Tanda-tanda Makanan dan Roti yang Kedaluwarsa, Ketahui Bagaimana Menentukan Apakah Masih Aman Dikonsumsi

Meskipun kemasan roti yang dibeli di toko mencantumkan tanggal kedaluwarsa, sebenarnya tanggal tersebut lebih bersifat sebagai petunjuk.

Dyah Puspita Wisnuwardani
Tanda-tanda Makanan dan Roti yang Kedaluwarsa, Ketahui Bagaimana Menentukan Apakah Masih Aman Dikonsumsi
tips memanggang roti agar tidak keras Ilustrasi dibuat AI (© 2024 Liputan6.com)

Selain nasi, roti telah menjadi makanan utama bagi manusia selama ribuan tahun. Menurut informasi yang dikutip dari LiveScience, roti ragi pertama kali muncul sekitar tahun 1.000 SM di Mesir. Sejak saat itu, roti telah mengalami perkembangan dengan memanfaatkan berbagai jenis biji-bijian. Masa simpan roti juga telah diperpanjang dengan penambahan bahan pengawet. Namun, masih ada perdebatan mengenai cara yang tepat untuk mengetahui apakah roti masih aman untuk dimakan atau sudah kedaluwarsa. Meskipun tanggal kedaluwarsa tertera pada kemasan roti yang dibeli, tanggal tersebut lebih merupakan indikasi daripada batas pasti kapan roti sebaiknya dimakan.

Berdasarkan informasi dari Departemen Pertanian AS (USDA), umur simpan roti yang diproduksi secara komersial biasanya berkisar antara 2 hingga 4 hari pada suhu kamar, 7 hingga 14 hari di lemari es, dan hingga 3 bulan jika dibekukan. Namun, perlu diingat bahwa beberapa faktor lain juga memengaruhi masa simpan roti, seperti jenis roti, cara pengemasan, serta kondisi iklim mikro di tempat tinggal Anda. Mengingat semua faktor ini, terdapat beberapa tanda yang menunjukkan bahwa roti telah melewati masa aman untuk dikonsumsi, mulai dari kemunculan jamur hingga munculnya bau tidak sedap, seperti yang dilansir oleh The Dailymeal.

Berjamur

Roti, sebagai salah satu makanan, sangat rentan terhadap berbagai jenis jamur, seperti Aspergillus, Penicillium, Fusarium, Mucor, dan Rhizopus. Apapun jenis jamur yang terdapat pada roti, Anda sebaiknya tidak mengonsumsinya. Meskipun jamur mungkin hanya terlihat di permukaan roti, akar spora jamur dapat dengan cepat menyebar ke seluruh bagian roti. Spora ini mengandung mikotoksin berbahaya yang dapat menyebabkan masalah kesehatan. Selain itu, paparan berkepanjangan terhadap mikotoksin ini bisa merusak flora pencernaan Anda dengan mengganggu pertumbuhan bakteri baik. Konsumsi jamur dari jenis Aspergillus bahkan telah dikaitkan dengan risiko kanker.

Pencegahan terbaik untuk menghambat pertumbuhan jamur pada roti, terutama yang tidak mengandung pengawet, adalah dengan menghindarkannya dari kelembapan. Menyimpannya dalam wadah kedap udara yang dibungkus dengan handuk kertas adalah langkah awal yang baik untuk memperpanjang umur simpan roti. Jika Anda memanggang roti dari awal, pastikan untuk mendinginkannya sepenuhnya sebelum disimpan. Selain itu, roti sebaiknya disimpan di tempat yang sejuk dan kering, jauh dari sinar matahari, seperti dalam keranjang roti atau lemari dapur.

Bau yang Tidak Enak

Aroma roti yang baru dipanggang sering kali membuat kita tergoda untuk mencicipinya. Namun, seiring dengan bertambahnya usia roti, ia mulai mengeluarkan bau yang tidak sedap, seperti cuka atau minuman malt yang telah difermentasi. Jika bau tersebut muncul, roti tersebut sudah tidak layak konsumsi dan sebaiknya dibuang. Pengecualian mungkin berlaku untuk roti sourdough, yang memang memiliki aroma asam secara alami. Roti ini juga memiliki daya simpan yang lebih lama karena proses fermentasi ragi yang digunakan.

