Di tengah gempuran notifikasi dan ketergantungan digital, banyak anak muda — terutama Gen Z — kini justru memilih langkah mengejutkan: beralih ke ponsel jadul seperti BlackBerry.
Alih-alih gawai pintar dengan layar besar dan aplikasi canggih, mereka memburu ponsel era 2000-an demi satu hal yang sulit didapat saat ini: ketenangan.
Mengutip NYPost, Senin (16/6), ironisnya, tren ini justru tersebar luas lewat media sosial — medium yang tak bisa diakses dari BlackBerry.
Platform seperti TikTok kini dipenuhi ribuan video Gen Z yang memamerkan koleksi BlackBerry mereka, lengkap dengan dekorasi stiker, gantungan lucu, hingga suara keyboard "clicky" yang bikin nostalgia.
Advertisement
Tren ini tak lepas dari gelombang nostalgia Y2K (Year 2000) yang sedang marak, termasuk estetika cyberfuturism, McBling ala Britney Spears, dan gadget seperti Walkman, iPod, serta kamera digital. Namun BlackBerry jadi ikon tersendiri, bukan sekadar alat komunikasi, tapi simbol zaman yang lebih sederhana.
“Smartphone sekarang udah nggak bikin senang lagi. Sekarang orang malah kecanduan, dan mereka pengin kembali ke masa ketika semuanya lebih simpel,” ujar Pascal Forget, kolumnis teknologi asal Montreal kepada CBC News.
TikTokers seperti @notchonnie menunjukkan koleksi perangkat retro mereka dengan bangga. Salah satu komentar menyebut,
“Saya rela tinggalkan semuanya demi BlackBerry!” Tak sedikit pula yang rela mencari ke situs-situs seperti Facebook Marketplace dan eBay demi mendapatkan ponsel ikonik ini.
Advertisement
Dengan harga BlackBerry bekas hanya ratusan ribu hingga beberapa juta rupiah — jauh lebih murah dibanding iPhone terbaru yang bisa tembus belasan juta — generasi muda merasa pilihan ini masuk akal. Apalagi, paket data mahal tak lagi dibutuhkan. “Peace of mind” pun jadi bonus tak ternilai.
Menurut laporan Pew Research Center 2024, hampir setengah remaja Amerika kini mengaku online “hampir terus-menerus”, melonjak dari 24% pada 10 tahun lalu. Banyak yang mulai merasa kehilangan koneksi dengan dunia nyata, bahkan mengalami sensasi “getaran hantu” dari notifikasi yang tak ada.
Seorang mahasiswa 20 tahun, Charlie Fisher, mengaku pada USA Today bahwa hidupnya jadi lebih baik sejak mengganti iPhone dengan ponsel lipat. “Saya mulai melihat dunia seperti waktu kecil,” ungkapnya. “Semua terasa lebih nyata.”