Di era ketika hampir seluruh aspek kehidupan berputar di dalam genggaman, batas antara kebutuhan dan kepraktisan kini makin kabur. Bagi sebagian besar masyarakat perkotaan, urusan mengisi perut atau membeli kebutuhan harian tak lagi selalu menuntut langkah kaki keluar pintu rumah.
Warung makan atau toko kelontong di seberang jalan yang sejatinya hanya berjarak selemparan batu, kerap kalah memikat dibanding kilatan promo serta kepraktisan layar ponsel. Bukan lagi soal jarak atau kendaraan, melainkan tentang bagaimana teknologi berhasil mengubah nilai sebuah kenyamanan.
Gambaran inilah yang dirasakan langsung oleh Hany (22). Bagi Hany, beberapa langkah sederhana menuju warung di depan kosan tempat tinggalnya terkadang terasa jauh lebih berat dibanding memburu pesanan lewat aplikasi di ponsel.
"Pokoknya gue males banget buat ke jalan, cuma jalan lima langkah gitu. Tetap aja gue milih pesan online," tutur Hany terkekeh.
Dalam sehari, Hany bisa memesan makanan satu hingga dua kali. Cuaca terik, hujan deras, atau sekadar enggan menyapa dunia luar menjadi alasan jemarinya kembali menjelajahi aplikasi.
Apa yang dialami Hany adalah potret riil dari fenomena lazy economy, sebuah kondisi di mana kemajuan teknologi membuat berbagai pemenuhan kebutuhan harian dapat dituntaskan dengan usaha seminimal mungkin. Masyarakat modern kini tak ragu merogoh kocek lebih dalam demi membayar ongkos kirim, bertukar peran dengan waktu dan tenaga yang hemat.
Pasar gaya hidup ini tentu disokong raksasa platform digital. Laman resmi GoFood mencatat ada sekitar 5,3 juta mitra pedagang yang terhubung hingga 31 Desember 2024, dengan membukukan total transaksi mencapai Rp19,6 triliun pada 2023.
Di sisi lain, jutaan pengguna juga menggantungkan urusan perut setiap harinya pada GrabFood yang menawarkan ragam fitur—mulai dari pengiriman instan, pengantaran terjadwal, hingga opsi pengiriman hemat.
Bagi Hany, kepraktisan ini menjalar ke urusan belanja bulanan yang kini juga ia tuntaskan secara daring. Jika kelak layanan pesan antar tiba-tiba lenyap, hal yang paling membayangkannya merepotkan bukanlah memasak, melainkan melangkah keluar rumah.
"Paling yang merepotkan jalannya sih, karena gue nggak ada kendaraan,” ucapnya.
Namun, di balik kesan 'mager', Hany merasa teknologi justru memangkas waktu secara efisien. Sambil menunggu pengemudi ojek daring mengantar pesanan, ia dapat tetap fokus menyelesaikan pekerjaan hingga skripsi tanpa perlu memecah konsentrasi.
Advertisement
Kenyamanan yang Menjelut Jadi Kebiasaan
Pengalaman serupa dirasakan Nasywa (21). Dalam sepekan, ia bisa dua sampai tiga kali memesan makanan via aplikasi. Ragam pilihan menu yang melimpah ditambah gelontoran promo membuat aktivitas berbelanja online terasa memanjakan.
"Aku pribadi ngerasa seneng aja untuk belanja online food, kayak pesan paket makanan,” kata Nasywa.
Saking praktisnya, kebiasaan ini merembet ke kebutuhan sehari-hari. Nasywa bahkan pernah membeli barang kebutuhan minimarket hanya lewat aplikasi Grab. Baginya, penggunaan layanan daring bukan lagi sekadar coba-coba, melainkan sudah menjadi zona nyaman.
Namun, fenomena lazy economy tak melulu berakar dari rasa malas semata. Ada perhitungan matematis dan efisiensi waktu di dalamnya.
Lena (22), yang memesan makanan tiga hingga empat kali seminggu, menggunakan aplikasi sebagai strategi saat tenggelam dalam tumpukan pekerjaan, cuaca di luar terlalu menyengat, atau saat ada diskon potongan harga. "Ketimbang ke luar panas-panasan, selisih sedikit sama harga aslinya nggak masalah," ujar Lena.
Lena bahkan pernah memesan makanan dari resto yang lokasinya terbilang dekat. Ia rela merogoh Rp6.000 hingga Rp10.000 untuk biaya pengiriman. Menurutnya, teknologi adalah alat menghemat tenaga yang sangat berguna, selama penggunaannya tetap terkontrol. Pasalnya, di luar urusan makanan, ia sendiri masih gemar berjalan kaki.
Ia menyadari betul betapa tipisnya batas antara kemudahan dan ketergantungan. “Kalau kita bergantung sama teknologi, pasti lama-lama kita akan fokusnya ke teknologi semuanya, akhirnya jadi mager,” tutur Lena.
Advertisement
Membeli Sesuatu yang Tak Terlihat
Kisah Hany, Nasywa, dan Lena memperlihatkan tiga wajah lazy economy dari sudut pandang generasi muda. Hany menggunakannya untuk memangkas jarak fisik, Nasywa karena sudah terbiasa dengan kepraktisan ekosistem digital, sedangkan Lena menghitung kompromi antara cuaca, promo, dan tenaga.
Pada akhirnya, teknologi telah berhasil memotong aktivitas-aktivitas kecil dalam dinamika harian. Lima langkah menuju warung kini bergeser menjadi satu ketukan di layar. Belanja dapur bulanan kini selesai tanpa perlu meninggalkan kursi kerja.
Di titik inilah, ongkos kirim yang dibayarkan konsumen bukan lagi sekadar biaya pengantaran barang. Bagi masyarakat modern, nominal tersebut adalah harga yang sepadan untuk membeli sesuatu yang tak kasatmata: waktu, tenaga, dan kenyamanan.