10 Persen Anak di Indonesia Alami Masalah Kesehatan Jiwa, Kasus Percobaan Bunuh Diri Ikut Meningkat

Menteri Kesehatan Budi mengungkapkan adanya indikasi masalah kesehatan mental pada anak-anak di Indonesia.

Ade Nasihudin Al Ansori
10 Persen Anak di Indonesia Alami Masalah Kesehatan Jiwa, Kasus Percobaan Bunuh Diri Ikut Meningkat
Masalah Kesehatan Jiwa Terindikasi pada 10 Persen Anak Indonesia, Menkes Budi: Angka Percobaan Bunuh Diri Meningkat, Jakarta (9/3/2026). (Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin) (© 2026 Liputan6.com)

Sekitar 10 persen anak di Indonesia terdeteksi mengalami masalah kesehatan mental. Hal ini diungkapkan dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk periode 2025–2026.

Dari total sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menemukan gejala kecemasan dan depresi dalam jumlah yang signifikan.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menyatakan bahwa 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan tanda-tanda cemas (anxiety disorder), sedangkan 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi (depression disorder).

"Ini menunjukkan masalah kesehatan jiwa itu besar sekali," ungkap Budi dalam konferensi pers di Kantor Kemenkes, Jakarta, pada Senin (9/3).

Dia menekankan pentingnya perhatian serius terhadap isu kesehatan mental anak, karena dapat berujung pada kematian akibat bunuh diri. Data dari Global School-Based Student Health Survey menunjukkan adanya peningkatan jumlah anak yang mencoba bunuh diri, yang meningkat dari 3,9 persen pada tahun 2015 menjadi 10,7 persen pada tahun 2023.

Budi menjelaskan bahwa masalah kesehatan jiwa pada anak tidak hanya dipengaruhi oleh faktor individu, tetapi juga oleh lingkungan keluarga, pertemanan, dan pendidikan.

"Yang perlu diperbaiki bukan hanya anaknya, tetapi juga pola asuh keluarga serta lingkungan belajar. Kita perlu mensosialisasikan life skill dan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP). Semua orang pasti menghadapi tekanan, namun yang terpenting adalah bagaimana meresponsnya dengan baik," tambahnya.

Perluasan skrining kesehatan mental CKG

Menanggapi hasil temuan tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berencana untuk memperluas program skrining CKG hingga mencakup 25 juta anak. Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi, menyatakan bahwa hasil dari skrining tersebut akan ditindaklanjuti oleh Puskesmas. Saat ini, pemerintah juga berupaya untuk meningkatkan jumlah tenaga psikolog klinis di Puskesmas, yang saat ini masih terbatas, yaitu sekitar 203 orang.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan layanan krisis kesehatan jiwa melalui Healing119.id untuk mendukung intervensi yang cepat dan efektif.

Tingkatkan peran guru bimbingan dan konseling (BK)

Dalam bidang pendidikan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendorong keterlibatan guru Bimbingan Konseling (BK) serta guru kelas untuk mendampingi siswa yang menunjukkan gejala tertentu.

Upaya untuk melakukan deteksi dini ini diperkuat dengan penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) mengenai Kesehatan Jiwa Anak oleh sembilan kementerian dan lembaga pada tanggal 5 Maret. Kolaborasi ini bertujuan untuk membangun sistem penanganan kesehatan jiwa anak yang terintegrasi, yang mencakup pencegahan (promotif-preventif) hingga pengobatan (kuratif-rehabilitatif).

Sembilan instansi yang terlibat dalam inisiatif ini meliputi Kemenkes, KemenPPPA, Komdigi, Kemendikdasmen, Kemendukbangga/BKKBN, Kemenag, Kemendagri, Kemensos, dan Polri. Melalui SKB ini, pemerintah juga berkomitmen untuk menjaga kerahasiaan data pribadi anak, sehingga dapat mencegah munculnya stigma dan memastikan bahwa setiap anak mendapatkan perlindungan kesehatan mental secara menyeluruh, baik di lingkungan sekolah maupun dalam keluarga.

Bunuh diri bukanlah solusi

Bunuh diri bukanlah solusi atau jawaban terhadap berbagai permasalahan hidup yang sering kali membebani kita. Jika Anda, teman, saudara, atau anggota keluarga yang Anda kenal sedang menghadapi masa-masa sulit, mengalami depresi, atau merasakan dorongan untuk mengakhiri hidup, sangat penting untuk segera menghubungi profesional kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan terdekat seperti Puskesmas atau Rumah Sakit.

Anda juga dapat mengunduh aplikasi Sahabatku melalui tautan berikut: Sahabatku. Selain itu, Anda bisa menghubungi Call Center Halo Kemenkes yang tersedia 24 jam di nomor 1500-567 untuk melaporkan berbagai keluhan, meminta bantuan, atau memberikan saran kepada pihak berwenang.

Jika Anda lebih memilih cara lain, Anda dapat mengirimkan pesan singkat ke nomor 081281562620, mengirim faks ke (021) 5223002 atau 52921669, serta menghubungi alamat surel di kontak@kemkes.go.id untuk mendapatkan bantuan lebih lanjut.

Rekomendasi