuai kontroversi pada bulan Desember 2024. Kejadian ini menjadi momen penting yang mengubah arah politik di Korea Selatan, di mana seorang presiden yang masih menjabat harus menghadapi tuduhan serius.
Proses penangkapan Yoon tidak berjalan dengan lancar. Kediamannya yang terletak di Yongsan, pusat kota Seoul, berubah menjadi lokasi yang penuh ketegangan karena ratusan penyidik dan petugas keamanan berkumpul sejak pagi.
Dengan dipasangnya kawat berduri dan barikade, tempat tersebut sempat dijuluki sebagai "benteng" oleh pihak oposisi. Namun, demi mencegah terjadinya konflik yang lebih besar, Yoon akhirnya memilih untuk menyerahkan diri.
Advertisement
Pada malam tanggal 3 Desember 2024, Yoon Suk Yeol membuat kejutan bagi masyarakat dengan mengumumkan keadaan darurat militer. Keputusan ini diambil karena adanya dugaan ancaman dari kelompok oposisi yang pro-komunis, yang dianggap memiliki hubungan dengan Korea Utara.
Namun, pengumuman tersebut langsung menuai kritik yang luas dari berbagai kalangan. Baik dari pihak oposisi maupun beberapa anggota partai yang sama, banyak yang menilai tindakan ini sebagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan.
Advertisement
Setelah pengumuman mengenai darurat militer, parlemen Korea Selatan segera mengadakan sidang luar biasa. Dalam sidang tersebut, 192 anggota legislatif secara bulat menolak status darurat militer dengan hasil suara mutlak 192-0.
Meskipun keputusan ini langsung mencabut status darurat militer, ketegangan tetap meningkat karena Menteri Pertahanan semula enggan untuk mencabut perintah tersebut.
Di tengah meningkatnya tekanan politik, pada pukul 4:30 KST, Yoon akhirnya memutuskan untuk mencabut status darurat militer melalui rapat kabinet.
Advertisement
Pada pagi buta tanggal 15 Januari 2025, ratusan anggota penyidik dan polisi mengepung rumah Yoon. Di sekitar lokasi, banyak pendukung Yoon berteriak, "surat perintah ilegal," mengekspresikan ketidakpuasan mereka terhadap tindakan tersebut.
Beberapa anggota Partai Kekuatan Rakyat juga berusaha menghalangi proses penangkapan yang sedang berlangsung. Laporan menunjukkan bahwa upaya penangkapan tersebut diwarnai dengan adu dorong antara pihak kepolisian dan Dinas Keamanan Presiden (PSS), menciptakan ketegangan di lokasi.
Dalam situasi tersebut, penyidik bahkan terpaksa menggunakan tangga untuk memasuki rumah yang telah dilindungi oleh kawat berduri, menunjukkan betapa seriusnya situasi yang dihadapi.
Advertisement
Penangkapan ini menandai dimulainya fase baru dalam krisis politik yang melanda Korea Selatan. Sesuai dengan peraturan yang berlaku, Yoon berhak ditahan maksimal selama 48 jam sebelum pihak berwenang mengajukan surat perintah penangkapan tambahan.
Proses sidang pemakzulan diperkirakan akan menarik perhatian publik, terutama karena Yoon tidak hadir pada persidangan yang berlangsung sebelumnya. Kehadirannya dalam sidang selanjutnya sangat dinantikan untuk melihat bagaimana situasi ini akan berkembang.
Advertisement
Yoon ditahan karena diduga terlibat dalam tindakan pemberontakan dan penyalahgunaan kekuasaan yang berkaitan dengan pengumuman darurat militer yang terjadi pada 3 Desember 2024.
Advertisement
Dalam proses penangkapan, terjadi adu dorong antara pihak kepolisian dan pasukan pengamanan presiden. Selain itu, para pendukung Yoon juga melontarkan protes di sekitar rumahnya, menambah ketegangan situasi yang ada.
Advertisement
Penangkapan Yoon dapat berimplikasi besar terhadap stabilitas politik di Korea Selatan. Hal ini juga berpotensi mengubah cara pandang masyarakat terhadap Partai Kekuatan Rakyat.
Advertisement
Yoon bisa ditahan selama maksimum 48 jam, dan untuk memperpanjang masa penahanannya, penyelidik wajib mengajukan surat perintah baru.