Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melakukan mutasi terhadap sejumlah Perwira Tinggi (Pati) hingga Perwira Menengah (Pamen).
Total ada 513 personel yang dimutasi oleh Kapolri. Mutasi tersebut tertuang dalam Surat Telegram Nomor ST/2750/XII/KEP./2023 tanggal 7 Desember 2023.
Di antara 513 personel, ada satu sosok Perwira Menengah (Pamen) yang mencuri perhatian karena turut serta dimutasi oleh Kapolri.
Advertisement
Hal ini lantaran sosok tersebut sebelumnya terseret kasus Ferdy Sambo atas pembunuhan Brigadir J.
Lantas siapa kah sosok yang dimutasi Kapolri pernah terseret kasus Ferdy Sambo?
Melansir dari berbagai sumber, Minggu (9/10), simak ulasan informasinya berikut ini.
Advertisement
Salah satunya adalah Kombes Budhi Herdi. Ia kini ditugaskan oleh Kapolri untuk mengisi posisi sebagai Kabagyanhak Rowatpers SSDM Polri.
Sebelumnya, Budhi menjabat sebagai Pamen Yanma Polri. Posisi tersebut diembannya setelah terkena mutasi dalam Surat Telegram (ST) nomor ST/1751/VIII/KEP./2022 tanggal 22 Agustus 2022, yang ditandatangani As Sdm Kapolri.
Budhi saat itu dimutasi dari Kapolres Metro Jakarta Selatan ke Yanma Polri. Hal ini buntut dari terseretnya Budhi dalam kasus tewasnya Brigadir J alias Nofryansyah Yoshua Hutabarat.
Kala itu, Budhi terlebih dahulu dinonaktifkan dari jabatan Kapolres Metro Jakarta Selatan sejak Rabu (20/7/2022) sebelum akhirnya dimutasi ke Yanma Polri.
Advertisement
Di luar terseretnya kasus Ferdy Sambo, Budhi memiliki karier yang moncer. Ia pernah menjabat sebagai Kapolres sebanyak 4 kali.
Pertama, Ia menjadi Kapolres Kediri Kota pada tahun 2013. Kemudian pada tahun 2014, Budhi dimutasi menjadi Kapolres Mojokerto hingga tahun 2016.
Pada tahun 2019, Budhi Herdi kembali dipercaya menjadi Kapolres di wilayah hukum Jakarta Utara.
Selanjutnya pada tahun 2020, Ia dipercaya menjadi Kasubdit I Dittipidum Bareskrim Polri.
Di tahun yang sama, Budhi dipercaya menduduki posisi sebagai Analis Kebijakan Madya Bidang Pidum Bareskrim Polri hingga tahun 2021.
Hingga akhirnya Ia menjabat sebagai Kapolres Metro Jakarta Selatan.
Adapun sepak terjang Kombes Polisi Budhi Herdi di Polri adalah sebagai berikut:
- Kasat Lantas Polres Ainaro Timtim (1997)
- Kapolsek Manatuto Timtim (1999)
- Kanit Harda/Kanit curi/Kanit Serse Ekonomi Polres Metro Jakarta Selatan (2000)
- Kanit Resintel Polsek Kebayoran Baru (2001)
- Kasat Reskrim Polres Tegal (2004)
- Penyidik KPK (2005)
- Kanit Harda Polda Metro Jaya (2007)
- Kanit II Sat III Jatanras Polda Metro Jaya
- Kasat Reskrim Polres Metro Tanggerang (2009)
- Kanit IV Sat II Harda (Bangtah) Dit Reskrimum Polda Metro Jaya
- Kapolsek Tanjung Priok (2010)
Advertisement
- KaSubbag Gasus Dagrii SSDM POLRI
- KaSubbag Mutjabpama SSDM POLRI
- Kapolres Kediri Kota Polda Jatim (2013—2014)
- Kapolres Mojokerto Polda Jatim (2014—2016)
- Kasubbag Mutjabpamenti Robinkar SSDM POLRI
- Assesor Utama Bagpenkompeten Robinkar SSDM Polri (2016—2019)
- Kapolres Metro Jakarta Utara (2019—2020)
- Kasubdit I Dittipidum Bareskrim Polri (2020)
- Analis Kebijakan Madya bidang Pidum Bareskrim Polri (2020—2021)
- Kapolres Metro Jakarta Selatan (2021—2022)
- Pamen Yanma Polri (2022)
Advertisement
Terkait dengan kasus Ferdy Sambo atas tewasnya Brigadir J, Budhi Herdi sempat menyampaikan kepada awak media bahwa kasus itu merupakan peristiwa tembak menembak antara korban dengan Bharada E alias Richard Eliezer.
Baku tembak itu disebutnya terjadi di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo yang berada di Duren Tiga, Kalibata, Jakarta Selatan, pada Jumat (8/7) sekitar pukul 17.00 WIB.
Budhi Herdi juga menyebut senjata api yang digunakan Bharada E adalah jenis Glok 17 dengan maksimum isi sebanyak 17 butir peluru.
Brigadir J disebutnya menggunakan senjata api jenis HS dengan berisi 16 peluru di magasinnya. Namun, pada saat di lokasi polisi menemukan tersisa 9 peluru yang belum ditembakkan atau terpakai.