Mengapa Aksen Seseorang Tidak Akan Bisa Luntur? Ini Penjelasannya!

Sabtu, 21 Maret 2020 05:00 Reporter : Indra Cahya
Mengapa Aksen Seseorang Tidak Akan Bisa Luntur? Ini Penjelasannya! ilustrasi marah ke komputer. ©huffingtonpost.com

Merdeka.com - Seringkali kita bertemu dengan seseorang dengan aksen daerah yang sangat tebal. Meski seseorang sudah bertahun-tahun merantau, aksen dari daerah asal tetap sulit untuk dihilangkan.

Bahkan seorang aktor pun kadang-kadang masih memiliki cela jika berperan menggunakan dialek tertentu.

Menghilangkan aksen memang hal yang sulit, bahkan hampir mustahil. Meski otak kita sangat mudah dalam mengenali dan belajar aksen tertentu, hal tersebut sangat sulit ditransfer ke pembicaraan kita. Mengapa? Menurut para ilmuwan, hal tersebut sudah muncul sejak kita masih bayi, dan belum mampu bicara sepatah kata pun.

1 dari 2 halaman

Dilansir dari Wired, para ilmuwan dari University of Washington selama berpuluh-puluh tahun telah mencari tahu bagaimana otak mempelajari bahasa. Penelitian dilakukan dengan menilai bagaimana bayi dari seluruh dunia merespon suara.

Dalam suatu penelitian yang melibatkan bayi-bayi dari berbagai suku, mereka diperdengarkan suara-suara yang kental dengan nuansa Jepang dan inggris. Pada bayi berusia 6 bulan, mereka merespon suara-suara tersebut dengan setara.

Namun menginjak 10 bulan, bayi mulai tidak mengenal suara yang tidak ada di bahasa ibunya. Seperti bayi Jepang yang tidak menghiraukan huruf "r" dan "l" yang tidak umum di bahasa Jepang, namun umum di bahasa Inggris. Kesulitan untuk mengenali bahasa hang bukan bahasa Ibu memang cepat, namun untuk mempraktikkannya, dari lahir pun sulit.

2 dari 2 halaman

Kemampuan Berbahasa Akan Menajam

Studi lain dari grup yang berbeda, menyatakan hal yang sebaliknya. Di mana kemampuan untuk belajar bahasa tak akan tiba-tiba menghilang, justru kemampuan ini akan menajam ketika memasuki masa puber.

Setelah meneliti berbagai subjek, sang ilmuwan mendapati bahwa kemampuan seseorang dalam mempelajari bahasa kedua, berhubungan secara langsung dengan usia ketika mempelajarinya.

Kita memulai belajar bahasa dengan melihat sekitar, dan meniru orang tua, dan otak kita seakan-akan membentuk 'perpustakaan' yang membuat kita tetap fasih berbahasa.

Namun ketika kita mendengar bahasa atau dialek yang baru, otak kita menempuh proses yang sama dalam belajar, namun tetap merujuk pada 'perpustakaan' bahasa asli yang kita pelajari.

Oleh karena itu, otak kita tidak menggunakan dialek atau bahasa yang baru, hanya mengambil perkiraan kasar suara yang sudah kita mengerti di otak kita.

Hal ini adalah kinerja alamiah otak kita. Jika tidak dilatih untuk membentuk 'perpustakaan' baru di otak, seseorang bisa tinggal puluhan tahun di negara yang berbahasa asing, tanpa kehilangan aksen sedikit pun. [idc]

Baca juga:
Ahli Sebut Ada Kemungkinan Virus Corona Berasal dari Alam, Ini Penjelasannya
Pertama Kali Dalam Sejarah, 17 Ribu Karyawan NASA Kerja Dari Rumah
Ilmuwan Cari 'Pasien Nol' Covid-19, Kasus Pertama Muncul 17 November 2019
Bill Gates Pernah Prediksi Bahwa Pandemi Adalah Ancaman Umat Manusia
Astronom Temukan Oksigen Molekular di Luar Galaksi Bima Sakti
Misi Peluncuran Robot Mars oleh Eropa dan Rusia Tertunda Hingga 2022
NASA Temukan Asteroid Berkecepatan Tinggi yang Mengarah ke Bumi, Bahaya?

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Penelitian Ilmiah
  3. Sains
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini