Seorang wanita di Amerika Serikat hampir kehilangan nyawanya setelah melakukan kebiasaan sederhana meregangkan leher yang berujung pada stroke.
Kasus yang dialami KayLynne Felthager ini menjadi pengingat akan bahaya serius dari cedera leher, bahkan akibat gerakan yang terlihat sepele.
Insiden ini dimulai ketika Felthager sedang mengemudikan mobilnya pulang dari sebuah toko. Ia merasakan sakit kepala dan secara otomatis meregangkan lehernya ke kanan untuk meredakan ketegangan, sebuah kebiasaan yang sering dilakukannya setelah seharian bekerja.
Namun, kali ini, setelah mendengar bunyi dari lehernya, ia merasakan nyeri tajam yang tidak biasa. Rasa sakit tersebut tidak kunjung reda dalam beberapa hari ke depan.
Felthager memilih untuk mengonsumsi obat pereda nyeri tanpa berkonsultasi dengan dokter. Lima hari kemudian, kondisinya memburuk.
Saat itu, seperti yang dikutip dari laman Oddity Central, Senin (2/2/2026), ia sedang duduk di dapur dan merias wajah sebelum keluar rumah.
Tiba-tiba, ia melihat kilatan cahaya terang di depan mata kanannya, diikuti dengan hilangnya penglihatannya. Sekitar 15 menit kemudian, penglihatannya kembali normal, dan ia mengira itu hanya gangguan sementara.
Namun, tak lama setelah itu, sisi kanan tubuhnya mulai terasa kesemutan dan mati rasa. Kondisi semakin mengkhawatirkan ketika ia mengalami kesulitan berbicara dengan jelas, di mana ucapannya terdengar tidak terartikulasi. Melihat keadaan tersebut, suaminya segera membawanya ke rumah sakit.
Setelah menjalani pemeriksaan CT scan, terungkap bahwa Felthager mengalami stroke. Setelah mendengar riwayat nyeri leher yang dialaminya beberapa hari sebelumnya, tim medis menyimpulkan bahwa peregangan leher tersebut mengakibatkan diseksi arteri atau robekan pada dinding pembuluh darah yang memicu pembentukan gumpalan darah dan menghambat aliran darah ke otak.
Beruntung, gumpalan darah itu dapat larut dengan cepat, sehingga tidak diperlukan tindakan operasi. Kini, Felthager telah pulih sepenuhnya.
Dokter menekankan bahwa leher adalah area tubuh yang sangat sensitif. Dalam beberapa kasus, gerakan mendadak atau peregangan yang berlebihan dapat menyebabkan cedera pada pembuluh darah dan berpotensi berujung pada stroke.
Pengalaman ini, menurut Felthager, mengubah pandangannya terhadap kesehatan. Ia menyadari betapa cepatnya kondisi serius dapat terjadi, bahkan akibat kebiasaan yang selama ini dianggap tidak berbahaya.