Selain karya ilmiah dan matematisnya yang fenomenal, Sir Isaac memiliki minat yang mendalam pada alkimia dan teologi.
Hal tersebut bersama dengan keyakinannya yang kuat dalam agama kristen dan interpretasi Alkitab, membawanya untuk meramalkan akhir dunia pada tahun 2060.
Menurut Direktur Proyek Newton di Kanada, Stephen Snobelen, Newton percaya bahwa nubuat dalam Alkitab merupakan prakiraan masa depan yang akan terjadi.
Advertisement
Namun, ia juga menyadari bahwa teks-teks tersebut memerlukan interpretasi simbolis. Dan Newton merasa dirinya cocok untuk melakukan interpretasi tersebut.
Dengan menggunakan serangkaian perhitungan matematis sederhana, Newton mencoba menentukan tanggal pasti kapan dunia akan berakhir.
Mengutip Indy100, Selasa (27/02), menurut Newton, supremasi Paus dimulai pada tahun 800 M dan setelah itu dia menetapkan bahwa "kerusakan" gereja akan berlangsung selama 1.260 tahun.
Dengan menambahkan 1.260 tahun ke tahun 800 M, Newton menyimpulkan bahwa dunia akan berakhir pada tahun 2060.
Akan tetapi, Newton tidak melihat akhir dunia sebagai malapetaka semata. Baginya, tahun 2060 akan menjadi awal dari sebuah era baru.
Advertisement
Ia percaya bahwa setelah jatuhnya Gereja Katolik yang korup, Kristus akan datang kembali dan mendirikan Kerajaan Allah yang akan berlangsung 1.000 tahun di bumi.
Advertisement
Hal tersebut merupakan prospek yang menarik bagi orang-orang beriman seperti Newton, karena dipercayai bahwa kerajaan ini akan membawa kedamaian dan kemakmuran bagi umat manusia.
Newton juga menyadari bahwa menekankan tanggal-tanggal tertentu dapat membawa risiko. Ia menganggap serius ayat-ayat Alkitab yang menyatakan bahwa hanya Tuhan yang mengetahui akhir zaman.
Newton khawatir jika prediksinya salah, hal tersebut dapat merusak reputasi Alkitab.
Meskipun sekarang hanya memiliki waktu 36 tahun lagi untuk melihat apakah prediksi Newton benar, kita tetap harus mempertimbangkan pesannya dengan bijak, bahwa di luar segala perhitungan manusia, hanya Tuhan yang mengetahui akhir dari segalanya.