Perjuangan orang tua untuk anak memang tiada habisnya. Segala perjuangan dan juga pengorbanan rela dilakukan orang tua demi merawat dan membesarkan sang buah hati tercintanya.
Menjadi sosok orang tua tidak selamanya mudah, karena sejak mereka membangun rumah tangga hingga pada akhirnya memiliki keturunan tentu rela mengorbankan banyak waktu dan tenaganya demi kelangsungan hidup anak-anaknya. Apalagi ketika anak sedang dalam kondisi sakit dan amat membutuhkan pertolongan.
Keinginan orang tua sangat amat sederhana, yakni bisa melihat anak-anaknya tumbuh berkembang dengan bahagia secara lahir dan juga batin. Seperti kisah perjuangan orang tua untuk anak yang ada di dunia, yang berhasil dirangkum dari berbagai sumber.
Advertisement
Perjuangan orang tua yang pertama dilakukan oleh seorang pria yang rela menjadi karung tinju atau sansak. Pria asal China ini rela dipukuli asalkan mereka mau memberinya sejumlah uang guna membiayai perawatan medis sang buah hati.
Xia Jun adalah pria yang berasal dari Provinsi Sichuan dan mempunya anak bernama Guo Guo yang kala itu masih berusia dua tahun dan didiagnosis menderita leukemia. AKhirnya ia dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar dan lengkap di Ibu Kota Beijing, sebanyak tiga dokter menyarankan agar si bocah melakukan operasi transplantasi sumsum tulang belakang dan biayanya mencapai 1,4 miliar seperti dilansir dari situs Shanghaiist.com.
Jun akhirnya menjual semua hartanya dan dia juga sempat meminjam sejumlah uang hingaga akhirnya cukup bagi Guo melakukan operasi. Akan tetapi dokter mengatakan setelah dilakukan operasi tersebut bocah cilik itu akan mengalami penolakan, infeksi serta kambuh penyakit dan masa kritis ini bakal dilalui terlebih dahulu hingga 2,5 tahun lamanya.
"Tahun pertama amat menentukan. Pengobatan selanjutnya sekitar Rp 800 juta," ujar dokter Wang Jingbo yang merawat Guo.
Merasa kebingungan mencari uang, pada akhirnya Jun nekat menjadikan dirinya karung tinju di sebuah jalan Beijing sembari menaruh kotak sumbangan. Ia memakai busana putih bertuliskan "Sasak Manusia, satu pukulan Rp 20 ribu". Ia mempersilahkan semua orang menghajarnya.
Cara Jun tersebut sontak mampu mencuri banyak simpati dan perhatian banyak orang, sehingga banyak sekali yang memberikan sumbangan serta menengok sang putra di rumah sakit. Beberapa dari mereka bahkan rela membiayai Guo hingga dewasa nanti.
Advertisement
Berikutnya ada perjuangan orang tua yang tak lain adalah seorang ibu. Ia berusaha untuk menyelamatkan anaknya dan kala itu merasa sudah tidak ada jalan keluar lagi sehingg ibu ini rela menjual pelukannya untuk siapapun yang mau membayarnya.
Ia bahkan menjajakan pelukan tersebut di stasiun kereta bawah tanah Chongqing yang sibuk dalam upaya untuk mengumpulkan uang untuk putrinya lantaran didiagnosis menderita leukemia tersebut. Chen Dejuan (28) berdiri sembari memegang kardus bertuliskan "Menjual pelukan - 10 Yuan (sekitar Rp 21.671) per pelukan.
Di samping Chen, ada putrinya pula yang baru saja berusia empat tahun yang biasa dipanggil Nana. Gadis kecil tersebut terliha mengenakan alat bantu pernapasan sedang kepalanya sudah nampak botak.
Dilansir dari China.com, Chen mengaku berasal dari Guangdong dan sementara suaminya adalah penduduk asli Chongqing. Mereka berdua kerja di Shandong dan beru mengetahui apabila sang putri Nana mengidap penyakit leukemia kala itu, tepatnya saat Nana pingsan dan dibawa ke dokter untuk melakukan pemeriksaan.
Biaya yang sangat besar membuat Chen dan suaminya terpaksa harus meminjam uang untuk membayar perawatan anak gadisnya itu selama beberapa bulan terakhir.
"Ini cara terakhir kami, karena saya dan suami sudah putus asa," kata Chen.
Advertisement
Perjuangan orang tua selanjutnya dilakukan oleh seorang ibu tunggal di China yang banting tulang lantaran memiliki dua anak laki-laki kembar dengan keterbelakangan mental serta kelebihan bobot berat badan atau biasa disebut dengan obesitas. Ma Zhiqiu, adalah seorang wanita yang merawat dua anak kesayangannya sejak dilahirkan pada 23 Februari 1994.
Ma melahirkan putra kembarnya ketika berusia 26 tahun dan pada akhirnya anak-anaknya divonis memiliki keterbelakangan mental dan gangguan kesehatan lantaran proses kelahiran prematur. Akibat vonis dari dokter Ma memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan dan lebih fokus merawat kedua buah hati tercintanya.
Begitu nahas nasib wanita ini, sang suami meminta untuk bercerai lantaran tak sanggup menerima keadaan dua anaknya. Perlu diketahui, anak tertua dari Ma, Zhang Hangjun menderita obesitas dan bobotnya mencapai 250 kg.
Sedangkan Zhang Yuanju saudara kembarnya lebih beruntung dari sang kakak karena terlahir lebih normal dan dapat melakukan aktivitas layaknya pemuda pada umumnya. Hanya saja, keterbelakangan mental sedikit membatasi lingkup sosialnya.
Dilansir situs Channel NewsAsia, Ma mengatakan kini yang bisa dilakukan hanyalah mengajarkan Yuanju dalam merawat dirinya sendiri dan juga sang kakak, karena Ma sadar tidak akan dapat mendampingi kedua anak tercintanya untuk selamanya.