Mengupas crawler crane, derek maut yang terjatuh di Masjidil Haram

Jenis crane yang jatuh di Masjidil Haram dikenal memiliki bobot yang sangat berat

Bramy Biantoro
Oleh Bramy Biantoro - Reporter
Mengupas crawler crane, derek maut yang terjatuh di Masjidil Haram
crane jatuh di masjidil haram. ©abcnews.com

Salah satu jenis crane (mesin derek) bernama crawler crane Jumat kemarin mengejutkan dunia karena terjatuh di Masjidil Haram. Musibah nahas tersebut telah menewaskan banyak orang yang tengah melaksanakan haji mengingat ukuran si crane yang sangat besar.

Apa itu crawler crane?

Perlu diketahui, crawler crane adalah jenis crane bergerak yang memiliki mesin derek berupa tiang hidrolik atau jeruji besi besar. Mesin ini disebut 'crawler' karena menggunakan roda tank berupa besi dengan bantalan lebar. Alhasil, laju crane ini lambat bak bayi merangkak atau 'crawl'.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Sejarah crawler crane

Kelahiran crawler crane bermula sekitar tahun 1920an di Amerika. Saat itu perusahaan Northwest Engineering membuat crawler crane pertama. Namun, saat itu bentuk dari mesin derek itu hanya seperti sebuah katrol yang dipasangkan di atas rel.

Crawler crane yang lebih modern lantas di buat oleh Ray dan Charles Moore dari Chicago, Amerika. Mesin tersebut bertenaga uap dan berbobot 15 ton. Veris ini mulai dikembangkan dan dipasarkan secara luas di tahun 1925.

Dari situlah, banyak perusahaan alat konstruksi mulai mengembangkan crawler crane yang lebih canggih. Salah satu yang terkenal adalah crawler crane dengan tiang hidrolik pertama buatan Hymac, perusahaan asal Inggris di tahun 1966.

Mampu angkat material ribuan ton ...

Mesin derek yang terkenal akibat roda 'ulatnya' ini biasanya memiliki tinggi total mulai dari 50an meter sampai 120 meter lebih dengan bobot puluhan hingga ratusan ton.

Dengan ukuran raksasa, crawler crane bisa mengangkat benda seberat 40-3.500 ton. Tak aneh bila majalah Cranes & Access di tahun 2006 menyatakan bila crawler crane adalah alat berat terbaik untuk membangun baling-baling raksasa untuk PLTA (pembangkit listrik tenaga angin) yang ketinggianya bisa mencapai 100 meter.

Ini kelemahan terbesar crawler crane ...

Salah satu keuntungan dari crawler crane adalah mobilitas plus-nya di area konstruksi. Mesin ini bisa berjalan meskipun sedang membawa muatan berat.

Penggunaan di lokasi dengan tanah tidak stabil pun memiliki resiko yang lebih rendah. Menggunakan roda mirip milik tank, crawler crane tidak mudah terjebak di pasir atau tanah yang becek.

Akan tetapi, crawler crane sangat berat. Alat berat ini sangat susah dipindahkan dari satu lokasi konstruksi ke lokasi lain. Bahkan untuk memindahkannya, alat ini harus dibongkar dulu sebelum akhirnya di letakkan di atas truk besar untuk dipindahkan.

Akibat bobotnya yang sangat berat itu juga, saat crane jenis ini terjatuh di Masjidil Haram, dampak kerusakannya cukup masif.

Sumber: RitchieWiki,brighthubengineering.com

Rekomendasi