Nasib BlackBerry masih tidak menentu walau BBM sudah 'buka diri

BBM diharapkan mampu angkat nasib BlackBerry, sayangnya hal tersebut kurang begitu maksimal.

Dwi Andi Susanto
Oleh Dwi Andi Susanto - Reporter
Nasib BlackBerry masih tidak menentu walau BBM sudah 'buka diri
BlackBerry © Mashable.com

BlackBerry memang menggadang-gadangkan dapat meraup untung banyak ketika membuka satu produk unggulan mereka ke pengguna perangkat berbasis Android dan iOS, yaitu BlackBerry Messenger (BBM). Namun benarkah BBM dapat menyelamatkan nasib perusahaan asal Kanada tersebut?Di tahun 2008 silam, pada saat masih menggunakan nama Research In Motion (RIM), BlackBerry menjadi satu perusahaan bonafit dengan nilai jual lebih dari USD 82,9 miliar.Namun mengutip tulisan di Seeking Alpha (15/12), per tanggal 9 Desember 2013 lalu, nilai jual perusahaan satu ini hanya sebesar USD 3 juta saja.Tentu saja, sebelumnya banyak orang yang mengharapkan segera dapat menggunakan BBM di perangkatnya beberapa bulan lalu. Namun, ketika sudah dirilis secara resmi, gaung dari BBM tidak terlalu keras lagi terdengar.Bahkan menurut survei yang dilakukan On Device , mengungkapkan bahwa WhatsApp adalah pemimpin dari semua aplikasi chatting yang ada saat ini. Dari hasil survei tersebut menghasilkan data yang mengatakan sebanyak 44 persen responden menggunakan WhatsApp setidaknya sekali dalam seminggu. Di bawahnya ada Facebook dengan 35 persen, WeChat 28 persen dan BlackBerry Messenger (BBM) 17 persen.Tentunya menjadi satu hal yang cukup mengherankan karena sebelum dirilisnya BBM untuk Android dan iOS beberapa bulan lalu, banyak pengamat yang memperkirakan bahwa produk unggulan tersebut mampu menyelamatkan BlackBerry dari jurang kepailitan.Selain BBM, beberapa produk BlackBerry lainnya juga tidak begitu bagus dalam penjualan apabila dibandingkan dengan perangkat lain yang sejenis. Ditambah lagi ketika BlackBerry membuka diri untuk dapat diakuisisi oleh perusahaan lain, banyak pihak yang tidak berminat untuk mengambil alihnya.Beberapa minggu lalu, ' nahkoda' BlackBerry Thorsten Heins harus digantikan oleh John Chen dengan harapan bahwa perusahaan ini dapat lebih maju dan tumbuh berkembang.Sayangnya, di bawah pimpinan CEO baru itu, kabar paling anyar mengatakan bahwa akan ada 2 pejabat tinggi di BlackBerry yang justru memutuskan untuk mundur dan keluar. Dari berbagai masalah yang terus menerpa perusahaan asal Kanada ini, apakah hal tersebut sebagai tanda BlackBerry sudah saatnya mengibarkan bendera putih di kancah persaingan dunia mobile? Bagaimana menurut Anda?

Rekomendasi