Telur Mentah atau Matang, yang Miliki Kandungan Gizi Lebih Tinggi? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Perdebatan yang sudah lama berlangsung mengenai mana yang lebih bergizi antara telur mentah dan telur matang kini telah menemukan jawabannya.

Edelweis Lararenjana
Oleh Edelweis Lararenjana - Reporter
Telur Mentah atau Matang, yang Miliki Kandungan Gizi Lebih Tinggi? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Ilustrasi kualitas cangkang telur/Copyright pixabay.com/akirEVarga (© 2025 Liputan6.com)

Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang paling mudah diakses dan terjangkau. Nutrisi yang terkandung di dalamnya sangat lengkap, mencakup protein, lemak sehat, vitamin, serta mineral penting seperti zat besi dan selenium.

Meskipun demikian, masih ada perdebatan mengenai cara terbaik untuk mengonsumsinya: apakah lebih baik mengonsumsi telur mentah dibandingkan telur yang sudah dimasak? Beberapa orang beranggapan bahwa mengonsumsi telur mentah dapat mempertahankan kandungan gizinya secara utuh, sementara yang lain merasa cara ini kurang aman dan dapat mengurangi manfaatnya.

Dalam tulisan ini, kita akan mengeksplorasi perbandingan nilai gizi antara telur mentah dan telur matang dengan pendekatan ilmiah. Kamu akan belajar tentang bagaimana proses pemanasan dapat memengaruhi kandungan protein, vitamin, serta risiko yang terkait dengan konsumsi telur mentah dari sudut pandang kesehatan. Oleh karena itu, sebelum kamu memutuskan metode konsumsi yang paling tepat, simaklah penjelasan secara mendalam agar dapat membuat pilihan yang bijak dan tetap memperoleh manfaat maksimal dari telur.

Menurut informasi dari United States Department of Agriculture (USDA), sebutir telur ayam berukuran besar memiliki kandungan sekitar 6 hingga 7 gram protein, 5 gram lemak, serta berbagai vitamin dan mineral esensial seperti vitamin B12, vitamin D, zat besi, dan selenium, baik dalam keadaan mentah maupun setelah dimasak. Yang menjadi perbedaan utama bukanlah jumlah gizinya, melainkan tingkat penyerapan oleh tubuh.

Sebuah penelitian yang berjudul Digestibility of Raw and Cooked Egg Protein in Humans, yang diterbitkan dalam The Journal of Nutrition pada tahun 1998, menyatakan bahwa protein yang terdapat dalam telur yang dimasak dapat diserap oleh tubuh hingga 91%, sedangkan dari telur mentah hanya sekitar 51%. Proses memasak berfungsi untuk memecah struktur protein yang kompleks menjadi lebih sederhana, sehingga lebih mudah dicerna oleh tubuh. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun total kandungan protein pada kedua jenis telur tersebut sama, efektivitas penyerapan lebih tinggi pada telur yang telah dimasak.

Selain itu, mineral seperti zat besi dan fosfor tidak mengalami perubahan signifikan akibat proses pemanasan. Dengan demikian, jika dilihat dari perspektif makronutrien dan efisiensi penyerapan, telur yang dimasak lebih unggul dalam memenuhi kebutuhan gizi harian.

Menurut Harvard T.H. Chan School of Public Health, putih telur yang belum dimasak mengandung protein bernama avidin. Protein ini memiliki kemampuan alami untuk mengikat vitamin B7 atau biotin, sehingga menyulitkan tubuh untuk menyerap biotin dengan baik. Jika putih telur terus dikonsumsi dalam keadaan mentah, hal ini dapat menyebabkan kekurangan biotin yang berdampak negatif pada kesehatan kulit, rambut, serta sistem saraf. Namun, ketika telur dimasak, avidin akan mengalami denaturasi karena panas, sehingga kehilangan kemampuannya untuk mengikat biotin.

