Karyawan brilian sering kali menjadi bintang di tempat kerja, memukau rekan kerja dengan ide-ide cemerlang dan wawasan tajam.
Namun, keunggulan mereka terkadang disertai perilaku yang merusak, seperti mendominasi rapat, mengecilkan kontribusi rekan, gibah, atau bahkan berperilaku kasar. Hal ini menciptakan tantangan besar bagi para pemimpin organisasi.
Karyawan seperti ini sering kali merasa dirinya lebih unggul dari yang lain. Mereka mengabaikan nilai-nilai kerja sama, memaksakan aturan sendiri, dan bahkan memicu konflik di lingkungan kerja.
Reed Hastings, CEO Netflix, menyebutkan bahwa organisasi mereka memilih untuk tidak mentoleransi “jerks” seperti ini, meskipun mereka pintar. Bos Netlfix menyebutnya sebagai brilliant jerks.
"Beberapa perusahaan mungkin mentoleransi mereka. Namun bagi kami, biaya terhadap kerja tim yang efektif terlalu tinggi," jelas Hastings dikutip Inc, Jumat (24/1).
Menurutnya, ketika karyawan brilian tidak sejalan dengan budaya kerja, dampaknya bisa sangat merusak. Meski produktivitas individu mereka tinggi, mereka bisa menghancurkan kepercayaan, kolaborasi, dan reputasi pemimpin. Hal ini membuat tim kehilangan semangat dan efektivitas kerja.
Alasan Reed Hastings pun bukan tanpa alasan ilmiah. Harvard Business Review pernah menulis tentang perilaku buruk satu orang saja dapat menular dan mengubah budaya kerja tim menjadi toksik.
Jika seorang anggota tim bersikap kasar atau merendahkan, seperti mengatakan, “Kamu pasti bercanda” atau “Jelas sekali kamu tidak paham bisnis,” anggota lain bisa terpengaruh untuk bersikap serupa.
Dalam jangka panjang, sikap negatif ini menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat. Moral tim menurun, kolaborasi terganggu, dan pergantian karyawan meningkat.