Berlari sejauh satu mil mungkin sudah cukup melelahkan bagi sebagian orang. Namun, ada kelompok pelari yang mampu menempuh jarak ratusan kilometer tanpa tidur atau berhenti.
Mereka dikenal sebagai pelari ultramaraton, yang kerap menantang batas kemampuan tubuh manusia. Tapi, seberapa jauh sebenarnya manusia bisa berlari tanpa henti?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus memahami apa yang dimaksud dengan "berlari tanpa henti". Apakah itu berarti tanpa tidur, tanpa istirahat, atau tanpa jeda sama sekali?
Rekor Lari tanpa Tidur
Mengutip LiveScience, Selasa (18/2), rekor lari terjauh tanpa tidur dipegang oleh Dean Karnazes, yang pada tahun 2005 berhasil berlari sejauh 563 kilometer selama tiga setengah hari. Karnazes tidak tidur sedikit pun selama perjalanan panjang tersebut.
Pada 2023, Harvey Lewis mencetak rekor baru dalam ajang backyard ultra, di mana pelari harus menyelesaikan lintasan sepanjang 6,7 kilometer setiap jamnya hingga hanya tersisa satu peserta. Lewis berhasil menyelesaikan 108 putaran dalam 108 jam, menempuh total jarak 724 kilometer.
Hambatan Fisiologis: Kapan Harus Berhenti?
Dalam perlombaan jarak jauh, hambatan fisiologis menjadi faktor utama yang menentukan batas kemampuan tubuh manusia.
Menurut Jenny Hoffman, fisikawan di Universitas Harvard sekaligus pemegang rekor lintas Amerika Serikat tercepat, faktor biologis seperti kebutuhan buang air menjadi kendala nyata dalam berlari jarak jauh.
"Peeing akan menjadi faktor pembatas di sini," ujar Hoffman. Ia memecahkan rekor dengan berlari melintasi Amerika dalam waktu 47 hari, 12 jam, dan 35 menit.
Advertisement
Meski tidak secara khusus berevolusi untuk berlari dalam jarak ekstrem, manusia memiliki sejumlah keunggulan evolusioner. Guillaume Millet, ahli fisiologi olahraga dari Universitas Jean Monnet di Prancis, menyebutkan beberapa faktor yang membantu manusia bertahan dalam aktivitas berlari jarak jauh:
Otot Gluteus yang Besar: Otot ini membantu dorongan tubuh ke depan saat berlari.
Kemampuan Menyimpan Energi Elastis: Tendon dan otot manusia mampu menyimpan dan melepaskan energi secara efisien.
Kelenjar Keringat yang Efektif: Manusia mampu menjaga suhu tubuh tetap stabil melalui keringat, meski berlari dalam cuaca panas.
Ligamen Leher yang Kuat: Ligamen ini menjaga kepala tetap stabil selama berlari.
Millet menjelaskan bahwa kemampuan berkeringat adalah keunggulan terbesar manusia dalam lari jarak jauh. Dibandingkan spesies lain, manusia lebih mampu menjaga suhu inti tubuh tetap stabil meski beraktivitas dalam suhu tinggi.
Ketahanan Mental: Faktor Pembeda
Selain fisik, faktor mental memegang peranan penting dalam olahraga ultramaraton. Daniel Lieberman, ahli biologi evolusi dari Universitas Harvard, menegaskan bahwa manusia memiliki kapasitas luar biasa untuk memotivasi diri dalam situasi sulit.
"Kemampuan mental menjadi pembatas utama dalam ketahanan manusia," ujar Lieberman. Menurutnya, dorongan untuk terus berlari sering kali lebih dipengaruhi oleh tekad dan motivasi ketimbang kemampuan fisik semata.
Advertisement
Bagi mereka yang ingin mencoba ultramaraton, persiapan fisik yang matang sangat diperlukan. Hoffman, misalnya, berlatih hingga menempuh jarak 320 kilometer per minggu sebelum memulai perjalanan lintas Amerika.
"Latihan ini bukan hanya membangun kapasitas aerobik, tetapi juga kekuatan tulang untuk menghadapi benturan berulang," jelasnya.
Masa Depan Ultramaraton: Rekor Baru Menanti
Popularitas ultramaraton terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Data menunjukkan bahwa jumlah peserta ultramaraton melonjak hingga 1.676% antara tahun 1996 dan 2020.
"Batas jarak lari manusia kemungkinan akan terus meningkat," kata Hoffman. Ia percaya bahwa dengan persiapan dan teknologi yang semakin baik, manusia akan terus menembus rekor baru dalam olahraga ekstrem ini.
Jadi, berapa jauh manusia bisa berlari? Jawabannya mungkin belum pasti. Namun, dengan kombinasi ketahanan fisik, mental, dan dorongan untuk terus mencoba, batas itu tampaknya akan terus didorong ke depan.