Bekas Pangkalan Militer Dibuat Bunker Penyelamat Hari Kiamat, Segini Harga Sewanya

Tempat disulap menjadi rumah beton yang diklaim bisa jadi tempat berlindung selamatkan jiwa.

Fauzan Jamaludin
Oleh Fauzan Jamaludin - Reporter
Bekas Pangkalan Militer Dibuat Bunker Penyelamat Hari Kiamat, Segini Harga Sewanya
Bekas Pangkalan Militer Dibuat Bunker Penyelamat Hari Kiamat. Segini Harga Sewanya (© AI/PixlrApps/Merdeka.com)

Sebuah komunitas di AS menyediakan tempat tinggal bagi ‘warga biasa’ seandainya keadaan dunia ‘kacau balau’.

Komunitas ini bernama komunitas doomsday atau komunitas kiamat.

Melansir laporan Metro UK dan Daily Mail, Selasa (26/12), komunitas ini telah menyulap bekas pangkalan militer.

Pangkalan militer ini membentang sepanjang 18 mil (sekitar 29 kilometer) menjadi 575 bunker tempat tinggal yang dapat menampung hingga 10.000 orang.

Dok. Istimewa
© AI/PixlrApps/Merdeka.com

Bunker ini terletak di pegunungan Black Hills, South Dakota, AS. Sebelumnya, bunker ini difungsikan sebagai tempat penyimpanan bom dan amunisi dari tahun 1942 hingga 1967.

Dok. Istimewa
© AI/PixlrApps/Merdeka.com

Sekarang, tempat itu disulap menjadi rumah beton yang diklaim dapat menjadi tempat berlindung yang dapat menyelamatkan jiwa. Merupakan bagian dari Vivos xPoint,  bunker ini diberi harga $55.000 (sekitar Rp859 juta) ditambah biaya sewa tanah tahunan sebesar $1.091 (sekitar Rp17 juta).

"Vivos, yang kini dikenal sebagai proyek kelangsungan hidup kemanusiaan yang luar biasa, sepenuhnya siap menghadapi apapun dan kapanpun peristiwa terjadi,"

Dante Vicino, Direktur Eksekutif Perusahaan tersebut.

Dia melanjutkan bahwa anggota komunitas ini bukanlah kelompok ‘yang siap’ atau ‘satu persen elit’, melainkan mereka yang berpendidikan tinggi dan rata-rata dengan kesadaran yang tinggi mengenai ancaman-ancaman yang datang pada masa kini.

Orang-orang ini juga memiliki tanggung jawab, mengetahui bahwa mereka harus melindungi keluarga mereka saat masa-masa yang berpotensi membawa bencana terjadi.

"Profil ekonomi mereka juga beragam, mulai dari kelas menengah ke bawah hingga individu dengan kekayaan bersih tinggi,"

Dante Vicino, Direktur Eksekutif Perusahaan tersebut.

Dok. Istimewa
© AI/PicsartApps/Merdeka.com

Ketika keadaan memburuk, Vivos dapat menjadi rencana cadangan untuk bertahan hidup. Jadi, ketika orang-orang berjuang untuk mencari solusi, para anggota akan berangkat ke tempat penampungan dan mengunci pintu peledaknya.

Tempat penampungan itu juga memiliki operasi otonom minimal satu tahun tanpa adanya orang yang perlu kembali ke permukaan. Bunker modern yang dibuat juga memiliki perabotan dan dipenuhi dengan segala kebutuhan di ruang terbuka yang subur.

Menurut Vicino, setelah pandemi terjadi permintaan untuk mendaftar menjadi anggota yang tinggal di Vivos semakin tinggi. Permintaan dan permohonan dilaporkan naik lebih dari 2.000 persen dari tahun ke tahun, dan penjualan naik lebih dari 300 persen dan tumbuh secara eksponensial.

Selain di AS yang bernama Vivos Xpoint, perusahaan juga tengah membangun Vivos Europa di sebuah gunung di Jerman.

“Vivos bukan hanya tentang beton, baja, dan pintu tahan ledakan. Hal ini tentang memiliki rencana cadangan agar umat manusia dapat bertahan hidup dan agar keluarga-keluarga mempunyai kesempatan untuk menjadi bagian dari komunitas yang memiliki pemikiran yang sama ketika peristiwa-peristiwa ini terjadi,” tutup Vicino.

Rekomendasi