Riset Next Policy: Mengukur Harapan Warganet pada Nadiem Makarim dengan Teknologi AI

Sabtu, 23 November 2019 11:43 Reporter : Syakur Usman
Riset Next Policy: Mengukur Harapan Warganet pada Nadiem Makarim dengan Teknologi AI paparan hasil riset Next Policy soal kabinet Jokowi-Ma'ruf. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin popular di Tanah Air. Banyak perusahaan rintisan (startup) bidang teknologi menekuni AI sebagai kategori usahanya dengan implementasi yang beragam.

Implementasi teknologi AI di Tanah Air juga merambah ilmu-ilmu sosial seperti riset atau studi mengenai sentimen publik terhadap satu peristiwa dan sosok atau persona di media sosial. Lewat teknologi AI inilah sentimen publik di media sosial bisa diukur dan dianalisis dengan cepat dan cermat.

Seperti yang dilakukan lembaga Next Policy saat melakukan riset bertajuk "Kabinet Jokowi-Ma’ruf di Mata Publik: Melihat Arah Sentimen Publik terhadap Transisi Pemerintah Baru".

Riset ini dilakukan dalam kurun waktu 27 September-27 Oktober tahun ini dengan memanfaatkan cuitan (tweet) di media sosial Twitter.

Cuitan di Twitter tersebut dianalisis sentimennya dengan menggunakan teknologi pembelajaran mesin yang dikembangkan, yakni Analisis Media-sosial Nusantara berbasis AI, yang disebut AMENA. Mesin pembelajaran AMENA ini menggunakan model arsitektur neural dalam memprediksi sentiman pada teks di Twitter, melalui Bi-LSTM encoder dan sequence-to-sequence model.

Memanfaatkan mesin itu, analisis sentimen menghasilkan visualisasi data berupa peta sentimen bernada positif, negatif, dan netral.

Dengan asumsi setiap pengguna Twitter punya kesempatan sama dalam membentuk opini publik, riset berbasis big data ini menghasilkan sejumlah temuan menarik di tiga kategori risetnya.

Pertama, dari total 681.937 cuitan untuk kabinet Jokowi-Ma’ruf secara rata-rata, sentimen netral yang sebanyak 24.828 cuitan, mengungguli sentimen positif (11.646) dan negatif (16.982).

Kedua, Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mendapat perhatian tertinggi dari warganet. Pendiri Gojek ini mendapat 17.148 cuitan bernada netral. Jauh lebih banyak bila dibandingkan Wishnutama (7.417), Erick Thohir (6.992), bahkan Prabowo Subianto sekalipun yang hanya 5.362 cuitan.

M Rahmat Yananda, analis senior Next Policy, menjelaskan makna 17.148 cuitan bernada netral pada sosok Nadiem Makarim ini.

“Nadiem Makarim menemukan momennya, karena kemunculan milenial sebagai generasi penggerak dan penentu masa depan dalam komposisi penduduk. Kedua, menguatnya sektor ekonomi digital yang memunculkan model dan startup yang digerakan para milenial. Dan terakhir, kebutuhan untuk menjadikan sains dan teknologi sebagai input penting untuk beragam kepentingan, yang menjadi salah satu kecakapan penting para milenial, “ ujar Rahmat saat pemaparan hasil riset perdana Next Policy di Jakarta, kemarin.

Secara makro, kata Rahmat, dunia pendidikan Indonesia memang mengalami kebuntuan yang membutuhkan terobosan dan inovasi. Peringkat Indonesia tidak kompetitif di sub-indeks input untuk Pendidikan dan Riset, yang terlihat dari laporan Global Innovation Index (GII) 2019.
Peringkat Indonesia untuk sains, matematika, dan literasi yang dikeluarkan OECD, tidak mengalami perkembangan menjanjikan.

Maka, wajar saja bila warganet berharap besar pada sosok Nadiem, sambil menanti terobosan dan inovasi yang diimplementasikannya di sektor pendidikan nasional.

Menurutnya, Nadiem harus mencari terobosan untuk mempercepat anak-anak Indonesia menguasai beragam kecakapan di abad 21, seperti kecakapan pengetahuan, keterampilan dan sikap serta penguasaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Kecakapan yang kembangkan melalui kemampuan perpikir kritis dan pemecahan masalah, kecakapan komunikasi, kecakapan kreatif dan inovasi, serta kecakapapan kolaborasi.

“Nadiem adalah sosok yang tumbuh bersama dengan generasi milenial, memiliki pengalaman, dan sukses mendirikan serta memimpin bisnis perusahaan rintisan. Kemudian memiliki pemahaman dan kemampuan untuk menjadikan teknologi sebagai keunggulan,” terangnya.

1 dari 2 halaman

Tantangan dan Kesempatan Nadiem

mendikbud nadiem makarim

2019 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Namun, harapan tinggi terhadap Nadiem tidak bisa terlaksana begitu saja, meski jejak rekam Nadiem sangat gemilang di Gojek. Sebab penyelenggaraan sektor privat dan sektor publik jelas berbeda.

Maka itu, semua kemampuan dan pengalaman Nadiem membutuhkan dukungan. Dia membutuhkan waktu, peluang, dan dukungan sumber daya yang memadai. Presiden dan publik juga harus melihat inovasi yang dipelopori Nadiem adalah suatu upaya rintisan menerobos kebuntuan yang menimpa dunia pendidikan.

Dunia pendidikan Indonesia membutuhkan perubahan fundamental dan struktural. Nadiem dapat menjadi simbol perubahan tersebut.

Kita harus memberikan kesemapatan yang fair kepada Nadiem untuk mengekplorasi momentumnya, pungkas Rahmat.

2 dari 2 halaman

Antara Menteri Edhy Prabowo dan Basuki

Hasil riset Next Policy juga menyebutkan, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menyumbang sentimen negatif tertinggi di kabinet Indonesia Maju, karena menggantikan Menteri Susi sebagai menteri populer di kabinet terdahulu. Sedangkan, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mendatangkan sentimen positif.

Next Policy juga menyatakan, era media sosial, kinerja kabinet dengan menteri-menterinya mendapatkan perhatian tinggi publik. Kemampuan kabinet dan menteri-menteri memanfaatkan media sosial untuk membangun kepercayaan dan dukungan publik menjadi penting.

Sejalan dengan pengaruh kuat media sosial, strategi tata kelola berbasis branding menjadi pilihan yang tepat untuk menguatkan citra organisasi dan pemimpin mendukung penyelenggaraan kebijakan publik.

[sya]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini