Pangkas Waktu Sandar Kapal, Produktivitas Peti Kemas Pelindo Melonjak 70 Persen

Transformasi 5 tahun merger Pelindo pangkas waktu singgah kapal, dorong efisiensi biaya logistik nasional.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Pangkas Waktu Sandar Kapal, Produktivitas Peti Kemas Pelindo Melonjak 70 Persen
Pangkas Waktu Sandar Kapal, Produktivitas Peti Kemas Pelindo Melonjak 70 Persen

Dampak positif merger PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo yang berjalan lima tahun mulai terasa. Integrasi pengelolaan terminal peti kemas yang berfokus pada standardisasi layanan dan efisiensi berhasil memangkas waktu singgah kapal (port stay) serta mempercepat arus barang di pelabuhan.

Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, mengungkapkan bahwa konsistensi pembenahan sejak integrasi pada 2021 telah mendongkrak performa operasional secara signifikan.

"Alhamdulillah, produktivitas meningkat lebih dari 70 persen. Dengan meningkatnya produktivitas, dampaknya pelanggan mendapatkan value yang lebih baik. Port stay juga jauh berkurang sehingga mereka menjadi lebih efisien," kata Widyaswendra, Jumat (2/10).

Pembenahan internal ini mencakup modernisasi sistem, penyetaraan kompetensi sumber daya manusia, hingga pemerataan fasilitas. Dari total 32 terminal yang dikelola, rotasi dan relokasi peralatan kini bisa dilakukan dengan fleksibel sesuai kebutuhan lapangan.

"Karena merger sudah dilakukan sejak 2021, peningkatan kompetensi dan knowledge secara otomatis distandardisasi. Dari total 32 terminal, hampir semua perbaikannya sudah terlihat secara nyata," lanjutnya.

Ia menambahkan, perbaikan alat operasional juga langsung berdampak pada pemangkasan port stay dan cargo stay. Tak hanya itu, lompatan produktivitas ini membuka ruang bagi pembentukan rute-rute pelayaran baru (service baru) lewat kerja sama antarkorporasi.

"Pada akhirnya ketika terjadi peningkatan produktivitas dan kinerja operasional diharapkan juga memberikan dampak pada biaya operasional kapal. Fokus kami adalah bagaimana ekosistem maritim bisa berkontribusi terhadap penurunan biaya logistik, sekaligus konektivitas yang semakin baik," kata Wendra.

INSA Apresiasi Perubahan, Minta Penggantian Alat Dipercepat

Perubahan positif ini juga diakui oleh para pelaku industri pelayaran nasional. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners' Association (INSA), Carmelita Hartoto, menuturkan bahwa efisiensi operasional Pelindo kini sudah menyentuh berbagai daerah.

"Sejauh ini Pelindo selama lima tahun merger telah melakukan banyak improvement layanan secara terus-menerus dan sudah kami rasakan perbaikannya di semua area Pelindo," ujar Carmelita.

Meski begitu, INSA berharap proses pembaruan dan penggantian alat bongkar muat di daerah terus dipacu guna mengimbangi tantangan industri, termasuk tekanan biaya operasional akibat pelemahan nilai tukar rupiah.

"Sampai sekarang Pelindo terus berbenah mengembangkan layanannya untuk lebih terintegrasi di seluruh Indonesia. Harapan kami agar perbaikan dan atau penggantian peralatan bongkar muat dapat segera dilakukan agar port stay lebih baik," kata Carmelita.

Menurutnya, kepastian jadwal dan kecepatan layanan menjadi kunci bagi efisiensi pelayaran. “Yang kami harapkan tentu layanan semakin baik, semakin terintegrasi, dan bisa memberikan kepastian bagi pelaku usaha,” tambahnya.

Carmelita juga menyoroti dampak fluktuasi nilai tukar yang membengkakkan biaya pasokan suku cadang impor. Ia berharap pemerintah ikut menjaga kestabilan struktur biaya industri logistik.

"Pelemahan rupiah akan berdampak terhadap sejumlah biaya yang masih menggunakan dolar atau sangat dipengaruhi oleh nilai tukar. Jadi bukan hanya biaya operasional sehari-hari, tetapi juga perencanaan investasi perusahaan ikut terdampak. Efisiensi dari sisi pengusaha saja tidak cukup. Pemerintah juga perlu membantu menjaga agar struktur biaya industri tetap kompetitif," terangnya.

Tantangan Konsistensi dan Geografis Pelabuhan

Di sisi lain, pengamat supply chain dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Raja Oloan Saut Gurning, menilai langkah pengintegrasian arsitektur proses bisnis dan Terminal Operating System (TOS) oleh Pelindo sudah berada di jalur yang benar. Namun, tantangan utama saat ini adalah mewujudkan pemerataan kualitas layanan secara utuh di seluruh Indonesia.

"Standardisasi layanan petikemas Indonesia lima tahun terakhir berada pada jalur yang tepat. Arsitektur proses bisnis, sistem operasi atau TOS, dan indikator kinerja telah terstandarisasi secara terpusat. Namun, konsistensi layanan riil antarterminal belum sepenuhnya tercapai. Yang terjadi saat ini adalah segmented consistency, konsisten di dalam tiermasing-masing, tetapi belum homogen secara nasional," papar Saut.

Menurut Saut, perbedaan ini wajar mengingat variasi geografis serta spesifikasi peralatan di tiap dermaga. Pelabuhan di jalur sungai pasang-surut tentu memiliki dinamika operasional yang berbeda dengan pelabuhan laut dalam.

"Terminal di wilayah sungai pasang-surut seperti Musi, Barito, atau Kapuas memiliki tidal window yang membatasi konsistensi kedatangan dan keberangkatan kapal. Ini berbeda dengan pelabuhan laut dalam," jelas Saut.

Selain faktor alam, efektivitas sistem teknologi juga sangat bergantung pada keandalan mesin bongkar muat di lapangan (equipment availability).

"TOS yang sama jika dijalankan di terminal dengan STS berkecepatan tinggi akan menghasilkan output berbeda dibanding terminal yang hanya mengandalkan HMC tua atau derek kapal. Tingkat kesiapan alat atau equipment availability dan mean time between failures di terminal luar Jawa masih belum merata,"i pungkas Saut.

Rekomendasi