Toto Sugiri, 'Bill Gates'nya Indonesia Bangun Data Center Terbesar di Asia Tenggara, Ini Kata Menteri Meutya

Kehadiran pusat data ini merupakan tonggak penting dalam pembangunan infrastruktur digital nasional sekaligus simpul strategis pengelolaan data.

Fauzan Jamaludin
Oleh Fauzan Jamaludin - Reporter
Toto Sugiri, 'Bill Gates'nya Indonesia Bangun Data Center Terbesar di Asia Tenggara, Ini Kata Menteri Meutya
Toto Sugiri, Bill Gates-nya Indonesia Bangun Data Center Terbesar di Asia Tenggara, Ini Kata Menteri Meutya (KOMDIGI)

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengapresiasi peresmian pusat data (data center) JK6 yang disebut memiliki standar global dengan kapasitas suplai listrik sebesar 36 megawatt.

Perlu diketahui, data center JK6 merupakan pusat data yang dimiliki oleh Bill Gates-nya Indonesia, Toto Sugiri melalui PT DCI Indonesia Tbk.

Ia menilai, kehadiran pusat data ini merupakan tonggak penting dalam pembangunan infrastruktur digital nasional sekaligus simpul strategis pengelolaan data yang akan mendorong lompatan besar dalam ekonomi digital Indonesia.

“Kami apresiasi proses JK6 yang kami dengar dibangun melalui lebih dari 3 juta jam kerja dan hampir 8.000 tenaga kerja putra-putri Indonesia. Ini menjadi bukti bahwa anak-anak bangsa mampu merancang dan membangun pusat data berstandar global serta mendorong lahirnya kompetensi nasional,” ujar Meutya, dikutip dari situs resmi Kementerian Komunikasi dan Digital, Rabu (4/6).

JK6 diklaim sebagai salah satu pusat data terbesar di Asia Tenggara. Keberadaannya diharapkan menjadi tulang punggung dalam penyimpanan, pengolahan, dan pertukaran data lintas sektor, termasuk pelayanan publik, industri strategis, teknologi kecerdasan buatan (AI), dan layanan digital lainnya.

“Pusat data yang hari ini kita resmikan tentu bukan sekadar bangunan atau proyek infrastruktur belaka. Di balik dinding server yang berdiri megah ini, ada semangat kolektif nasional yang bekerja di baliknya,” tegas Meutya.

Ia menambahkan bahwa pembangunan pusat data seperti JK6 merupakan bagian integral dari strategi transformasi digital nasional. Strategi ini mencakup empat pilar utama: penguatan infrastruktur dan spektrum, pengembangan talenta digital, penyediaan perangkat dan aplikasi, serta penyusunan kebijakan yang adaptif dan kolaboratif.

Mengutip laporan GSMA 2024, Meutya menyebut bahwa digitalisasi di sektor-sektor prioritas seperti energi, pertanian, perikanan, dan kehutanan berpotensi menciptakan nilai tambah hingga Rp1.271 triliun pada 2029.

Dalam konteks ini, pusat data memainkan peran vital sebagai simpul penghubung untuk memastikan efisiensi dan keamanan data dalam seluruh proses transformasi digital tersebut.

“Setiap kemanfaatan teknologi membutuhkan kemampuan penyimpanan dan pengolahan data yang terstruktur, aman, dan efisien. Di sinilah pusat data seperti JK6 memainkan peran strategis,” jelas Meutya.

Lebih jauh, ia mengaitkan pembangunan pusat data dengan warisan kejayaan Nusantara. Ia mencontohkan bagaimana Kerajaan Sriwijaya membangun pusat ilmu dan Majapahit mengembangkan teknologi produksi strategis, yang kini dimaknai ulang sebagai penguasaan infrastruktur digital nasional.

“Kendali atas ilmu pengetahuan dan proses hilirisasi produksi selalu menjadi fondasi kemajuan bangsa. Kini, pusat data menjadi simbol peradaban digital yang menempatkan data sebagai sumber nilai tambah baru,” katanya.

Mengacu pada laporan KPMG, konsumsi layanan pusat data global meningkat dari 79 gigawatt pada 2023 menjadi 90 gigawatt pada 2025, dan diperkirakan mencapai 180 gigawatt pada 2030.

Meutya mencatat bahwa Indonesia termasuk negara dengan potensi pertumbuhan tertinggi di Asia Pasifik, mencatat peningkatan kapasitas pusat data sebesar 66 persen dalam dua tahun terakhir.

“Di kawasan Asia Pasifik, Indonesia termasuk negara dengan potensi tertinggi di dunia. Pertumbuhan kapasitas pusat data kita sebesar 66 persen adalah sinyal kuat bahwa pasar digital Indonesia berkembang pesat dan menjadi magnet global,” pungkas Meutya Hafid.

Rekomendasi