Selain itu, ada bau lain yang perlu diwaspadai terkait dengan masa kedaluwarsa roti, yaitu munculnya jamur. Menghirup spora jamur dapat memperburuk alergi dan menyebabkan kesulitan bernapas, bahkan berpotensi memicu reaksi anafilaksis. Jamur juga dapat menyebabkan infeksi serius, terutama pada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti anak-anak, lansia, wanita hamil atau menyusui, serta orang dengan penyakit kronis. Oleh karena itu, penting untuk memeriksa roti secara teliti sebelum mengonsumsinya.

Terakhir, seperti yang dilaporkan oleh Pemerintah Kanada, ada kemungkinan roti terkontaminasi oleh ragi "liar" selama proses pendinginan, pemotongan, atau pengemasan. Roti yang terkontaminasi ini biasanya mengeluarkan bau kimia yang mirip dengan aseton. Jika roti menunjukkan tanda-tanda tersebut, sebaiknya tidak dikonsumsi karena dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada sistem pencernaan. Oleh karena itu, lebih baik membuang roti yang terindikasi tidak layak konsumsi demi kesehatan kita.

Munculnya Rasa Tidak Nyaman

Jika tidak terlihat jamur atau bau yang tidak sedap pada permukaan roti, Anda juga perlu memperhatikan rasa roti tersebut. Roti yang baru dipanggang biasanya memiliki rasa yang khas, yaitu manis, sedikit asin, dan aroma ragi yang lembut. Jika Anda menemukan roti dengan rasa yang tajam atau asam, sebaiknya roti tersebut tidak dikonsumsi. Namun, jika roti segar Anda terasa asam, ini tidak selalu berarti bahwa roti tersebut sudah tidak layak makan, karena ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya.

Rasa asam pada roti bisa muncul akibat penggunaan ragi yang berlebihan, jenis ragi yang tahan lama, ragi yang sudah melewati masa kedaluwarsa, atau karena proses pemanggangan yang kurang matang. Oleh karena itu, sangat penting untuk memperhatikan perubahan rasa seiring dengan bertambahnya usia roti. Terutama pada roti yang tidak mengandung bahan pengawet, perubahan rasa akan lebih terasa dibandingkan dengan roti yang dibeli di toko dan mengandung bahan pengawet. Dengan demikian, perhatikan baik-baik rasa roti Anda agar tetap aman untuk dikonsumsi.

Tekstur yang Menjadi Keras

Seiring berjalannya waktu, banyak jenis makanan akan mengalami pembusukan, termasuk roti. Menurut WebMD, proses pembusukan pada roti terjadi akibat hilangnya kelembapan. Ketika pati dalam roti mulai terurai, kelembapan akan berkurang sehingga roti menjadi kering dan keras seperti batu. Meskipun kondisi ini mengurangi daya tarik roti, mengonsumsinya tidak selalu berbahaya bagi kesehatan. Umumnya, roti yang sudah basi dapat dihidupkan kembali dengan cara dipanaskan, baik menggunakan microwave atau dipanggang.

Selain itu, terdapat berbagai cara untuk memanfaatkan roti basi yang telah dikenal dalam banyak budaya di seluruh dunia. Beberapa metode tersebut termasuk membuat crouton, Panzanella, atau menggilingnya menjadi remah roti, sehingga roti basi dapat menjadi bahan yang berguna dalam memasak. Lebih jauh lagi, roti basi juga dapat digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga, seperti yang dijelaskan dalam Almanak. Beberapa kegunaannya antara lain untuk membersihkan penggiling kopi, menghapus sidik jari berminyak dari foto, menghilangkan bekas krayon atau pensil dari dinding, serta melunakkan gula merah. Namun, penting untuk dicatat bahwa semua cara ini tidak berlaku jika roti sudah berjamur, karena jamur dapat menjadi kontaminan yang berbahaya.

Pentingnya Menghindari Roti Kedaluwarsa

Mengonsumsi roti yang sudah melewati masa kedaluwarsa tidak hanya sangat mengecewakan, tetapi juga dapat mengakibatkan masalah kesehatan. Menurut Livestrong, jamur menjadi penyebab utama dari masalah ini. Meskipun satu atau dua gigitan dari roti kedaluwarsa mungkin tidak langsung berdampak buruk, situasinya tidak selalu demikian. Hal ini dikarenakan sulit untuk menentukan kapan roti benar-benar kedaluwarsa, terutama karena kita tidak bisa mengetahui jenis jamur yang mungkin tumbuh di permukaan atau di dalam roti tersebut. Setiap individu juga memiliki reaksi alergi yang berbeda-beda, yang tergantung pada kondisi tubuh masing-masing.

Rekomendasi