Pandemi Covid-19 menurun, ternyata membuat Zoom harus memangkas karyawannya. Dilaporkan Al Jazeera, Rabu (8/2), pihak Zoom mengatakan akan memangkas sekitar 1.300 pekerja dan memotong biaya operasional hingga USD68 juta. Keputusan ini dilakukan karena permintaan untuk layanan konferensi videonya melambat dengan memudarnya pandemi.
Sebelumnya, saham perusahaan pun mengalami penurunan sebanyak 63 persen pada tahun lalu. Sempat naik 9,9 persen, namun pada akhirnya turun kembali. Saat mengumumkan PHK pada Selasa, (7/2), Zoom menyebut hampir 15 persen dari tenaga kerjanya terpangkas.
Chief Executive Officer (CEO) Zoom, Eric Yuan juga mengatakan bahwa dirinya memotong gaji sendiri sebesar 98 persen dan melepaskan bonusnya.
"Kami bekerja tanpa lelah, tapi kami juga membuat kesalahan. Kami tidak mengambil waktu sebanyak yang seharusnya untuk menganalisis tim kami secara menyeluruh atau menilai apakah kami tumbuh secara berkelanjutan, menuju prioritas tertinggi," kata Yuan.
Analis pasar memperkirakan pendapatan Zoom hanya meningkat 6,7 persen pada tahun fiskal 2022 setelah lonjakan pendapatan lebih dari empat kali lipat dan lonjakan laba sembilan kali lipat pada tahun 2021. Laba diperkirakan turun 38 persen pada 2022.
Sejumlah perusahaan AS, mulai dari Goldman Sachs Group Inc hingga Alphabet Inc, telah memberhentikan ribuan orang tahun ini untuk mengatasi penurunan permintaan akibat inflasi tinggi dan kenaikan suku bunga.