Advertisement
Masalahnya, untuk mendapatkan tempat tinggal tersebut, manusia harus membawa infrastruktur tersebut dari Bumi ke Bulan atau membangun infrastruktur tersebut di atas Bulan.
Untuk mengatasi masalah tersebut, daripada membawa bahan bangunan jauh-jauh ke Bulan, para ilmuwan berusaha untuk menggunakan bahan-bahan yang ada di Bulan untuk membangun pangkalan di Bulan.
Melansir Badan Antariksa Eropa (ESA) dan BBC, Senin (15/7), para ilmuwan di ESA telah menggunakan debu dari sebuah meteorit untuk mencetak “batu bata angkasa luar” 3D setelah terinsipirasi dari permainan LEGO.
Permukaan Bulan ditutupi oleh lapisan batuan dan pecahan mineral yang dikenal sebagai regolit Bulan.
Bahan-bahan tersebut dapat dibentuk menjadi batu bata angkasa luar untuk membangun infrastruktur manusia. Akan tetapi, tidak banyak regolit Bulan yang tersedia di Bumi untuk melakukan eksperimen pembangunan.
Ilmuwan-ilmuwan di ESA pun membuat regolit Bulan buatan mereka sendiri dengan menggiling meteorit berusia 4,5 miliar tahun.
Meteorit tersebut ditemukan di Afrika Barat Laut 24 tahun yang lalu. Ia terdiri dari banyak jenis batuan, seperti butiran logam besar dan kondrul, yang terbentuk dari tetesan yang mencair dari batu.
Debu dari meteorit tersebut membentuk dasar dari campuran yang kemudian digunakan untuk mencetak/print secara 3D batu bata angkasa luar yang mirip seperti LEGO.
Batu bata buatan ESA saling menempel dengan cara yang sama seperti batu bata/komponen LEGO biasa, meski sedikit lebih kasar.
Advertisement
Batu bata yang berwarna abu-abu tersebut memberi fleksibilitas kepada ilmuwan ESA untuk menguji dan membangun berbagai struktur bangunan.
Batu bata tersebut memungkinkan berbagai ide-ide bangunan dicoba dengan cepat dan sederhana.
“Belum ada yang pernah membangun struktur di Bulan, jadi kita harus memikirkan tidak hanya bagaimana kita membangunnya, tetapi juga dari bahan apa kita membangunnya karena kita tidak bisa membawa bahan apa pun,” ujar Aidan Cowley, Petugas Sains ESA.
Beberapa batu bata angkasa luar ESA tersebut akan dipamerkan di Toko-Toko Lego tertentu untuk menginspirasi anak-anak tentang angkasa luar dan mendorong mereka untuk membangun pangkalan Bulan LEGO mereka sendiri.
“Bukan rahasia lagi bahwa para ilmuwan dan insinyur di dunia nyata terkadang mencoba-coba ide menggunakan komponen LEGO. Batu bata angkasa luar ESA adalah cara yang baik untuk menginspirasi kaum muda dan menunjukkan kepada mereka bagaimana permainan dan kekuatan imajinasi juga memiliki peran penting dalam ilmu pengetahuan angkasa luar,” jelas Emmet Fletcher, Kepala Kantor Merek dan Kemitraan ESA.