Penyebab Darah Tinggi yang Sering Disepelekan, Kenali Faktor Risikonya
Berikut penyebab darah tinggi yang sering disepelekan dan faktor risikonya.
Hipertensi yang lebih dikenal sebagai tekanan darah tinggi merupakan kondisi medis di mana tekanan darah dalam pembuluh arteri meningkat secara persisten melebihi batas normal. Secara umum, seseorang didiagnosis mengalami hipertensi jika tekanan darahnya berada pada nilai 130/80 mmHg atau lebih tinggi.
Tekanan darah diukur dalam dua angka yaitu sistolik dan diastolik. Angka sistolik (angka atas) menunjukkan tekanan saat jantung berkontraksi dan memompa darah ke seluruh tubuh. Sementara itu, angka diastolik (angka bawah) menunjukkan tekanan saat jantung berelaksasi dan mengisi kembali dengan darah.
Hipertensi sering dijuluki sebagai “silent killer” atau pembunuh diam-diam karena seringkali tidak menimbulkan gejala yang jelas hingga komplikasi serius terjadi. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin tekanan darah sangat penting untuk deteksi dini dan pencegahan komplikasi.
Apa saja penyebab darah tinggi yang sering disepelekan dan faktor risikonya? Melansir dari berbagai sumber, Rabu (26/3), simak ulasan informasinya berikut ini.
Gejala Hipertensi
Hipertensi sering disebut sebagai “silent killer” karena biasanya tidak menimbulkan gejala yang jelas, terutama pada tahap awal. Banyak orang menderita hipertensi tanpa menyadarinya selama bertahun-tahun. Namun, beberapa individu mungkin mengalami gejala tertentu, terutama jika tekanan darah sudah sangat tinggi atau telah berlangsung lama. Berikut adalah beberapa gejala yang mungkin muncul:
- Sakit kepala: Terutama di bagian belakang kepala, sering terjadi di pagi hari.
- Pusing atau vertigo: Sensasi berputar atau ketidakseimbangan.
- Penglihatan kabur: Dapat terjadi akibat kerusakan pembuluh darah di retina.
- Mual dan muntah: Terutama jika tekanan darah meningkat secara tiba-tiba.
- Nyeri dada: Dapat berupa rasa tertekan atau sesak di dada.
- Sesak napas: Terutama saat melakukan aktivitas fisik.
- Detak jantung tidak teratur: Dapat terasa seperti jantung berdebar-debar.
- Mimisan: Meskipun jarang, dapat terjadi pada beberapa kasus hipertensi berat.
- Telinga berdenging (tinnitus): Suara berdengung atau berdesing di telinga.
- Kelelahan yang tidak biasa: Merasa lelah meskipun tidak melakukan aktivitas berat.
Penyebab Utama Hipertensi
Penyebab hipertensi dapat dibagi menjadi dua kategori utama: hipertensi primer (esensial) dan hipertensi sekunder. Mari kita bahas secara rinci:
Hipertensi Primer
Hipertensi primer, yang juga dikenal sebagai hipertensi esensial, merupakan jenis hipertensi yang paling umum, mencakup sekitar 90-95% kasus. Penyebab pastinya belum diketahui, namun beberapa faktor yang berkontribusi meliputi:
- Genetik: Riwayat keluarga dengan hipertensi meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi yang sama.
- Usia: Risiko hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah 35 tahun.
- Gaya hidup tidak sehat: Termasuk pola makan tinggi garam dan lemak, kurang aktivitas fisik, dan konsumsi alkohol berlebihan.
- Obesitas: Kelebihan berat badan meningkatkan beban kerja jantung dan dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah.
- Stres: Kondisi stres yang berkepanjangan dapat memicu peningkatan tekanan darah.
Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder disebabkan oleh kondisi medis lain atau penggunaan obat-obatan tertentu. Beberapa penyebab hipertensi sekunder meliputi:
- Penyakit ginjal kronis
- Gangguan kelenjar adrenal
- Gangguan tiroid
- Sleep apnea
- Penggunaan obat-obatan tertentu seperti pil KB, dekongestan, dan beberapa obat resep lainnya
- Konsumsi obat-obatan terlarang seperti kokain dan amfetamin
Faktor Risiko Hipertensi
Memahami faktor risiko hipertensi sangat penting untuk pencegahan dan manajemen kondisi ini. Faktor risiko dapat dibagi menjadi dua kategori: yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi.
Faktor Risiko yang Tidak Dapat Dimodifikasi
- Usia: Risiko hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia. Setelah usia 45 tahun untuk pria dan 55 tahun untuk wanita, risiko hipertensi meningkat secara signifikan.
- Genetik: Riwayat keluarga dengan hipertensi meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi yang sama.
- Jenis Kelamin: Pria cenderung memiliki tekanan darah lebih tinggi dibandingkan wanita, terutama sebelum usia 55 tahun. Setelah menopause, risiko hipertensi pada wanita meningkat.
- Etnis: Beberapa kelompok etnis, seperti orang Afrika, memiliki risiko hipertensi yang lebih tinggi.
Faktor Risiko yang Dapat Dimodifikasi
- Obesitas: Kelebihan berat badan meningkatkan beban kerja jantung dan dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah.
- Pola Makan Tidak Sehat: Konsumsi makanan tinggi garam, lemak jenuh, dan rendah serat dapat meningkatkan risiko hipertensi.
- Kurang Aktivitas Fisik: Gaya hidup sedentari meningkatkan risiko obesitas dan hipertensi.
- Konsumsi Alkohol Berlebihan: Minum alkohol secara berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah.
- Merokok: Nikotin dalam rokok dapat meningkatkan tekanan darah dan menyebabkan kerusakan pembuluh darah.
- Stres: Stres kronis dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah yang persisten.
- Konsumsi Kafein Berlebihan: Meskipun efeknya bervariasi pada setiap individu, konsumsi kafein berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah pada beberapa orang.
- Kurang Tidur: Tidur kurang dari 6 jam per malam dapat meningkatkan risiko hipertensi.
Faktor Risiko Khusus pada Wanita
- Penggunaan Pil KB: Beberapa jenis pil KB dapat meningkatkan risiko hipertensi, terutama pada wanita yang merokok atau memiliki faktor risiko lainnya.
- Kehamilan: Beberapa wanita mengalami hipertensi gestasional selama kehamilan.
- Menopause: Perubahan hormonal selama menopause dapat meningkatkan risiko hipertensi.