PT AIA Financial (AIA) bersama PT Bank Central Asia Tbk (BCA) meluncurkan Wealth Prestige Protection (Prestige Pro), produk asuransi jiwa tradisional berbasis mata uang dolar AS (USD). Produk ini dirancang khusus untuk mendukung perencanaan warisan (legacy) serta menjaga keberlanjutan finansial antargenerasi.
Menyasar segmen nasabah high net worth, Prestige Pro hadir untuk memenuhi kebutuhan perlindungan jiwa sekaligus perencanaan warisan dan diversifikasi aset berdenominasi USD.
Direktur Distribusi Kemitraan AIA, Ivy Widjaja, menjelaskan bahwa fokus nasabah kaya saat ini mulai bergeser. Mereka tidak lagi sekadar menumpuk kekayaan, tetapi juga memperhatikan perlindungan aset serta cara meneruskannya ke generasi penerus.
"Prestige Pro ini merupakan produk asuransi jiwa tradisional dalam mata uang US Dollar," kata Ivy Widjaja, Direktur Distribusi Kemitraan AIA, dalam peluncuran Prestige Pro di Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Prestige Pro memberikan perlindungan jiwa hingga nasabah berusia 99 tahun, dengan opsi masa pembayaran premi fleksibel selama 5 tahun atau 10 tahun. Mengingat segmen yang disasar adalah kelas atas, uang pertanggungan awal ditetapkan mulai dari USD 150.000.
Produk ini menawarkan dua pilihan opsi:
Plan Prime: Mempertahankan nilai uang pertanggungan utuh sebesar 100 persen.Plan Flex: Dirancang bagi nasabah yang menginginkan manfaat hidup, di mana nasabah bisa memperoleh penarikan manfaat hingga 50 persen dari total premi yang telah dibayarkan.
Advertisement
Solusi Likuiditas Perencanaan Warisan
Hadirnya Prestige Pro menjawab kebutuhan legacy planning yang kian meningkat. Secara umum, pengelolaan kekayaan melalui tiga tahapan utama: akumulasi aset, perlindungan aset, hingga transfer aset antargenerasi.
Ivy mengungkapkan bahwa salah satu kendala terbesar dalam pembagian warisan adalah bentuk aset yang tidak likuid. Sebagian besar kekayaan keluarga kaya tersimpan dalam bentuk properti atau bisnis yang sulit dicairkan secara cepat saat dibutuhkan dana pewarisan.
"Ketika pada saat itu terjadi, ini adalah masalah likuiditas. Sebenarnya adalah ada kebutuhan dana. Ketika kita ingin eksekusi pewarisan, itu ada biayanya," ujar Ivy.
Selain masalah biaya eksekusi, sifat aset tak likuid ini kerap memicu kendala saat keluarga ingin membagi harta secara adil kepada setiap ahli waris. Karena itu, perencanaan warisan disarankan dilakukan sedini mungkin agar pilihan skema perlindungannya lebih beragam.
Advertisement
AUM Wealth Management BCA Tembus Rp339 Triliun
Bagi BCA, peluncuran Prestige Pro menjadi bagian dari strategi memperkuat bisnis wealth management. Bisnis ini terus dikembangkan untuk memfasilitasi akumulasi, proteksi, hingga transfer kekayaan nasabah.
Kinerja wealth management BCA sendiri mencatatkan pertumbuhan signifikan. Dana kelolaan atau asset under management (AUM) melonjak tajam dari Rp139 triliun pada 2022 menjadi Rp339 triliun per Juni 2026.
Direktur BCA, Haryanto Budiman, menyebut bahwa layanan wealth management BCA kini tak hanya dimanfaatkan oleh segmen high net worth, tetapi juga menyasar segmen menengah hingga mass market.
"2022 itu kita hanya mengelola Rp139 triliun. Per bulan Juni kemarin angkanya Rp339 triliun," kata Haryanto Budiman dalam kesempatan yang sama.
Melihat tingginya kebutuhan nasabah atas diversifikasi aset di luar mata uang Rupiah serta solusi likuiditas pewarisan, BCA merangkul AIA untuk memformulasikan solusi tersebut.
"Jadi kita create produknya. Jadi ini produk di-create oleh AIA, yang disesuaikan dengan kebutuhan nasabah-nasabahnya BCA," tambah Haryanto.
Peluncuran produk ini sekaligus mempertegas kemitraan bancassurance antara BCA dan AIA yang telah terjalin kokoh selama 20 tahun sejak 2006.