Audiens mass affluent atau Kelas Menengah Atas yang sering menjadi sasaran para brand seringkali sulit didekati melalui pendekatan pemasaran konvensional. Penelitian terbaru dari IPSOS menunjukkan, bahwa Twitter katanya semakin diminati oleh Kelas Menengah Atas di Asia. Di Indonesia, survei menunjukkan 8 dari 10 Kelas Menengah Atas (79 persen) menggunakan Twitter dalam kehidupan sehari-hari, di mana 54 persen dari pengguna lama berencana untuk terus menggunakannya di masa yang akan datang. Penelitian ini menyasar 1.750 responden di Indonesia, India, Singapura dan Arab Saudi. Metodologi penelitian menunjukkan responden Kelas Menengah Atas adalah mereka yang menyumbang pendapatan negara sebanyak 20%, dengan rentang usia mulai dari 25 hingga 64 tahun.
Studi ini menelaah keseharian masyarakat Kelas Menengah Atas untuk membantu pemasar memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai nilai-nilai personal mereka, perilaku, cara mereka melihat kehidupan dan juga berbagai kebiasaan mereka di kehidupan sosial dan digital. Berikut adalah hasil penelitian yang perlu diketahui para pemasar mengenai Kelas Menengah Atas di Indonesia:
Sebanyak 89 persen Kelas Menengah Atas di Indonesia senang memperoleh informasi yang tepat, 92 persen percaya bahwa hidup adalah untuk mempelajari hal-hal baru setiap harinya, dan 87 persen ingin membantu sesama melalui kegiatan komunitas. Mereka yang menggunakan Twitter 1,3 kali lebih mungkin menghabiskan uangnya untuk barang-barang dan pelayanan kelas atas di masa yang akan datang, serta 1,2 kali lebih mungkin untuk menjadi yang pertama mencoba produk-produk inovasi berteknologi tinggi.
Mereka menghabiskan sebagian besar penghasilannya untuk membeli produk-produk ritel dan otomotif. Selama 12 bulan terakhir, mereka juga menghabiskan membeli kebutuhan rumah dan interior (81persen), pakaian (80persen), dan otomotif (72 persen). Sebanyak 57 persen dari Kelas Menengah Atas mengakui, bahwa Twitter adalah sumber informasi utama bagi mereka untuk mendapatkan informasi dari pihak pertama.
"Penelitian terbaru mengenai Kelas Menengah Atas kali ini fokus pada motivasi dan preferensi mereka sebagai pengguna dan kaum mayoritas di Twitter saat ini, yang mengapresiasi pelayanan konsumen yang lebih baik dan berkualitas, serta bersedia untuk berbagi pengalamannya ke banyak orang. Kami sangat tertarik untuk melihat kepercayaan diri dan keputusan mereka untuk membeli sesuatu dalam kehidupan sehari-hari melalui platform kami. Twitter terus berupaya mencari cara untuk membantu brand dan pemasar meraih kesuksesan, serta menghubungkan dan meningkatkan hubungan mereka dengan kaum Kelas Menengah Atas melalui konten Twitter yang real-time dan mereka minati," ujar Roy Simangunsong, Country Business Head, Twitter Indonesia, dalam keterangannya.
Seluruh Kelas Menengah Atas dari empat negara yang disebutkan di atas berencana untuk meningkatkan alokasi belanja mereka di masa depan. Twitter menanyakan produk apa yang ingin mereka beli dalam 12 bulan terakhir, yang mencakup produk berkelas yang dapat memanjakan mereka hingga ke makanan adikuliner. Hasilnya menunjukkan, bahwa Kelas Menengah Atas di Indonesia ingin membeli peralatan rumah tangga (42 persen) dan menggunakan penghasilan mereka untuk kegiatan sosial atau amal (46 persen).