Pernyataan ini juga didukung oleh jurnal berjudul Bioavailability of Vitamins in Food yang diterbitkan dalam Advances in Nutrition pada tahun 2013. Jurnal tersebut menyebutkan bahwa pemanasan merupakan metode yang efektif untuk menonaktifkan avidin, sekaligus memastikan ketersediaan biotin dalam makanan. Dengan demikian, bagi mereka yang menjadikan telur sebagai salah satu sumber vitamin B kompleks, terutama biotin, sangat disarankan untuk mengonsumsi telur yang telah dimasak. Ini penting untuk menjaga kestabilan asupan mikronutrien harian yang dibutuhkan oleh tubuh.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat, konsumsi telur mentah dapat meningkatkan risiko terpapar bakteri Salmonella enteritidis, yang berpotensi menyebabkan keracunan makanan dengan gejala seperti diare, muntah, dan demam tinggi. Meskipun jumlah kasusnya tidak selalu tinggi, kelompok yang rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia disarankan untuk tidak mengonsumsi telur mentah demi kesehatan mereka.

Laporan dari USDA Food Safety and Inspection Service (FSIS) menekankan pentingnya memasak telur hingga mencapai suhu internal minimal 71°C (160°F) untuk membunuh bakteri Salmonella secara efektif. Dengan demikian, memasak telur merupakan salah satu cara paling aman untuk memastikan bahwa telur tersebut dapat dikonsumsi tanpa risiko kesehatan.

Bagi mereka yang ingin menikmati hidangan yang mengandung telur mentah, seperti mayones buatan sendiri atau smoothie, CDC merekomendasikan penggunaan telur pasteurisasi. Telur pasteurisasi adalah telur yang telah dipanaskan pada suhu tertentu untuk membunuh patogen tanpa merusak struktur telur secara signifikan, sehingga tetap aman untuk dikonsumsi.

Telur yang dimasak memang memiliki keunggulan dalam hal keamanan serta penyerapan protein, namun ada beberapa kekurangan kecil terkait stabilitas vitamin tertentu. Sebagaimana diungkapkan dalam artikel EatingWell yang merujuk pada Academy of Nutrition and Dietetics, proses memasak dapat mengurangi kandungan beberapa vitamin yang sensitif terhadap panas, seperti vitamin B1 (tiamin) dan B9 (folat), terutama jika telur dimasak dalam waktu yang lama atau pada suhu yang tinggi.

Namun, vitamin A, D, E, dan K yang larut dalam lemak, serta mineral seperti zat besi, kalsium, dan zinc tetap terjaga stabilitasnya setelah proses memasak. Pemanasan yang moderat, seperti merebus atau mengukus telur, tidak akan menghilangkan sebagian besar nutrisi penting tersebut. Oleh karena itu, disarankan untuk menggunakan teknik memasak yang lebih ringan, seperti merebus telur hingga matang sempurna (hard-boiled) atau setengah matang (soft-boiled), agar keseimbangan antara keamanan pangan dan retensi gizi tetap terjaga. Pendekatan ini memungkinkan tubuh untuk menyerap nutrisi secara optimal dengan kehilangan vitamin yang minimal.

Telur Mentah atau Matang, Mana yang Memiliki Kadar Gizi Tinggi? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Ilustrasi kualitas cangkang telur/Copyright pixabay.com/akirEVarga © 2025 Liputan6.com

Telur yang sudah dimasak terbukti memiliki kemampuan penyerapan protein dan biotin yang lebih baik, serta tidak mengandung risiko bakteri seperti Salmonella. Di sisi lain, telur mentah mungkin menyimpan beberapa vitamin dalam kadar yang lebih tinggi, tetapi tingkat ketersediaannya rendah dan risiko keamanannya lebih besar. Menurut informasi yang diperoleh dari lembaga resmi seperti USDA, CDC, dan berbagai jurnal ilmiah, mengonsumsi telur yang sudah dimasak adalah pilihan yang paling aman dan efektif untuk memenuhi kebutuhan gizi harian kita.

Konsumsi telur matang tidak hanya memberikan manfaat kesehatan yang lebih baik, tetapi juga memberikan rasa aman bagi konsumen. Sementara itu, meskipun telur mentah memiliki beberapa kandungan vitamin, risiko kesehatan yang ditimbulkannya jauh lebih besar. Dengan mempertimbangkan hasil penelitian dan rekomendasi dari para ahli, jelas bahwa telur yang dimasak adalah pilihan yang lebih bijak untuk menjaga kesehatan dan memenuhi asupan gizi yang diperlukan tubuh.

Rekomendasi